Recents in Beach

header ads

Arkeolog Berjilbab Tersesat di Kota Sepi

Yudi, Mbak Aries, Mbak Elok dan Aku
di Candi Gedhong Putri - Candipuro


Saya menggenal perempuan yang satu ini akhir tahun 2010 lalu, dikarenakan kepedulian terhadap benteng kotaraja Lamajang "Situs Biting " di Dusun Biting Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono, yang lama terkubur 700 tahun.

Saat berkenalan dengan perempuan berjilbab dan suka memakai lipstik merah merekah, kesanya low profile dan sukanya serius melulu. Ternyata yang saya sangka keliru, orangnya ramah, terbuka dan asyik diajak ngobrol soal sejarah dan bisa menerima kritikan serta saran.

"Namaku Aries Purwantiny," tutur perempuan yang murah senyum dan suka kerudung merah itu.

"Saya lulusan Arkeologi Udayana bali," tambahnya.

Saya juga heran seorang lulusan kuliah Arkeologi kok ngakunya seorang arkeolog. Biasanya seorang arkeolog adalah orang yang berkerja diinstansi atau perusahaan yang suka meneliti peninggalan sejarah.

"Seorang arkeolog adalah orang yang lulus kuliah arkeologi dan melakukan penelitian, kalau seperti saya adalah arkeolog pihak ketiga alias dana sendiri, karena kepedulian aja dan mengaplikasi ilmu," ungkapnya.

Waduh perempuan satu ini, gak salah kumpul atau tersesat di Kabupaten Lumajang yang pemerintah sangat jarang suka sama orang yang peduli soal sejarah kota yang pernah dipimpin Arya Wiraraja sang Arsitek Nusantara pendiri Kerajaan Majapahit. Sebab pemimpin Lumajang lebih senang warganya dijadikan budak untuk mendukung program pemerintah.

"Seng Penting Yakin Usaha Sampai," ujar perempuan satu anak itu.

Setiap hari perempuan ini bergulat dengan waktu untuk melakukan penelitian dan turun langsung ke lapangan untuk mengecek setiap sisa peninggalan sejarah Kota Lumajang bersama aktivitas Masyarakat Peduli Peninggalan Mojopahit (MPPM) Timur. Dia juga harus membagi waktu kapan menjemput sang buah hatinya dengan memperjuangkan situs Biting dan peninggalan sejarah lainya yang dibiarkan rusak.

"Pintar-pintar membagi waktu aja, yang penting anakku tetap sekolah dan Happy," ungkap Aries yang harus tinggal berjauhan dengan suaminya Rahmat Hidayat yang berkerja di Bank Swasta di Jember.

Saking peduli, sang anak kerap dibawa untuk melakukan penelitian dan diskusi dengan para aktivis MPPM Timur serta Komunitas Mahasiswa Peduli Lumajang. Sungguh perempuan yang tangguh dan berdedikasi dalam ilmu yang didapatnya dalam kuliah di pulau Dewata.

Cobaan datang pada perempuan ini , saat BP3 Trowulan melakukan sosialisasi UU no 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam kegiatan sosialisasi diadakan oleh Pemkab Lumajang yakni Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya, Aries oleh salah satu peserta sosialisai dianggap agen dari bali untuk membuat pure dan menyebarkan agama hindu di Lumajang.

Namun perempuan yang murah senyum dan tetap taat dengan agama serta kenyakinan hanya menahan nafas dengan tuduhan yang tidak mendasar.

"Soal saya dianggap agen orang bali atau Hindu karena lulusan Arkeologi Udayana, apa mereka tidak melihat saya pakai jilbab, bukanya saya ingin diperhatikan," ungkapnya.

Meski halangan dan hambatan dalam penyelamatan situs biting dianggap agen Bali, Aries tetap semangat menatap kedepan dalam penyelamatan situs peninggalan sejarah di Lumajang. Bahkan, sang suami yang mendukung dalam setiap kegiatanya, semakin memperkuat kenyakinan.

"Alhamdulilah suami saya mendukung dan aku tak ingin mengecewakannya, apalagi anakku yang selalu ikut," papar Wanita tinggal di Lumajang sejak tahun 2008.

Selangkah demi selangkah, akhirnya Aries menjadi kepala Museum Mini Rakyat Biting, jabatan yang dianugerahkan bukan hasil dirinya sendiri ingin menjadi orang yang merawat museum, melainkan karena tidak ada aktivis MPPM Timur dan KMPL yang bisa merawat serta mendata.

"Kok aku dijadikan kepala, saya ini tukang lap, tukang sapu dan sukanya jadi babu aja," ungkap Aries yang tak menyangka harus dijadikan seorang yang mengurus Museum masyarakat Biting.

Melihat sepak terjang perempuan satu ini, saya kaget dan heran, karena dalam sebuah Film, seorang arkeolog itu tampilanya nyetrik dan sukanya pakai baju coklat dan meneliti peninggalan sejarah didunia. Ini arkeolog yang muslimah taat dan berdedikasi dalam pekerjaan meski tidak digaji.

"Ini soal sejarah Nusantara, siapa lagi yang mau peduli, ayo bareng-bareng kita kenalkan Lumajang adalah sebuah kota yang memiliki peninggalan yang cukup besar dan berpengaruh,' terang Mantan Guru Sejarah di SMA Muhammadiyah di Denpasar-Bali.

Saya tidak menyangka seorang arkeolog berjilbab dari luar Lumajang peduli dengan Kota sepi dan kantong. Kalau boleh aku menyamakan perempuan ini, seperti tokoh di Film "Perempuan Berkalung Surban".

Terimah kasih banyak Mbak Aries, "Yakin Usaha Sampai" itu yang saya ingat dari sampean, bila kelak kita berpisah. Lumajang Wirabhumi Perjuangan Tiada Henti. (Harry Pewe)

Post a Comment

0 Comments