Recents in Beach

header ads

Kaum Intelektual Gunung Para Dewa Dipertanyakan ?

Oleh : Harry Purwanto

Semua orang sudah tahu, jika mahasiswa dalah agent of change atau agent perubahan bagi dirinya, daerah, bangsa dan negaranya. Namun, banyak mahasiswa yang sudah lupa dengan semangat dalam diri sebagai kaum intelektual.

Mahasiswa adalah kaum terpelajar dihormati, disegani dan ditakuti akan ilmu yang didapat dari lembaga pendidikan formal. Saking kaya akan pengetahuan yang didapat secara teoritis, tetapi sedikit mahasiswa beraplikatif dengan ilmunya.

Saya yang pernah menjadi mahasiswa sangat miris melihat para kaum intelektual di kaki gunung para dewa yang lebih suka, main game, jalan-jalan tanpa tujuan, cangkru'an di warung kopi atau cafe dengan ngobrol ngalor ngidul dan pacaran. Yang lebih parah, mahasiswa di Kerajaan Lamajang tidak peduli dan bersikap apatis apa yang terjadi dengan kotanya.

Toko buku, perpustakaan dan penyewaan komik serta buku sepi pengunjung dari kalangan kaum intelektual itu. Padahal ditempat yang disebutkan saya adalah gudang akan ilmu pengetahuan.

Melihat fenomena mahasiswa di kota kelahiran, seakan memang dibentuk atau sudah menjadi ciri khas yang sudah dibudayakan. Sementara roda ekonomi, pembangunan dan pemerintahan di Lumajang terus mengalami kemajuan pesat dengan praktek transaksi politik yang bisa menyebabkan kehancuran kotanya.

Terkadang ada oknum mahasiswa yang terjebak dalam permaian pragmatis opurtunis oleh sebuah kekuasaan dengan janji manis palsu. sehingga idealis sebagai kaum intelektual-Mahasiswa digadaikan begitu cukup murahan alias recehan.

Mahasiswa di Lumajang bisa belajar dengan seorang aktivits tahun 66 yakni Soe Hok Gie, yang mana dia mampu meletekan prinsip idealisme dengan keluar dari bayang-bayang intervensi kekuasaan negara dan memilih keluar dari mainstream intelektual yang cenderung melakukan persekutuan dengan kekuasaan. Sehingga mahasiswa harus bisa memilih antara prinsip etis sebagai orang yang harus berjaga jarak dengan kepentingan dalam hingar bingar kekuasaan.

Bukan hanya Soe Hok Gie yang meninggal di Gunung Semeru saat melakukan pendakian diserang Hipotermian. Seorang aktivis Aksi Malari 74 yang menolak investasi asing, Hariman Siregar, dia rela menjadi aktivitas parlemen jalanan ketimbang duduk manis di kursi empuk sebagai anggota dewan/ wakil rakyat atau birokrasi. Hariman lebih suka menjadi aktivitis yang siap memberikan kritikan dan saran bagi kekuasaan bila menindas kaum bawah (rakyat).

Kedua aktivitas yang lahir dijamanya, memang sudah memberik contoh nyata, bahwa kaum intelektual sangat rentan untuk mampu dibeli oleh kepentingan kekuasaan baik pemerintah dan pemilik modal. Apakah idealis seorang kaum intelektual akan dibeli dengan cara recehan untuk kepentingan sesaat, jangan heran bila tindak tandu mahasiswa kerap dipertanyakan ?.

Saatnya mahasiswa khusunya Lumajang untuk melakukan perubahan dan mengambil peranan penting bagi kotanya yang kini terus mengalami kemajuan ekonomi dan pemerntahanya. Sudah waktunya mahasiswa di kaki Gunung Para dewa bangkit dan melakukan perubahan mendasar bagi kotanya.

Meminjam ungkapan Edward W. Said "Bungkam Pada Penindasan adalah penghianatan Terbesar Kaum Intelektual". Dengan pernyataan tokoh Indonesia ini, perlu dilakukan perenungan bagi orang yang mengaku Mahasiswa atau yang pernah menjadi mahasiswa.

Tokoh sekaliber Soekarno pernah mengungkap, Untuk membangun bangsa indonesia, saya tidak perlu senjata, uang atau harta. Tapi beri saya 5 pemuda untuk memajukan bangsa ini. (har)

Post a Comment

0 Comments