Recents in Beach

header ads

Mudik #ilikelumajang



Lebaran kali ini, banyak sekali teman yang mudik mulai berdatangan ke Lumajang.  Mereka salut adanya perubahan pembangunan pada kota ini.  Apa saja kekaguman mereka? coba saya ulas satu persatu.

Saat masuk ke Lumajang, tepatnya diperbatasan utara ada icon kesenian khas, patung jaran kencak. Kemudian,  ada hiasan taman bunga dengan vas super besar. Selain itu,  warna gapuran masuk Kabupaten Lumajang khas.

Ke selatan sedikit, ada wajah Pasar Wates Wetan dengan tulisan "Pasar Pisang". Ini meneguhkan, jika Lumajang penghasil pisang di Jawa Timur sebagai pemasok utama kota di pulau Jawa dan Bali.

Keselatan lagi, jalanan antar Kota dalam Provinsi Lumajang-Jember semakin mulus. Setiba di Klakah, wajah Stasiun bersejerah itu makin bersolek. Setiap hari Kereta Api berhenti mengangkut maupun menurunkan penumpang. Moda transportasi sebagai penghubung pusat perkebunan VOC itu, tidak lapuk dimakan jaman dan tetap jadi pilihan rakyat Indonesia dikala mudik.

Memasuki Kedungjajang,  pemudik disambut dengan Kawasan Wonorejo Terpadu bersolek dengan hiasan dan taman. Meneguhkan sebagai Kota Bersejarah ada Museum Daerah berdiri tegak untuk sebuah informasi Lamajang dari zaman ke zaman.   Di pertigaan Wonorejo ada taman dengan air mancurnya. Tiga buah patung berdiri tegak semakin meneguhkan Kota ini, memiliki peradaban kebudayaan luar biasa hasil pengendapan perungan karya seni tinggi. Pojok Tenggara ada taman Bhumi Arya Wiraraja dwngan patung khas petani bawa cangkul dan pisang.

Kemudian saat melintas Sungai Bondoyudo, merupakan jalur transportasi dari Situs Biting "Kotaraja Lamajang" memiliki nilai sejarah dengan cerita mistisnya.  Dari cerita-cerita, jika ada pendatang melintas sungai tanpa berdo'a, bisa mendapatkan jodoh orang Lumajang dan bakalan menetap lama. Karena, mereka kagum dengan kegagahan pemuda dan kemolekan perempuan Lamajang. Dari sebuah cerita, Hayam Wuruk Raja Majapahit untuk meredam pemberontakan rakyat Lamajang terus menerus usai Patih Nambi tewas dalam perperangan, harus menikahi perempuan kaki Gunung Semeru sebagai langkah politiknya. Ya, itulah secuil sejarah kota ini.

Ke selatan terus, kita akan disajikan taman dengan tugu penghargaan Adi Wiyata dan Adipura sebagai kota bersih.  Meski pertokoan kota tetap seperti dulu, dengan rekayasa lalu lintas sedikit berubah. Belok kiri dari Tugu Adipura, jembatan penghubung diatas sungai Kaliasem sudah berhiaskan lampu. Kemudian disambut tugu perjuangan Lumajang dengan tamanya. Ada name tag,  Alun-alun Lumajang warna merah menyala laksana lava pijar Semeru.  Alun-alun dulu berpagar, kini sudah tak lagi. Ada 4 titik air mancur dan sepanjang trotoar ada kursi duduk. Jantung kota ini seakan mewakili geografis Lumajang nan hijau bak permadani (bila dipotret dari udara).  Masjid Anas Mahfud sangat gagah sebagai meneguhkan mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Nama Anas Mahfud diambil karena Tokoh Syiar Islam dan juga pendiri Nahdlatul Ulama Lumajang.

Bagi pemudik arah ke Tempeh, Pasirian selatan, jalanan Provinsi sudah mulai mulus. Meski ada beberapa titik belum semulus paha kita sebagai manusia. Dulu, Lumajang dikenal kota buta, karena belum banyak rambu penjuk arah tak terpasang.  Kini sudah lengkap, bukan hanya menunjukan jalan, daerah,tapi tempat wisata. Duh, makin hari Lumajang terus bersolek, membuat rindu warganya yang merantau atau sudah pindah KTP.

Ya, Hastag (Tanda Pagar) I Like Lumajang ditulis oleh pemudik sebagai bentuk spirit meneguhkan memajukan daerah kelahiran. Bagi, saya sendiri kemajuan kota ini tak lepas peran semua anggota masyarakat Lumajang, peduli dan mencintainya. Dihari nan fitri kali ini, semoga kita tetap menjaga silaturahim dan Allah melindungi kita semua. Selamat mudik dan pulang kampung saudaraku semuanya. Lumajang miliki kita.

#lumajang #ilikelumajang #mudik #mudiklumajang

Lumajang, 4 Juni 2018

Post a Comment

0 Comments