Recents in Beach

header ads

Ujaran Kebenaran Cinta



Beranda medsos facebookku dibanjiri ujaran benci (kebenaran cinta). Pagi ini, pikiran melayang dan berkotemplasi. Munculnya kata benci dari mana dan menafsirkan yang bukan bukan.

Ketika kita suka pada sesuatu barang atau tertarik ke lawan jenis. Mungkin itu disebut cinta. Ada cinta pandangan pertama, hati berseri-seri. Hingga, belum cukup umur kita untuk menyukai lawan jenis dibilang cinta monyet.

Kalau sudah suka dan cinta, apapun dilakukan. Anak kecil akan menangis untuk mendapat sesuatu barang itu. Bahkan, kalau tidak dituruti bisa kepikiran dan sakit (namanya juga anak kecil). Orang dewasapun, jika sudah suka dan cinta ke lawan jenis bisa melakukan hal apapun. Kadang bisa tidak logis dan dianggap aneh. Bicara sendiri, melamun, bernyanyi dan bertingkah gila. Namnya aja cinta.

Dari cinta bisa jadi benci, kok bisa?. Anak kecil kalau suka pada pada mainya akan dijaga dan dibawa hingga tidur. Namun, jika sudah tidak suka bisa menjadi benci, barang itu bisa dibanting, dipecahkan dan dijauhkan. Sehingga muncul peribahasa, habis manis sepah dibuang. Kayak makan tebu, dikunyah dan dihisap air manisnya lalu sepahnya dibuang.

Kadang suka, cinta dan benci hanya bagian perjalana diri sosok manusia dalan kehidupan. Tak jarang menjadi suka dan duka untuk melewati dunia yang diharapkan. Ada benci jadi suka dan cita, hidup bahagia.

Cinta menjadi kebenaran cinta (benci),  sekaan menjadi dua mata sisi manusia. Menjadi baik dan buruk dari awalnya suka dan cinta menjadi sebaliknya. Kita sebagai manusia mungkin pernah merasakan itu.

Dalam teori psikoanalisa dari Sigmund Freud, dilansir dari berbagai sumber, yang menurut beliau kepribadian itu terdiri dari tiga unsur, yaitu: Id,  Ego dan Superego, yang menurut beliau ketiga unsur tersebut bekerja sama untuk  menghasilkan perilaku manusia yang komplek.

Freud merupakan seorang psikolog dan filosof terkenal dan pernah mendapatkan penghargaan Goethe Prize. Beliau lahir pada 6 Mei 1856 di Freiberg - Austria. Menurut Sigmund Freud, Id merupakan sumber segala energi psikis sehingga Id merupakan komponen utama dalam kepribadian. Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir, aspek kepribadiannya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Id didorong oleh prinsip kesenangan yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhan, apabila tidak terpenuhi maka akan timbul kecemasan dan ketegangan. Menurut Frued, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan dengan proses utama yang melibatkan proses dalam pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan. Sebagai contoh adalah ketika merasa lapar atau haus maka akan segera memenuhi kebutuhan tersebut dengan makan atau minum sampai id tersebut terpenuhi.

Lalu Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego beroperasi menurut proses sekunder. Tujuan proses sekunder adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukannya suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Dengan kata lain fungsi ego adalah menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan.

Dan terakhir adalah Superego. Superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanam oleh adat-istiadat, agama, orangtua, dan lingkungan. Pada dasarnya Superego adalah hati nurani, jadi Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian, baik yang benar atau yang salah. Superrgo hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.

Id, Ego dan Superego saling mempengaruhi satu sama lain, ego bersama dengan superego mengatur dan mengarahkan pemenuhan id dengan berdasarkan aturan-aturan yang benar dalam masyarakat, agama dan perilaku yang baik atau buruk.Freud mengingatkan sebuah kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara Id, Ego dan Superego.

Itulah teori psikoanalisis kepribadian yang mencakup Id, Ego dan Superego menurut Sigmund Freud. Kata-kata mutiara Freud, "Kita tidak bisa mengingkari kesan bahwa manusia umunya menggunakan standar yang keliru. Mereka mencari kekuatan, sukses dan kekayaan untuk diri mereka sendiri, memuji diri mereka sendiri dihadapan orang lain dan mereka memandang rendah pada apa yang sebenarnya berharga dalam hidup," .

Post a Comment

0 Comments