Recents in Beach

header ads

Nongkrong Bareng Wirabhumi

Nongkrong, sebuah kegiatan di identikan dengan aktivitas buang-buang waktu. Hanya duduk bersama seorang sahabat untuk ngobrol ngalor ngidul tidak jelas jeluntrungannya. Tapi tidak demikian adanya, ataupun anggapan banyak orang. 

Saya akan bercerita tentang Nongkrong dengan anak lelakiku, Muhammad Royyan Al Fatih Wirabhumi, Minggu (24/2/2019) Sore. Si Oyan sejak pagi sudah merenggek minta untuk jalan-jalan ke Kota Lumajang sambil nongkrong. 

"Ayo Pa, ke Lumajang cari tempat duduk yang ada wifinya," ajaknya. 

"Oke, nanti sorean," jawabku. 

Janji pagi hari yang ku sampaikan, ternyata ditagih juga. Karena dia menolak diajak nenek dan mamanya ke Lumajang menjengguk saudara melahirkan. 

"Ayo pak, wis ate sore. Nang Majang," ajaknya yang diikuti saran neneknya untuk segera diajak ke Kota.

"Oke, mandi dulu, trus jalan," ujarku diikuti si Oyan ke kamar mandi. 

Singkat cerita, kami pun berangkat menggunakan motor. Seperti kebiasaanku, selalu melewati jalan tikus menuju kota. 

Yang paling saya suka, Si Oyan ini selalu ada saja yang ditanyakan dan diceritakan selama perjalanan. Mulai air Sungai Bondoyudo yang keruh. Ada tanaman padi di sebuah tegalan. Pohon sengon patah akibat diterpa angin kencang. 

Royyan juga bercerita soal sering menang main kelereng (Neker, kami menyebutnya). Sehingga, kaleng untuk menyimpanpun penuh. 

"Main neker, menang terus aku pa, tadi 4 buah," jelasnya. 

"Wah hebat, main dengan siapa," tanyaku. 

"Ada Gilang, Iam, Robby, Farut. Pas oleh papat, gacu nekerku tak jauhkan dari pot," ujarnya. 

"Oalah," jawabku. 

"Papa, dulu menangan," tanya dia. 

"Kadang menang, kadang kalah," jelasku. 

"Oooooo," 

Itulah obrolan Bapak dan Anak diatas motor menuju tempat Nongkrong di Lumajang. Saya selalu tak pernah menjelaskan lokasi untuk nongkrong. Akhirnya berlabuhlah di sebuah Warkop Selatan Alun-alun. 

"Sini aja yan," tanyaku. 

"Iya Wes, pa," jawab dia yang selalu tak pernah protes soal tempat nongkrong. 

Si Oyan langsung mencari tempat yang ada colokan buat Nge-Charge Smartphone. "Sini enak pa," 

"Oke, kamu tunggu saja. Papa tak pesen kopi," ujarku. 

Kamipun duduk dan ngobrol diawali seputar game online di Gadget. Hingga, si Oyan cerita tentang teman - teman sepermainan dan sekolahnya. 

Aku selalu memulai perbincangan dengan seputar tentang ke sukaan anak ke duaku. Dari banyak informasi di buku, agar bisa dekat dengan seorang anak. Haruslah banyak mengajak ngobrol berbagai hal yang dia sukai. 

Ditempat Nongkrong itu, dia paling kecil. Karena di Warkop selatan kota Lumajang itu didominasi anak muda dan orang tua. 

Saya mengajak dia nongkrong bukan ditempat anak sepantarannya. Ku harap suatu saat dia tidak kaget dengan tempat nongkrong yang menjamur di Kota yang dulu di kenal Wirabhumi, nama belakang si Oyan.

Nongkrongku kali ini, hanya berdua. Biasanya pas Malam Minggu, kami sering berempat, Saya, Mamanya, si Mbak Nasywa dan Royyan. Kesibukanku dan istri itulah, membuat kami jarang nongkrong bareng. Kalaupun Nongkrong Bareng, selain bercanda, kita sering sibuk main Smartphone masing-masing. Kita Keluarga Millenial gitoh, Hahahaa

Post a Comment

0 Comments