Recents in Beach

header ads

88 Tahun Merajut Prestasi Sepak Bola Indoinesia



Olah raga sepak bola memang bukan produksi asli dalam negeri (pribumi).  Bola sepak dikenalkan oleh bangsawan VOC yang menjajah negeri ini, sebagai olahraga kelas atas dijamannya. Ya, zaman itu 1900, hanya dimainkan oleh kalangan Borjuis. Bangsa ini hanya jadi penonton, tapi kehebohan sepak bola eropa sudah sampai ke telinga para anak pribumi golongan ningratyang sekolah ke negeri Kincir Angin.

Anak bangsawan yang masih mencintai negeri ini saat pulang ke negeri bernama Hindia Belanda, kaget.  Sepak bola yang biasanya dimainkan kelas proletar/buruh dan rakyat jelata, tapi dilarang dinegerinya sendiri.

Tidak jarang tertempel tulisan “Verboden voor Inlanders en Houden” atau “Dilarang Masuk untuk Pribumi dan Anjing” di setiap pintu lapangan sepak bola.

Tak mau menyerah, kaum pribumi membuat klub sendiri dengan memakai Bola terbuat dari ikatan kain dan karet. Bahkan, mereka sering membuat kompetisi sendiri. Dari situlah berdiriPersatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia(sekarang PSSI). Perkumpulan ini dipimpin oleh Ir Soeratin Sosrosoegondo.

Hingga akhir tahun 1938, ada kehebohan saat panitian piala dunia sepak bola dunia yang kini disingkat FIFA mengundang menjadi peserta. Terjadilah polemik, dimana induk organisasi sepak bola belanda NIVU beranggapan paling pantas ke pesta bola sejagad itu. Akhirnya, terlibat argumentatif yang paling pantas mewakili, PSSI yang merupakan organisasi sepak bola pribumi melayangkan protes. Kemerdekaan dalam sepak bola harus diperjuangkan untuk mewakili ke piala Dunia, dengan komposisi pemain NIVU dan PSSI kala itu.

Begitu gila rakyat Indonesia pada sepak bola, Ir. Soekarno yang melihat ada rasa nasionalisme. Kemudian, olahraga orang 11 melawan 11 orang menjadi salah satu pergerakan mempersatukan bangsa melalui perjuangan. Hingga, saat Indonesia merdeka, Bung Karno melakukan revolusi olahraga sepak bola dengan membangun Stadion Melingkar yang kini dikenal "Gelora Bung Karno".

Bung Karno sendiri mengatakan," Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi makan kepada jiwa-jiwa yang telah diinjak-injak (kolonialisme) dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan mereka—inipun penting."

Sepak bola di Lumajang juga paling disukai masyarakat.  Disetiap Desa pasti ada lapangan bola kaki, bahkan disejumlah area perkebunan yang dulu dikuasai Konglomerat Koloniah ditanah Persil ada lapangan bola. Lumajang juga dikenal pemasok pemain bola disejumlah klub di Jawa Timur dan Nasional diberbagai kompetisi baik Perserikatan dan Galatama.

PSIL (Persatoean Sepak Bola Indonesia Loemadjang) merupakan klub perserikatan yang juga sebagai pendiri dari PSSI Jawa Timur gudang dari kawah candradimuka pesepak bola kaki gunung Semeru. Kini ada klub profesional Semeru FC sejak 2017 berkompetisi liga 2 Indonesia. Semua ini untuk mewadahi pesepak bola Lumajang.

Kini sepak bola telah modern, cita-cita bermain di Piala Dunia terus dirajut oleh PSSI. Usia 88 tahun bagi Organisasi bola  memang tak lagi muda, harapan anak bangsa, kompetisi dinegeri ini lebih maju dan bisa melahirkan pesepak bola dunia. Bukan hanya ramai didalam negeri dan buntung di negeri orang. Jayalah sepak bola negeriku. Bangkitlah sepak bola Lumajang.

Lumajang, 18 April 2018

Post a Comment

0 Comments