Recents in Beach

header ads

Warisan Ilmu Bapak Bermanfaat dari pada Harta



Sudah 7 tahun, saya berpisah dengan Bapaku yang meninggal dunia karena sakit darah tinggi hingga storke saat berkerja sebagai penjual terang bulan keliling di bumi Ranggalawe-Tuban tahun 2004 lalu. Bapak adalah sosok suami yang sabar, bijaksana dan penuh tanggung jawab dalam keluarganya.

Nama bapaku Sudar alias Hartono, dia lulusan Sekolah Rakyat (SR) dan Mondok disejumlah pondok pesantren di Pasuruan dan Probolinggo. Dia adalah seorang yang religius nasionalis karena ilmu yang didapatnya di ponpes salafiyah dan terakhir mondok di Sumber Kedawung-Leces Probolinggo.

Sejak masuk TK, saya sering diajak bapak kerumah nenek, kerumah teman-teman sekolah SR dan Mondoknya. Ternyata, bapakku adalah sosok teman yang enak diajak bicara soal apapun, baik agama, pekerjaan dan keluarga. Bahkan sering dimintai pendapat soal permasalahan yang melanda temanya dan keluarga besar bapak dan ibu.

Meskipun lulusan SR dan Mondok Salafiyah, Bapak kaya akan ilmu agama, sosial, politik dan pertanian. Yang saya heran, bapak bisa berbahasa inggris dan arab dengan fasih, saya yang masih kelas nol besar TK terheran-heran dan tak menyangka memiliki seorang bapak yang begitu luas pengetahuanya.

Saya ingat bapak ketika ngobrol, diskusi atau berdebat dengan teman-temanya serta keluarga “Saya akan wariskan ilmu pada anaku, bukan harta dunia”, kata bapaku yang sampai saat ini aku ingat.

Untuk menyekolahkan anaknya, bapak rela merantau ke kota orang untuk membiayai pendidikan anaknya menjadi penjual terang bulan dan pulang sebulan atau 2 bulan sekali. Bapak harus merantau karena hanya memiliki 2 petak sawah dan Ibu berjualan gorengan di pasar Dawuhan Wetan.

Bapak sesosok laki-laki yang tidak mudah marah dan sering mengalah bila ada masalah didalam keluarganya. Bapak paling malas bertengkar dengan sang istri tercinta atau berdebat dengan sang anak. Dia seorang yang demokratis dalam keluarga, sehingga sang anak bebas memilih hidupnya dan tidak melarang untuk ikut organisasi.

“Bapak tidak melarang kalian ikut organisai apapun, sing penting dapat ilmu yang bermanfaat,” tutur Bapak padaku.

Bapak dan Ibu sangat antusias untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Bahkan untuk kedua anaknya, Aku dan Kakak suruh bekerja dulu dan kemudian kuliah. Maksud kerja dulu, agar biaya kuliah tidak membebani bapak dan ibu yang kerjanya hanya sebagai petani kecil dan wiraswasta yang cukup untuk kebutuhan mengarap sawah dan makan sehari-hari.

“Bapak dan Ibu hanya bisa mendo’akan kalian dengan kuliah mendapat ilmu bisa menjadi orang kelak,” kata Bapak dan Ibu saat anaknya bekerja sambil kuliah.

Saya dan kakak yang mengerti bagaimana roda ekonomi keluaraga yang pas-pasan dan tidak bisa mendanai anaknya kuliah akhirnya memilih bekerja dulu. Namun, kakak tidak seberuntung saya, kakak harus bekerja dahulu untuk bisa kuliah. Sedangkan aku, masih bisa kuliah Diploma.

Yang masih aku ingat, saat kakaku ingin kuliah kedokteran dan menyampaikan pada bapak dan ibu, bukanya senang, mereka berdua seakan kesambar bledek. Maklum biaya kuliah kedokteran cukup mahal disaat itu, kakaku mencoba ikut UMPTN dengan biaya sendiri kandas alias tidak lulus. Karena tidak lulus, kakaku harus menunda kuliah dan menjadi pengangguran.

Seingatku, kakak untuk mengisi waktu tidak kuliah harus berjualan gambar dan menjadi penjual terang bulan di Surabaya. Ternyata tempaan hidup yang keras dari Bapak dan Ibu, membuat kakak dan saya mengerti betapa sulitnya hidup serta mencari uang.

Akhirnya dengan keterbatasan biaya kuliah dari kedua orang tua kami, membuat anaknya semakin terasah dalam menghadapi hidup. Berbekal omongan bapak “Ilmu bisa mengubah hidup seseorang, maka belajarlah dengan rajin” menjadi semangat saya untuk hidup lebih baik. Kembali pada tulisan diatas, Ilmu sangat berguna untuk kehidupan ketimbang Harta. Maka wariskanlah anak cucu kita kelak dengan ilmu yang bermanfaat bukan harta. Saya ingat dengan ilmu agama islam, orang mati tidak membawa harta melainkan, Ilmu Yang Bermanfaat, Amal Soleh dan Do’a Anak Soleh.

Post a Comment

0 Comments