Recents in Beach

header ads

Penjual Nasgor “Sejarawan” Terasing di Kotanya Sendiri



Mengenal sosok penjual nasi goreng yang peduli dengan sejarah Kota Lumajang-Jawa Timur oleh sebagian orang dipandang sebelah mata karena sebuah pekerjaanya. Namun, Mansur Hidayat berbekal lulusan kuliah di Fakultas Jurusan Sejarah di Pulau Dewata adalah sarjana yang tidak mengetahui sejarah kotanya sebuah kerajaan besar dizaman.

Kepedulian Mansur terhadap peninggalan sejarah Lumajang berawal saat kakaknya, Istianah, kerap didatangi mimpi oleh seorang kakek berbaju putih dengan rambut kuncung dikelilingi puluhan prajurit dengan tombak dan tameng. Saat melakukan ziarah dimakam minak Koncar didusun biting Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono. Sang kakak yang memiliki indera ke enam merasakan dirinya berada disebuah kotaraja yang cukup besar dan ada energi yang mengajak ke masa lalu. Saat bertanya pada tukang bersih kuburan Minak Koncar, Biting adalah sebuah benteng peninggalan kerajaan Lamajang Kuno.

Mansur berbekal lulusan Sejarah, kembali membuka buku  yang lama sekali tidak buka. Melihat sebuah situs biting  ada pembangunan perumahan nasional. dia terheran-heran dengan pemerintah Lumajang yang tidak peduli peninggalan sejarah. Berbekal mantan aktivis mahasiswa di Udayana-Bali, Mansur bersama para orang-orang suka melekan (Spiritual dan Dukun) memberanikan diri untuk menyelamatkan peninggalan sejarah yang cukup besar itu.

“Saya trenyuh dengan peninggalan sejarah yang tidak terawat dan dibiarkan rusak, beruntung ada para spiritual yang peduli, jadi kami beranikan audensi dengan pemerintah,” kata Mansur menceritakan awal peduli dengan sejarah dan peninggalan kerajaan Lamajang.

Dengan bekal semangat dalam menyelamatan situs biting, akhirnya terbentuklah Masyarakat Peduli Peninggalan Mojopahit (MPPM) Timur. Kebetulan nama yang diambil setelah membaca buku  Tafsir Negara Kertgama yang disusun oleh Slamet Muljana. Akhirnya, dengan semangat pelurusan sejarah Lumajang, akhirnya Mansur bersama rekan-rekanya bisa melakukan Audensi dengan pemerintah daerah.

Meski telah beraudensi, pemerintah bukannya segera melakukan penyelamatan situs biting yang terancam perumahan, malah menghambat aktivis MPPM Timur. Berkat bantuan dari sejumlah jurnalis di Lumajang dan Aktivitas Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) yang turun langsung dari Jogyakarta ke Lumajang. Akhirnya pemerintah membetuk, Tim Pelestarian dan penyelamatan Benda Cagar Budaya.

“Alhamdulillah, meski agak alot, pemerintah akhirnya peduli  berkat dukungan masyarakat Lumajang, BP3 Trowulan dan Madya,’ ungkap bapak satu anak itu.

Tim Pelestarian dan penyelamatan Benda Cagar Budaya bukannya berjalan lancar, tetapi aral melintang masih saja ada. Keseriusan pemerintah dalam pelurusan sejarah kota dan peninggalan, Tim yang dibentuk tidak berjalan efektif dan hanya lips service. Bahkan, saat BP3 Trowulan melakukan sosialisasi UU no.11 tahun 2010 tentang cagar budaya, Dua Orang MPPM Tmur Mansur Hidayat (Sejarawan) dan Aries Purwanity (Arkeolog) yang lulusan Udayana Bali, dianggap sebagai agen bali untuk pembanguan pura di situs biting. Mansur hanya tersenyum dan melihat aneh tingkah pola peserta sosialisai yang kebetulan dari LSM yang pro pemerintah.

“Soal saya disangka agen bali biasa saja, entar kalau aku lulusan dari Amerika, nanti disangka agen Amerika, malah tambah gawat. Ini Demi Lumajang dan Nusantara, biarkan mereka menuduh yang tidak-tidak,” ujar pria asal Tempeh Tengah Kecamatan Tempeh.

Mansur berharap pemerintah mendukung kegiatan dari MPPM timur dalam penelusuran sejarah dan menginfektifkan kerja Tim Pelestarian dan Penyelamatan Benda Cagar Budaya. Sehingga masyarakat Lumajag tahu akan sejarah kotanya yang merupakan sebuah kerajaan besar di zamanya yang dalam sejarah dikenal Kerajaan Lamajang, Mojopahit Timur dan Wirabhumi dalam buku-buku sejarah serta buku penelitian.
Mansur berharap selain penyelamatan situs peninggalan sejarah dan benda cagar budaya, Lumajang bisa dikenal sebagai daerah budaya dan mejadi obyek wisata bila dikelola lebih baik oleh instansi terkait dengan pemberdayaan masyarakat. Meski MPPM Timur yang dinahkodai Mansur terus diterpa isu tidak sedap, setapak demi setapak dukungan masyarakat mengalir.

Mengambil pernyataan (kutipan) Soe Hok Gie, Aktivis tahun 66 yang meninggal dunia saat mendaki Gunung Semeru ““Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!”,inilah semangat yang terus dilakukan Mansur. Sebagai pengagum Ir. Soekarno, Mansur hanya  ingat dengan kata-kata “JASMERAH”, jangan sekali-kali melupan sejarah. Lumajang Wirabhumi Perjuangan Tiada Henti. (Harry Pewe)

Post a Comment

0 Comments