Recents in Beach

header ads

Ada Campur Tangan Mutasi ASN

Suasana Mutasi ASN Lumajang 2019 ( foto Humas Pemkab)
"Mutasi di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lumajang sudah biasa untuk peningkatan kinerja Aparatur Sipil Negera (ASN). Namun, ada saja Campur Tangan yang tidak bisa dilihat tapi dirasakan oleh para ASN ter-mutasi,"


Gelombang mutasi pertama di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintahan Kabupaten Lumajang dibawah kepemimpinan Bupati Thoriqul Haq dan Indah Amperawati sudah bergulir di Pendopo "Arya Wiraraja", Jum'at(29/3/2019). Sebanyak 118 ASN bergeser posisi pangkat dan jabatannya. 

Pergeseran para ASN oleh Cak Thoriq dan Bunda Indah untuk meningkatkan kinerja pemerintahan dalam melayani masyarakat. Garis besarnya adalah memiliki kinerja Responsif terhadap apa  saja kebutuhan masyarakat. 

ASN bukan lagi malah menunggu rakyat berteriak minta dibantu. Harus ada kepekaan dari ASN sebagai pengabdi pada bangsa dan negara untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila ke 5 Pancasila.

Mutasi birokasi di lingkungan Pemkab memang sah dilakukan oleh Bupati, setelah 6 bulan menjabat. Mutasi bagi pemegang kendali pemerintahan tertinggi di Kaki Gunung Semeru sebagai penentu langkah kebijakan yang sudah digariskan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2018-2023. Sesuai perudang-undangan yang berlaku.

Mutasi 2019

Kabar mutasi di akhir bulan Maret 2019, memang menjadi kasak kusuk dikalangan ASN sejak awal bulan lalu. Pasalnya, seorang bupati menjabat bisa melakukan pergeseran birokrat sesuai aturan yang dinamakan mutasi. 

Isu dan opini itu bukan isapan jempol belak. Jum'at keramat sore itu, dipilih pemimpin asal Desa Sukosari Kecamatan Kunir. Wajah-wajah para ASN yang hadir di prosesi mutasi ada tegang, tenang, santai dan acuh tak acuh. 

Bagi para ASN mendapat promosi jabatan, wajahnya terlihat sumrigah. Sedangkan yang mendapat penurunan jabatan sudah pasti terlihat ada kerutan diwajah dan memilih banyak diam. Entah rapalan do'a apa saja yang dibacakan, tentunya mereka jauh lebih paham.

Tapi, ada mendapat mutasi promosi. Namun tidak bahagia, diduga beban kerja yang berat tidak sesuai ekspektasi. Diduga kemampuan belum tepat atau tidak sesuai ilmu dan pengalaman. Didalam birokasi dikenal tempat basah dan kering ata mungkin musim hujan dan kemarau.

Ada yang mendapat mutasi turun pangkat dan jabatan, telihat sumrigah. Sebaliknya, hanya diam tanpa ekspresi dan pasrah ditempatkan dimana saja. Mungkin ini golongan manut wae, opo jare. Ada penganut faham Ante Nangdi, Ndak Ono.

Mutasi perdana dibawah pimpinan baru dari sosok Politisi murni dan wakilnya Birokasi murni jelas iklim serta cuacanya berbeda. Namun, sesuai dengan sumpah dan janji setiap ASN, siap ditempatkan dimana saja selama di NKRI. Kecuali ada tugas negara sebagai diplomat.

Sumpah itulah, membuat para mutasioner harus siap dalam segala tantangan dan hambatan saat memangku tanggung jawab sebagai abdi negara. Kata Bob Sadino, jika bekerja dibirokasi siap hidup pas-pas. Kalau ingin kaya berdagang atau mendirikan usaha sendiri.

Campur Tangan

Mutasi selalu identik dengan campur tangan. Apakah itu gerangan?. Yang jelas Bupati pemilik kewenangan menentukan ASN yang pas dengan tanggung jawabnya. Di campur tangan bupati, jelas ada pertimbangan dari para koleganya dalam pemerintahan seperti wakil bupati atau Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat). 

Campur tangan Bupati adalah mutlak,  mutasi ASN menentukan untuk  menjalan roda pemerintahan dalam memenuhi janji politiknya 5 tahun berjalan. Jika salah menentukan pembantunya, kata orang Lumajang bisa Ajur Jack. Namun, prasangka harus dijauhkan demi Lumajang hebat bermartabat.

