Recents in Beach

header ads

Ada Romantisme Alun - alun Lumajang





"Berbicara tentang Alun-alun Kota Lumajang selalu ada saja cerita Romantisme dari masa ke masa. Ada yang bercerita sejarah, flamboyan dan asmara."

Disebuah pojok warung kopi. Saya bertemu dengan Cak Ulum bercerita begitu terkesannya dengan Alun-alun Lumajang dulu. Diberbicara tentangn 5 pohon beringin, 2 bangunan toko dan berjejernya pohon Flamboyan. 

Cak Ulum saat masih mudanya sering mengunjungi jantung kota tempatnya lahir. Dia sering jalan-jalan bersama teman kampungnya. Bermain bola hingga sore. 

Pohon Flamboyam berjejer mengelilingi alun-alun membuatnya terkesan. Apalagi saat berbunga dan berjatuhan. 

"Alun-alun koyok nok Eropa le," ujarnya. 

"Mosok Cak?" tanyaku. 

"Biyen akeh wong pacaran utowo keluarga seneng mlaku-mlaku pas Flamboyan berbunga," cerita dia. 

"Apik biyen yo cak?"

"Alun-alun biyen iki ono roh-ne, pusat keramaian, selain pasar," jelasnya. 

Cerita yang disampaikan Cak Ulum, tidak jauh berbeda dengan orang seumurannya. Tak jarang mereka rindu dengan suasana Alun-alun silam.

FLAMBOYAN 

by  www.i.ytimg.com


Cerita pohon flamboyan alun-alun, sering ku dengar dari orang Lumajang kelahiran 60 dan 70-an. Kebanyakan terkesan dan terkesima dengan bunga flamboyan berwarna merah cerah. 

Dari penelusuran, Flamboyan memiliki nama Yunani Delonix, berasal dari suku kata Delos artinya mencolok dan Onyx artinya Cakar. Bisa diartinya bunga berwarna mencolok bercakar seperti mahkota saat mengembang. 

Falmboyan alun-alun dulu, seperti payung. Sehingga jalanan tengah kota teduh. Musim kemarau bunganya akan runtuh dan musim hujan dedaunan sangat lebat. 



Dibawah Flamboyan Alun-alun ada berbagai cerita romatisme. Dikala anak-anak dimasa orde baru sangat tabu berpacaran. Mereka melakukan pertemuan  di jantung kota saat akhir pekan. Bak Film Ratna dan Galih.

"Biyen le, lek ono wonge mari dellok biskop dino minggu, mesti mampir alun-alun," ujar Cak Ulum. 

"Lo Kok Iso Cak?,"

"Yo Gak Ngerti le, Mungkin panggone luwih enak gawe istirahat atau omong-omongan," jelasnya. 

"Gawe Genda'an!"

"Yo iku wes le, tapi gak koyok arek saiki, digawe ambung-ambungan," jare Cak Uul. 

"Hahahaha... Kenek Youtube karo tipi cak,"

"Lha iku," jelasnya. 

Bertemu dengan orang Lumajang Kota usia 40-50an. Jika sudah bicara tentang Alun-alun pasti akan bahas tentang Flamboyan yang kini tak ada bekasnya. 

Kesan akan bunga iklim tropis itu tak pernah hilang. Mungkin itulah yang dinamakan gagal Move On dari Pusat Kota Lumajang masa silam. 

ALUN-ALUN

Aloen2 Loemadjang (1925). Jalan depan Pasar Lumajang ( by lumajang.org)

Sejarah alun-alun Kota Lumajang sulit ditemukan jejak tertulisnya. Namun, dari berbagai literasi di zaman perkembangan kerajaan Hindu-Budha, tanah lapangan persegi empat disebuat alun-alun untuk kegiatan peribadatan dan pemujaan atau sesembahan pada dewi tah. Ini tertulis dari Kitab Negara Kertagama. 

Alun-alun berkembang di Zaman Kerajaan Mataram. Tanah lapangan sudah berganti fungsi dengan dijadikan pusat pemerintahan dan ekonomi.  Dari sejak arkelogis bisa ditemui, tak jauh dari alun-alun ada pasar tradisional. 

Alun-alun di Zaman Kerajaan tempat untuk latihan perang para pasukan. Oleh karena itu, ada bangunan pemerintahan. Seperti Pendopo Raja, Adipati, Kantor Administrasi, Kantor Kepolisian, Penjara dan Pengadilan. 

Di Era Kerajaan Mataram Islam, alun-alun bertambah bangunan Masjid. Seperti di Lumajang disebelah baratnya ada Masjid Anas Mahfud. Dihari-hari besar Islam, alun-alun dijadikan tempat sholat idul fitri dan adha.

Seorang anak londo di bawah 2 beringin Alun-alun Lumajang

Cerita dari Cak ulum, saat bulan Ramadhan. Alun-alun Lumajang memiliki tradisi jelang buka puasa dengan menyalakam Mercon Blanggor. Jika sudah dinyalakan, masyarakat muslim bisa menghentikan puasanya. 

Mercon Blanggor ini, dibuat oleh takmir dan remaja masjid. Namun, siapa yang memotori, hingga kini belum ada catatan orang-orangnya. 

Dari sejumlah literasi dan keterangan para orang sepuh, Alun-alun Lumajang berdiri disaat Kerajaan Lamajang ditaklukan oleh Kerajaan Mataram Islam. Sehingga, pusat kerajaan dari Situs Biting (Arnon) berpindah ke selatan. Sehingga munculnya nama-nama kawasan seperti Tompokersan, Citrodiwangsan, Jogoyudan, Rogotrunan, Ditotrunan dan Pasar Klojen. 

Gapura yang pernah dibuat di sekitar alun-alun Lumajang

Seperti ditulis diatas, Alun-alun Lumajang memang tak bisa dihilangkan dari Mataram Sentris. Bahkan, jejak foto lama di masa perjuangan dan kemerdekaan bisa dilihat di situs sejarah Belanda untuk Indonesia.

Mungkin Museum Daerah Lumajang bisa ada diorama yang menjelaskan sejarah panjang Alun-alun tak lekang dimakan zaman. Hanya wajah dan bangunan berubah, tetapi khazanah pengetahuan tak habis oleh kemajuan pola pikir manusia.

Post a Comment

0 Comments