Recents in Beach

header ads

Aku, Eta dan Kopi Dikala Hujan



Malam jelang 1 Muharam, hujan melanda kota Lumajang. Kebetulan, aku sedang santai diwarung kopi dengan perut keroncongan. Ku tinggalkan kursi dan meja tempatku nongkrong bersama sahabat, untuk melihat kondisi jalan depan warkop.  Di luar sepi dan satu dua kali motor melintas.

Mataku tertuju sebuah pejual nasi dan mie goreng. Ku berlari dan memesan mie goreng. Ku santap dengan krupuk dan 5 buah cabe segar. Membuat lidahku kepedesan dan minum teh hangat. Keningku berkeringat dan membasahi kedua kelopak mata. Disapu dengan tisu didalam kotak hijau. Alhamdulillah, kenyang.

"Mbak, berapa seporsi mie goreng, dua krupuk tengiri dan segelas teh hangat?"

"Empat belas ribu," jawab istri si penjual Mie Goreng.

Kuambil satu lembar uang sepuluh ribu dan pecahan 5 ribu. Kemudian mendapat kembalian 2 recehan lima ratusan. Matematikaku masih manjur juga, meski nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar 15 ribuah lebih dikit.

Meski hujan belum terang, aku berlari kecil melintasi jalan. Kemudian masuk ke warkop. Betapa kagetnya, ada seorang pemudi dengan kerudung coklat muda sambil bermain handphoe.

"Hai mbak?" sapaku dan diapun menoleh
"Kita pernah bertemu khan! " dia tersenyum.

Ku kembali ke tempatku nongkrong di warkop. Hanya mengambil handphone tuk pesan kopi ke barista.

"Mas, tambah kopi" pesanku 
"Mbak, kok sendiri, nunggu siapa?" tanyaku
"Nunggu jemputan," jawabnya
"Teman, pacar atau bapaknya?"

Dia tersenyum simpul dengan bibir tipis disinari cahaya redup warkop makin menambah merona wajahnya. Saya teringat dengan film horor tahun 80-an dengan bintang Film, Susana.

"Mau kopi, biar aku yang bayar," tawaranku
"Iya deh, tapi manis mas," jawab dia dengan menatap sang barista tampan itu. 
"Sejak kapan suka ngopi?" tanyaku lagi
"4 tahun lalu, pas diajak teman ke warung,"

Sumpah, siapa saja yang melihat dia si mbaknya berkerudung. Seperti melihat hantu. Tahu hantu khan!. Menghantui hatimu.

Kopi pesananku dan dia sudah dibuat. Ku seduh dalam lepek dan ku minum. Kafeinya mantap dengan aroma kental kopi membuat lidah dan tenggorokaku merasakan nikmatnya biji asal negeri Afrika itu.

Dia kemudian melakukan hal sama sepertiku terhadap kopi pesananya. Ketika menumpah air kopi ke lepek dan diangkatnya menyentuh bibirnya. Uh, beruntung sekali kau sihitam manis.

"Duh, kurang manis kopinya. Kayak orang mau kawin aja." ujarnya sambil menenggok ke sang barita. 
"Ha..ha..ha..ha," ku tertawa.

Dia meledek sang barista yang baru saja bertunangan dengan kekasih pujaanya. Membuat barista cakep itu menekuk mukanya sedikit malu. Digojloki si pelanggan cantiknya.

"Udah ya, aku sudah dijemput. Aku Eta" meninggalkan meja panjang depan barista. 
"Iya..! "jawabku.

Sudah 2 kali aku bertemu dengannya. Orangnya ramah, suka senyum dan friendship. Perempuan suka ngopi, beda tahun 90-an awal 2000-an. Kita jarang sekali menemui kaum hawa ngopi. Hanya orang dewasa dan tua, menghabiskan waktu nongkrong disebuh warkop. Mereka berbicara soal lingkungan dan pekerjaan. Ngomong politik jika sudah tahunya.

Kini zaman sudah berubah, warung kopi bukan milik orang dewasa. Anak pelajar mengerjakan tugas di warkop sambil wifi-an. Bahkan, dijadikan anak muda untuk berpacaran hanya sekedar ngobrol dan pedekate terhadap si calon pujaan hati. Ya,  warkop sudah beralih dan berkembang fungsinya. Selamat malam pecinta kopi.

Post a Comment

0 Comments