Mutasi juga bisa ada campur tangan kedekatan para ASN dengan bupati, wabup dan orang yang bisa didengar oleh keduanya. Yang jelas, rekam jejak ASN yang dipromotori harus memiliki basis kinerja luar biasa. Bukan, Kolusi, like and dis like (suka dan tak suka). Apalagi miliki prasangka dendam politik 5 tahunan. 

Ada juga campur tangan pihak ketiga melalui kekuatan gaib dengan orang pintar alias dukun. Dalam kultur orang jawa, jika akal manusia tidak bisa melakukan atau mengapai. Pertolongan orang pintar bisa saja mengubah manusia pemegang kebijakan berubah pikiran. 

Tapi jangan salah sangka, ada dukun dipakai menerawang. Apakah dimutasi atau tidak. Sehingga, saat menghadapi takdir dimutasi sudah tahu dulu dan tak kaget. Apakah ketengan ASN saat dimutasi dikarenakan itu. Kita tak boleh Su'udhon. Tetapi Huznodhon saja. 

Sebagai orang muslim, mutasi sudah dianggap petunjuk dari Allah SWT. Seperti disabdakan "Sesungguhya Allah tidak mengubaj suatu kaum sehingga mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,"  (QS Ar-Rad:11). Golongan ini, jelas mengedepankan positif thinking dan mutasi adalah jalan Allah SWT.


Kisah Campur Tangan

Ada cerita menarik saat ASN, Sudarwi adalah pengawai Dinas Perhubungan. Ia diangkat dalam mutasi sebagai Lurah Ditotrunan. Kaget dan sekaligus sebuah beban tanggung jawab yang luar biasa. 

Pak Darwi adalah sosok pria dengan perawakan tinggi, kulit sawo matang, berkumis lebat dan berlogat madura. Banyak sekali ASN dari lingkungan Dishub mengucapkan selamat usai upacara mutasi. 

Pria asal Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono ini pernah gagal mencalonkan diri menjadi kepala desa. Untuk maju sebagai Kades dulu, dia habis uang ratusan juta. Tak disangka tanpa harus ikut pilihan melalui pemungutan suara, dia kini ditakdirkan sebagai Lurah sejajar dengan jabatan kades. 

"Saya kaget dan tak percaya," ujar Darwi saat bercerita. 

"Kok bisa pak," tanya seseorang. 

"Waktu itu, Pak Bupati tanya ke saya pas ada acara di depan Penjara. Apakah kamu mau jadi lurah," dia menirukan pertanya Cak Thoriq.

"Trus kamu jawab apa," tanya rekan sesama ASN lain. 

"Siap, gituh," jelasnya dengan logat madura seperti dialog dalam ludruk. 

Ya itulah, sekilas cerita Pak Darwi. Bupati pernah menanyakan kesiapan menjadi Lurah dan janji itu dibuktikan. 

Ada juga seorang ASN tidak jadi ikut mutasi dan hadiri di pendopo. Tetapi, bercerita tentang kisahnya tidak  ikut dalam mutasi mewarnai kisah perdana di pemerintahan Cak Thoriq dan Bunda Indah. 

"Mas, saya didatangi staf saya," cerita seorang ASN. 

"Kenapa datang ke Bapak," tanyaku. 

"Dia bercerita saat sowan ke kyainya, saya tidak akan ikut mutasi. Sambil memberikan sebuah keyakinan," jelasnya. 

"Lha kok bisa pak, dia yang bingung,"

"Lha iya, saya gak tahu juga. Tapi bener lo mas," ungkapnya. 

"Hahhaa, anak buah loyalitas tinggi. Tanpa disuruh sudah minta campur tangan kyainya," ujarku. 

"Hahhaaaha, ada-ada saja," ungkapnya. 

Selain cerita diatas, ada cerita menarik soal campur tangan tapi tak bisa jadi kebenaran dalam mutasi. Seorang ASN yang senang mendapat mutasi, tetapi malah bernasib kurang beruntung. 

"Kok kelihatan gak senang, bos," tanya. 

"Iya mas, kemarin dapat kabar dari seorang kawan soal saya akan mutasi," ujarnya. 

"Trus, kenapa dengan mutasinya," tanyaku lagi. 

"Mutasinya hanya pindah tempat, gak ada promosi hanya geser aja," ungkapnya. 

Banyak cerita soal campur tangan dalam mutasi ASN. Meski sudah menjadi budaya dalam birokasi untuk meningkatkan kinerja. Mutasi tetap saja momok bagi ASN.

Bahagia mendapat promosi, ada juga ada yang sedih naik jabatan. Manusia boleh berencana, tetapi Tuhanlah penentunya. Bekerjalah untuk mengharap ridho Allah SWT, insyallah dilindungi-Nya. Amin

Post a Comment

0 Comments