Recents in Beach

header ads

Berse dan Tongket Menuju 17 April





Disebuah bengkel sepeda motor di Kampung Timur Sungai berkumpulah 3 orang petani yang baru pulang dari sawah. Mereka awalnya ngobrol soal biaya garap sawah untuk menanam padi sangat besar dan tidak sebanding dengan panen. Apalagi, tanaman padainya diserang hama atau gagal panen. Ada petani di desa Timur Sungai yang sakit, karena memikirkan tanaman padinya.



"Lha Iya, tanaman kena hama dan gagal panen bisa sakit," ujar Haji Darso kepada Munakip dan Usman.



"Gak mau sakit gimana, lha wong memakan pikiran," ujar Munakip.



"Kemarin, Sardi tukang garap milik H.Sardi harus ngamar di Puskesmas Kota," ungkap Munakip.



"Iya, saya aja kalo mendapat hasil panen gak sesuai harapan, kepala pusing, diminumi oskadon sembuh," jelas Darso sambil tersenyum.



"Kalau saya pas pusing kepala, pake Puyer Bintang tujuh," timpal Munakip.



Disebuah bengkel dekat sawah, disebelah utaranya ada aliran irgasi dibangun melalui ADD Desa. Jalan desa depan bengkel dibangun melalui APBD. Angin semilir berhembus dari selatan ke utara. 3 petani asyik ngobrol sambil menghisap bako dengan dilinting kertas putih dicampur cengkeh.



Tiba-tiba mereka melihat sekelompok rombongan orang berisi 5 orang naik pick up. Mereka turun dari mobil, langsung mengali tanah dipinggir jalan dan memasang banner ukuran 2X1. Dari tampangnya, seorang Calon Legislatif dari parpol yang muncul di era Reformasi.



"Lha, mereka mulai tebar pesona," ujar Munakip.



"Iya, pokoknya pasang aja, siapa yang mau milih," ungkap Darso.



"Kita sebagai petani, masak terwakili, kalau hanya pasang banner," sergah Usman.



"Kalau saja, tergantung yang nanti ngasih ongkos ke TPS," jelas Munakip.



"Ongkos apa itu," ujar Darso.



"Berse  itu bah," jelas Usman.



"Apa itu Berse," tanya Darso.



"Beres apa Pesse," ungkap Munakip.



"Oallaahhh, temannya Tongket ya," terang Darso mulai mengerti apa yang dibahas dua tetangganya itu.





Usai pemasang banner para caleg hilang dari pandangan 3 orang petani. Tiba-tiba, Ning Sani melintas didepan bengkel milik Munakip.



"Duh, kok santai sekali orang-orang ini," tanyanya.



"Ngomong Caleg niiii," ujar Usman.



"Kalau Gak ada sangunya jangan dipilih wong, kayak dorong mobil mogok. setelah jadi lupa," jawab Sani.



"Sok tahu aja ni," ujar Darso.



"Sudah kayak gitu bah, kalau gak ada salam tempel, jangan milih bah," jelas Sani dengan semangat sambil memarkir sepedanya dengan ban kempes untuk diisi angin.



"Loh, kalau pengajian perempuan khan dapat kerudung ni," tanya Munakip.



"Sepi sekarang kip, pokoknya kaya ban sepeda, kalau gak ada anginya gak bakalan banter jalannya," ungkapnya.



"Duh, kalau kayak gini, Pemilu itu mahal," ujar Usman.



"Katanya Bang Rhoma yang ditangkap KPK, Pejabat bisa jadi penjahat, lha ditangkap juga dianya," terang Darso.



"Lha iya, makin ngeri aja, untung ada KPK," papar Sani.



Munakip kemudian mengisi ban sepeda Ning Sani dengan mesin pompa angin. Usai diisi, Sani langsung meninggalkan 3 tetangganya yang masih asyik ngobrol di bengkel. H.Darso kemudian gantian meninggalkan Bengkel usai dikasih kabar anaknya, jika ada tamu.



Munakip dan Usman, melanjutkan obrolan politik. Keduanya, kemudian memperbincangkan soal sepinya para Caleg yang sosialisasi dan lebih memilih membuat tim untuk melancarkan strategi Berse dan Tongket.



"Lha iya, sekarang sepi, gak tahu seperti pada visi misinya maju nyaleg atau dari partainya," ungkap Munakip.



"Sekarang ini, kayaknya pak Harto Mesem dan Gambar Pak Karno dan Pak Hatta yang ditunggu," sergah Usman.



"Semakin lama, tambah gak karu-karuan, kalau dulu di Orde baru ada fanatik untuk perubahan. kayaknya pendidikan politik berhasil Indonesia ini," jelasnya.



"Pokoknya, Politik makin Asyik, kudu bondo," timpal Usman.



"Wes, kita kerja saja, apa katanya di bilik,"



"Pokoknya yang pas aja atau menyapa, kemarin khan ada yang membuat pertemuan," ungkap Munakip.



Usman kemudian pamitan pulang ke Munakip.



Konstelasi politik jelang pecoblosan 17 April 2019 semakin menjadi opini publik. Masyarakat tidak lagi disuguhi isu politik untuk mensejahterakan, transaksi suara seakan menjadi jalan menuju kursi parlemen. Semoga, di 2019 nanti terpilih para legislator yang benar-benar membawa perubahan dalam membangun bangsa dan Negara ini. 

Post a Comment

0 Comments