Recents in Beach

header ads

Tambang Pasir di Makan Siang Cak Thoriq



Menjelang siang. Hari Rabu, Tanggal 20 Februari 2019. Saya mampir ke Pemkab Lumajang untuk liputan. Kemudian mampir ke Kantin untuk minum kopi. Kebetulan bertemu seorang kawan se profesi sedang makan siang. 

Kopi pesanan sudah datang. Saya bersama seorang kawan terlibat obrolan ringan. Ketika, kawan hendak berpamitan ada urusan liputan lain. Orang nomer satu di Lumajang tiba-tiba datang bersama beberapa kawan se Profesi. 

"Mau makan siang, ada lauk apa," ujar Cak Thoriq sapaan akrab pak Bupati. 

Kedatangan pemimpin tertinggi di kaki Gunung Semeru membuat pelayan kantin kelimpungan. "Adanya ini pak, mau makan apa pak?" jelas ibu tua pembantu kantin. 

"Sak ono ae, iki enak rembung jangan santen," ungkap Cak Thoriq. 

Si pelayanan memangil jurangannya, mengenai kedatangan Bupati sambil mengambil piring. Cak Thoriq memesan nasi sedikit dan memegang piring sambil mengambil lauk Tahu dan Dadar Jagung. 

"Krupuk, krupuk ada," jelasnya diikuti sang pengelola kantin mengambil kerupuk. 

Kedatangan Bupati untuk makan siang, tak membuat sejumlah PNS dan Sopir dinas beranjak dari tempat duduknya. Saat itu, memang waktunya istirahat. 

"Ayo makan, nanti aku yang bayar," jelas Pemimpin Lumajang baru 6 bulan menjabat itu. 

Kebetulan juga, Cak Thoriq memilih meja tempatku nongkrong. Saya melihat dia dari dekat, makannya begitu lahap dengan menu seadanya. 

Cak Thoriq setahuku dari seorang sahabat,  saat menjadi Anggota DPRD Jatim untuk pulang ke Lumajang. Makanan yang paling dirindukan masakan ibunya, nasi jagung, jangam kelor dan ikan asin. Sederhana khan. 

Usai makan dengan lahap, Cak Thoriq mengobrol ringan dengan wartawan dan mulai serius saat membahas tambang pasir. "Ayo rek, sekaligus aku tak jelasno soal jalan Jarit - Jugosari tak tutup mane, mergo dibukak atas desakan sopir truk. Kesepakatan kok ate diubah-ubah, truk pasir harus punya jalur sendiri,"  jelasnya. 

Hari senin, ada puluhan truk tambang pasir beriringan meminta warga membuka portal lantaran terlalu lama pembangunan jalur. Alasan kelompok sopir truk, keluarganya butuh makan. Perwakilan warga menolak membuka portal besi sebagai bentuk larangan truk melintas sesuai kesepakatan. 

Kemudian Sopir bersama warga melakuka  mediasi yang disaksikan oleh Kepala Desa Jarit. Membuahkan kesepakatan bisa melintas hingga selesai pembuatan jalur tambang bagi truk. 

Hari Selasa, informasi di Pemkab, kesepakatan antara sopir dan warga Jarit sepertinya melemahkan kesepakatan yang dibuat bupati. Tak mau kesepakatan baru melemahkan kebijakan pemerintah daerah. Cak Thoriq bersama Kapolres turun langsung ke Jarit dan menutup jalan desa dilalui truk tambang. Pasalnya, jalur tambang sudah hampir rampung dan hanya ada 1 pemilik ijin tambang enggan menyelesaikan.


Ya itulah cerita soal Makan Siang Pak Bupati di kantin sambil bahas tambang pasir.

Post a Comment

0 Comments