Recents in Beach

header ads

Lahirnya Kaum Inner Force Lumajang



Beberapa hari ini, saya bertemu banyak kawan yang awalnya diam dengan sorot mata tajam. Mereka membungkam diri dalam sebuah kesunyian kota bersejarah bernama "Wirabhumi".

Diberbagai kesempatan, waktu dan ruang, saya mulai menyapa dan mengajak bicara. Awalnya, mereka menutup rupa dan ide segarnya untuk berbagi. Secangkir kopi dan sebatang rokok mengajak dialektika intelektual kekinian.

Satu,  dua, belasan dan puluhan inner force bermunculan, tapi belum terangkai dalam sebuah bingkai lukisan mimbar kehidupan kaki Gunung Semeru. Mereka, memilih diam dan bergerak dalam kesunyian dan pojok-pojok perenungan diri.

Mereka mengasingkan diri, bukan diasing dari sebuah kemunafikan tatanan kemandegan kota bersama penghuni penuh transaksionis. Mereka sadar akan cara inlander kelompok demi pemenuhan materilistis nafsu kuasa.

Inner Force memilih jadi pengamat dan bertindak menghindari kejumudan demokrasi transaksi. Langkah kompromi dipilih demi bertahan dari maling orginilitas pikir. Arus perubahan sekaan mengajaknya terlibat dibalik topeng kerakyatan melalui barter balutan siasat.

Keadaan terbuka relasi kuasa ditampilkan demi legalkan misi sepi akan hamparan hitam putih kebijakan. Inner force terus amati tembok kebuntuan melalui keahlian di dapat dari jeritan meja intelektual. Mereka memilih Nggiwar dari arus umum masyarakat ter-kontruksi.

Tan mengajak inner force dalam bingkai kemandirian, kemanfaatan dan kemasyarakatan. Ilustrasi kecil Republik bukan ada ditangan pengabdi bertopi lipat dalam klaim Bonum Commune. Asketisme Intelektual bukan dalam bentuk produk kebijakan, tapi langka kebajikan bersemanyam bagi menjalani.

Bung masih setia dalam jalanan desa merangkai marhaenis kehidupan. Menata mental ditengah degradasi moral bangsa penuh transaksi. Street of Games makin menampilkan keluh penuh kebohongan dalam transaksional diri. Merdeka digaungkan ketika perampasan  dijalankan dalam janji kemakmuran dan keadilan sosial.

Inner Force bukan petapa kersyian dalam abdi shiva. Berjalan didalam kesunyian ditengah kegaduhan modernitas klaim. Pemikir bukan penerobos kebuntuan jika masih berdiam menunggu waktu tak bisa diulang. Isilah pojok dan ruang waktu bergerak dalam diam dan membisu didinding modernitas absurd. Mengikuti arus bukan pilihan inner force, tapi bergerak dalam kesunyian merangkai identitas jatidiri daripada berjalan ditengah kemunafikan hidup. Salam kenal kaum inner force.

Post a Comment

0 Comments