Recents in Beach

header ads

Super Hero itu Wartawan

Wartawan Beritajatim, Samsul (Pamekasan), Oryza (Jember) dan Harry (Lumajang)



Ada pertanyaan dari beberapa kawan, sahabat dan relasi kerja. Kenapa mau jadi wartawan? Ku jawab itulah pekerjaan seorang pahlawan sejati. Kok bisa pahlawan!. Iya, karena sebuah profesi dekat dengan masyarakat, dari, oleh dan untuk rakyat.

Sebenarnya, saya menjadi wartawan terinspirasi sebuah film kartun di TVRI dan komik yang biasa dibaca pada tabloid anak-anak pada waktu masih kecil. Ada sosok film superhero yang luar biasa yakni Spiderman dan Superman.

Kedua tokoh super hero bekerja sebagai wartawan. Peter Parker sosok Spiderman menjadi fotografer disebuab media massa harian terbesar di Amerika. Bahkan, foto hasil jepretanya selalu menjadi Headline untuk liputan khusus dan kejadian.

Kemudian, Clark Ken sosok Superman yang berasal dari Planet Krypton. Dia menjadi seorang wartawan di media massa Daily Planet. Bahkan, menjadi Jurnalis adalah pekerjaan mulia bagi superhero.

Saat sudah menginjak sekolah Menengah Pertama, ada Sinetron Indonesia populer yakni Panji si Manusia Millenium. Dia menjadi Fotografer disebuah media massa. Ada juga tokoh film lainya seperti Kamen Rider Ryuki dan Tintin.

Ketika menginjak SMA, pernah membaca buku sejarah besar Kerajaan Majapahit. Ada Mpu Prapanca sosok jurnalis yang mencatat perjalanan raja Hayam Wuruk. Saat kuliah, juga banyak tokoh perjuang penggerak Kemederkan melawan Penjajah melalui tulisan menjadi wartawan dan mendirikan media massa.

Pahlawan bangsa, ada Tirto Ardhi Soerjo, Tan Malaka, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan Hamka. Mereka ini adalah salah satu tokoh Kebangkitan Nasional dan menjadi garda terdepan kaum intelektual melawan penjajah.

Hari Pers Nasional 2019 memang sebuah perayaan untuk mengingat kembali pada perjuangan bangsa Indonesia tidak lepas dari para kuli tinta. Pers Indonesia lahir dari perjuangan melawan penjajah melalui propaganda tulisan mencerdaskan anak bangsa dari penindasan.

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo atau T.A.S. adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia yang dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Beliau menerbitkan surat kabar Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Putri Hindia. Dimana Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena memakai bahasa Indonesia dan semua pekerjanya, mulai dari pengasuh, percetakan, penerbitan, dan wartawannya adalah orang Indonesia asli.

Tirto adalah orang pertama yang memakai surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Beliau berani menulis kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pas zaman itu. Di tahun 1973, pemerintah memberi gelar Tirto sebagai Bapak Pers Nasional dan di tanggal 3 November 2006 sebagai Pahlawan Nasional.

Pers hari ini sudah berubah dari kertas, elektronik ke dunia maya. Pers berkembang secepat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Munculnya media sosial juga membuat banyak perusahaan pers konvensional gulung tikar dan beralih ke digital. Melalui teknologi dalam gengaman, semua informasi bisa didapat dan dicari.

Namun, kali ini informasi dalam bentuk berita tidak hanya diproduksi oleh orang pers. Semua bisa membuat dan menyalurkan ke masyarakat. Pers tidak lagi menjadi pelaku untuk memberikan informasi, masyarakatpun bisa melakukan.

Ditengah produksi informasi yang deras dan banyak. Kini banyak sekali berterbaran informasi sesat alias Hoax. Masyarakat mudah tertipu dan terpedaya. Bahkan, informasi tersebar berantai meski belum benar kevalidan data dan fakta. Sehingga cenderung untuk sebuah kepentingan tertentu.

Tentunya, HPN kali ini harus menjadi kekuatan balik bagi orang pers untuk meluruskan dan perang terhadap informasi sesat "Hoax". Sehingga masyarakat Indonesia dalam mencerdaskan bangsa. Pers punya fungsi mendidik dan kontrol. Masyarakat modern ditengah kelompok millenial mudah terprovokasi dari informasi Hoax. 

Sudah waktunya, Pers menjadi salah satu tonggak pusat informasi terpercaya dan teraktual. Jangan biarkan masyarakat pers diserang informasi sesat dan membuat terbelakang dalam ke Intelektualan. Pers dituntut untuk menjadi pahlawan diderasnya banjir Hoax bertebaran di media sosial. Sudah saatnya Pers Perjuangan hadir dan menjawab tantang disegala zaman bersama masyarakat. Karena Pers tak bisa jalan sendiri, jika tanpa dukungan masyarakat.


Post a Comment

0 Comments