Recents in Beach

header ads

Santri Ngaji Ben Aji



Ini cerita saat aku masih kecil. Disebuah desa yang tentram dengan budaya kolot dan kesederhanaan. Semua warganya bekerja sebagai petani dan buruh sawah. Hanya sebagian kecil menjadi pengabdi Negera,itupun didominasi pendatang berprofesi Guru dan Penyuluh pertanian.

Masa kecilku begitu bahagia,bisa bermain ke sawah dan mandi sungai. Segala permainan dari alam dan lingkungan sekitar. Pelepah pisang dibuat jadi kuda-kudaan, senjata buat perang-perangan untuk anak laki. Bagi anak perempuan dibuat bahan jual-jualan atau rumah-rumahan. Permainan ini diturun temurun kan dari kakek, bapak ibu, kakak dan adik-adik kampung.

Begitu bahagianya kala itu, kreatifitas dan pergaulan sportif dikala bermain. Keahlian dan ketrampilan setiap anak diakui sebagai identitas diri. Setiap hari wajahku belepotan debu dan cellot "Lumpur". Baju main selalu kotor, kecuali baju untuk lebaran selalu tertata rapi, itu karena kalau bisa mampu beli lagi. Kata bapak dan ibuku, buat makan sehari-hari aja hanya dari hasil bertani, jika panen dan ada simpanan dari jual padi dan jagung. Begitu berharganya dari hasil keringat jadi anak petani dengan 3 petak sawah.

Usai sekolah Taman Kanak-kanak, Aku mulai diikutkan kakak untuk menjadi Santri Ngaji di kiai kampung dengan langgar sederhana. Awal ngaji, jangankan baca huruf Hijaiyah baca bismillah ditertawai teman-teman. Apalagi,kebanyakan main membuat mata kantuk.

Di suatu hari, ada ngaji kitab. Aku yang paling kecil duduk dibelakang dan kakak didepan menulis huruf Arab tanpa harokat. Sang Kiai, bercerita begini kurang lebihnya. Kenapa seorang anak disuruh Ngaji, biar jadi orang berguna dan berhati luas menghadapi kehidupan.

"Ngaji itu biar orang tambah Aji," ujar Kiaku.

Jadi manusia aji, biar bermanfaat dimasyarakat dan tidak memiliki hati buruk. Karena sejatinya, manusia itu ciptaan Allah yang memiliki, Pikiran, Akal dan Nafsu. Mahluk paling lengkap dibanding ciptaan sang maha kuasa di dunia. Ngaji bukan soal bisa baca huruf Arab,tapi bisa tahu arti dan memahaminya. Sehingga dalam kehidupan sehari terwujud dalam akhlak bukan bicara. Orang Ngaji itu bukan dilihat dari cara pakaian dan bicara. Orang Ngaji itu dari Hati dan tindak tanduknya di masyarakat menghadapi persoalan yang muncul.

Kemudian, Kiaku yang ku panggil "Mamak Kamsu", menjelaskan kenapa seorang yang Ngaji di panggil Santri. Menurutnya, biar manusia berhati-hati, tidak mudah mengambil keputusan. Alias jangan sembrono dan grusa grusu. Santri lebih mengedepankan merasakan,mengamati dan mengendapkan persoalan untuk mengambil tindakan. Itu bukan berarti orangnya lemah dan lambat mengambil keputusan,tetapi lebih memikirkan akan dampak baik dan buruknya. Santri itu, akan memilih kata atau ungkapan yang pas,agar tidak salah arti. Jika ada makna ganda,akan dijelaskan dan dilakukan dulu, bukan bicara banyak hasil kosong.

Ngaji menjadi Santri memang tak mudah seperti orang bicara. Kata Kiaku, harus banyak perenungan dan pemahaman diri, mangkanya dulu kiai banyak tidak mau ceramah kalau belum tahu betul makna tersirat dan tersurat. Ini bukan membuat santri hanya hubungan dengan sang pencipta, tapi lebih hubungan antar manusia agar saling melengkapi menjadi seutuhnya. Menjadi manusia seutuhnya itulah agama Islam hadir di dunia melalui Al-Qur'an dan Al-Hadist sebagai tuntunan yang dicontoh Muhammad SAW sang Rosullah.

Mengaji saat masih kecil, begitu menyenangkan. Apalagi saat malam Jum'at, Tiba'an atau sholawatan libur belajar baca Al-Qur'an. Tiba'an sangat senang melihat kakak melantunkan baca sholawatan untuk junjungan Rosullallah. Apalagi usai Tiba'an ada tumpengan dengan ikan ayam serta telur. Makanya bareng-bareng, kadang ada teman yang cegukan dan harus dipukul bagian punggungnya. Ngaji masa itu menyenangkan dan banyak hikmah kehidupan disebuah kampung di timur Sungai Bondoyudo.

#ngaji #santri #nuzunulquran

Lumajang, 10 Juni 2018

Post a Comment

0 Comments