Recents in Beach

header ads

Budaya Politik Blusukan Awas Keblasuk




Percaturan per-politikan di Indonesia memang tak jauh dari kultur budaya yang sangat kental. Salah satunya, blusukan tokoh politik atau kepala daerah hingga Presiden kita saat ini, Joko Widodo yang populer dengan nama populernya Jokowi. Blusukan saat memimpin sebagai Walikota Solo mampu menjadi media darling hingga memuluskan menjadi Gubernur DKI dan sebagai pemimpin tertinggi Bangsa Indonesia saat ini.

Tahun 2018 lalu, Lumajang dipimpin oleh Bupati termuda yang dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilukada, yakni Thoriqul Haq yang akrab dipanggil Cak Thoriq dengan wakilnya Indah Amperawati sering dipanggil Bunda Indah.

Cak Thoriq sejak menjadi orang nomer satu di Lumajang lebih sering turun ke masyarakat untuk menyelesaikan persoalan. Bahkan, aksi Sidak ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi viral bersama Bunda Indah. Ini bisa dilihat di akun youtube "Lumajang TV" yang dikelola timnya.

Blusukan plus Sidak seakanan menjadi citra dalam menunjukan kerja awalnya sebagai pemimpin, bukan memantau kinerja bawahanya, tetapi pada budaya disiplin dan kebersihan. Bahkan, mereka juga sidak terhadap proyek pembangunan yang diduga ada persoalan sesuai bestek dan adanya pelayanan kurang maksimal oleh Aparatur Sipil Negara (ASN).

Bukan hanya blusukan didunia nyata, Cak Thoriq juga sering muncul di dunia maya Facebook. Tak jarang dia berkomentar bila ada unggahan status persoalan yang ada ditengah masyarakat, pegaduan soal pengurusan KTP, Jalan Rusak dan Carut-marut tambang pasir Semeru.

Istilah Blusukan berasal dari bahasa jawa dengan arti perjalanan ke tempat-tempat jauh. Entah ke tempat jauh apa, tetapi dikekinian saat dikenalkan Jokowi adalah mengunjungi masyarakat dan mendengar langsung aspirasi rakyat. Namun, kata Blasuk dalam bahasa jawa yakni Kesasar, artinya perjalana jauh yang tidak sampai ke tujuan. Kata Blusukan dan Blasuk atau Keblasuk beda-beda tipis karena sama-sama perjalanan jarak jauh.

Dipemberitaan media massa lokal, Cak Thoriq sering mendatangi tempat-tempat yang viral dan dibahas oleh netizen di media sosial Facebook. Salah satunya, Jembatan antar Kecamatan di Desa Boreng. Jalan Rusak di penghubung Kecamatan Rowokangkung ke Lumajang di Desa Dawuhan Wetan.

Sedangkan Wakilnya, Bunda Indah lebih dalam bertugas mengurusi kedinasan didalam pemerintahan. Bunda sering hadir di berbagai rapat koordinasi, sosialisasi dan bimtek para aparatur level desa hingga pemerintahan kabupaten.

Sepertinya, kedua pemimpin Lumajang ini sedang berbagai tugas dalam melayani masyarakat. Cak Thoriq turun langsung ke tengah masyarakat untuk mendengar langsung dan menyelesaikan persoalan yang ada. Sedangkan Bunda, menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan masyarakat di kedinasan dalam melayani.

Hal ini seakan menjawab keraguan terbitnya perbup nomor 64 2018 tentang tentang Pelimpahan Kewenangan Bupati pada Wakil Bupati sebagian masyarakat dalam kaca mata politik kekuasaan dalam kerja di pemerintahan. Sebagai revisi Perbup No 2 tahun 2010. Diterbitkan perbup ini agar Cak Thoriq bisa kerja enak dan sesuai dengan janji politiknya saat pilkada.


BLUSUKAN SENDARI DULU

Budaya Blusukan Politik pemimpin sebenarnya sudah lama dilakukan oleh para pemangku kebijakan di tanah Jawa. Para raja-raja jawa juga sering datang ke daerah bawahannya untuk mendegar langsung. Wali Songo juga sering turun ke masyarakat untuk medengar langsung apa yang sedangkan dirasakan rakyat atau ummatnya. 

Sri Sultan Hamengkubowono IX

Sri Sultan juga kerap melakukan blusukan, ia mengunjungi pos-pos rakyat, mengunjungi warung-warung rakyat, ia berada di tengah persawahan Yogya, mendengar apa yang diinginkan rakyat Yogya. Pendamping blusukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah Selo Soemardjan, salah seorang ahli Sosiologi paling terkenal, konsep kepemimpinan Sri Sultan ini kemudian disusun oleh Selo Soemardjan sebagai dasar-dasar kepemimpinan yang merakyat. Dari gaya kepemimpinan Sultan HB IX inilah kemudian lahir adagium yang terkenal “Tahta Untuk Rakyat”. 

Konsep Tahta Untuk Rakyat dihasilkan dari tukar pikiran antara Sri Sultan dengan Selo Soemardjan, Frans Seda dan beberapa penasehat Raja di Kepatihan, kalimat itu menurut Selo Soemardjan lahir pada tahun 1952. Hal ini menjadi aturan dalam cara menjalani kepemimpinan di masa Sri Sultan HB IX. Sri Sultan memerintahkan Kepatihan terus memperhatikan kehidupan rakyat, mulai dari keamanannya sampai tingkat produksi masyarakat seperti Pabrik Perak di Kotagede, Usaha Transportasi di Pasar Gede, Usaha-Usaha Pegadaian sampai pada Paguyuban-Paguyuban Tani.

Ir. Sukarno

Sukarno bisa bersepeda ratusan kilometer, ia pernah bersepeda dari Bandung sampai Tasikmalaya, atau ke pinggiran kota Bandung. Dalam blusukan Sukarno sering bertanya pada penduduk desa, ngobrol, mencatat dan merasakan bagaimana kehidupan rakyat, kegemaran blusukan ini berlanjut sampai Sukarno menjadi Presiden. Saat Istana Presiden di Yogyakarta, salah satu kegemaran Sukarno adalah berjalan-jalan di persawahan Yogyakarta, yang dulu mengawal saat Sukarno blusukan adalah Latief Hendraningrat, Kanapi, Mangil dan Dokter Suharto.

Sukarno kadang berlama-lama di rumah rakyat untuk mengetahui kehidupan mereka. Setelah tahun 1950, Bung Karno senang blusukan ke berbagai daerah, tapi yang kerap ia lakukan adalah incognito (menyamar) agar rakyatnya tidak mengetahui apa yang ingin dilakukan oleh sukarno.

Bung Karno sering naik Jeep Hardtop dan keliling Jakarta ditemani beberapa orang mengontrol kota Jakarta, penentuan Jalan Sudirman sebagai central bisnis sebenarnya ditetapkan saat Bung Karno duduk di tepi jalan dekat kampung Senayan, saat blusukan Sukarno terbayang gambar daun semanggi di pikirannya, lalu ia teringat jembatan besar di Amerika Serikat, dari sinilah Sukarno kemudian terinspirasi membangun Jembatan Semanggi, yang sampai saat ini masih jadi Jembatan Jalan Raya terindah di Indonesia.

Joko Widodo

Ir. Joko Widodo mantan walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta inilah yang membawa Budaya blusukan dan dikenal dalam masyarakat Indonesia secara luas. Kegiatan blusukan yang dilakukan oleh Jokowi ini menjadi tren dikalangan pejabat publik sekarang, banyak pejabat yang turun hadir kelapangan dalam rangka mengawasi dan menemui masyarakat untuk mengetahui apa saja yang ingin dibutuhkan oleh rakyat.

Baik pejabat tingkat desa, kota, provinsi bahkan para menteri mulai aktif melakukan blusukan. Budaya lama yang kembali populer ini kembali menjadi satu hal yang menarik, mengingat masyarakat sudah sangat lama membutuhkan para pemimpin yang mau terjun dan turun langsung ke dalam masyarakat. Secara tak langsung disadari atau tidak disadari dengan melakukan blusukan, justru menimbulkan efek sesuatu Citra positif kepada masyarakat tentang pejabat publik tersebut, namun perlu dikhawatirkan bila mana blusukan hanya sebagai cara untuk menarik simpati masyarakat saja agar memilih pejabat itu kembali.


BLUSUKAN AWAS KEBLASUK

Blusukan memang memiliki dampak yang sangat baik bagi para pemimpin. Sehingga bisa mengetahui keadaaan masyarakat, dekat dengan rakyat dan ada komunikasi dari bawah ke atas. Jadi Pemimpin tidak menjadi Panglima Komando Dalam Kamar ( Pangkodamar), tidak tahu apa yang dibutuhkan masyarakat.

Blusukan bukan hanya menyelesaikan masalah, tetapi harus ada kebijakan aturan melindungi masyarakat. Selain itu, Blusukan bukan dilakukan pemimpin, tetapi juga oleh bawahanya seperti Kepala Dinas hingga staf terbawah di sebuah Organisasi Perangkat Daerah. Jangan hanya jadi pengabdi yang tukang menyuruh rakyat, tetapi lebih pada melayani sebagai abdi sebenarnya pengabdi.

Blusukan bisa jadi Keblasuk, bila pemimpin turun ke bawah tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga, hanya dijadikan untuk foto dan mevideo kegiatannya. Sehingga, saat turun kebawah bukan menyelesaikan masalah yang pro kontra dimasyarakat. Sehingga hanya menguntung sebagian kelompok masyarakat. Karena tipologi rakyat ada yang suka berkomentar tetapi ada pemalu dan memilih diam agar diperhatikan. Disinilah pemimpin yang blusukan bisa ke Blasuk.

Saat Blusukan diperlukan bukti nyata, bukan lagi janji-janji saat kampanye. Langkah konkrit lebih dibutuhkan oleh masyarakat saat pemimpin itu ada didekatnya. Blusukan bukan lagi sebuah citra ditengah masyarakat, bisa jadi bumerang. Dikala persoalan satu selesai, bisa memunculkan persoalan baru dengan aspirasi lebih. Disinilah perlu adanya pengelolaan manajemen secara bottom up, apa yang dilakukan pemimpin seperti bupati, para pejabat pembantunya tidak tinggal diam. Tetapi aktif untuk menindak lanjuti jika ada persoalan yang sama. Blusukan bukan barang baru, tetapi barang lama yang dirindukan masyarakat. 

Post a Comment

0 Comments