Recents in Beach

header ads

DAGADU Invansi Lumajang Tahun 90-an



"Lumajang Ditahun 90-an Pernah Diserbu Produk Cideramata Asal Jogyakarta "DAGADU". Saking boomingnya Lumajang dalam dunia fashion anak muda terwabah Jogja Sentris,"


Ada seorang kawan bertanya. Kapan punya dompet?. Saya teringat saat waktu Sekolah Dasar kelas 4. Waktu itu, Bulan Agustus. Saya masuk sebagai anggota baris berbaris sekolah untuk ikut perlombaan di kecamatan. 

Ketika hendak berangkat menuju ke kecamatan Jatiroto, ibuku memberikan sangu lengkap dengan dompet dari wadah perhiasan. Ada logo Toko Emas, selain serem dan gagah. Mau tahu, logo gambat Kingkong pakai perhiasan kalung. Ya, itulah permata kali punya dompet dari bekas wadah perhiasaan. Teringat itu, jadi tertawa sendiri. 

Saya tidak bisa menolak dompet itu. Karena sanguku uang receh sebanyak Rp. 500 terdiri dari pecahan Rp. 50 dan Rp. 100. Adapun uang kertas, masih sama pecahan Rp. 100.

Kata ibuku, uang sanguku biar aman. Paling lucu juga, saat ditaruh di saku celana pendek merah. Masih diberi pengaman peniti. Hahahaa. Katanya, biar tidak jatuh. Maklumlah, saya terlalu sering kehilangan uang saku saat masih SD. 

Saya inikan tergolong anak yang aktif. Sejak kecil serinh bergerak, berlarian dan berkeringat. Sekolah bagiku kegiatan bermain. Jarak antar rumah dengan sekolah kurang lebih 200 meter. Jika uang saku habis dan perut lapar. Tinggal cuss pulang. Jika makanan belum dimasak, hanya minum air putih dan minta uang saku. 

Dompet Krek Dagadu

Mungkin dompet gambar Kingkong adalah pertama ku miliki saat sekolah dasar. Menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP),  saya baru mengenal dan ingin memiliki dompet kelas 2. Waktu itu, kawan-kawanku sedang demam tas dan dompet buatan asal Jogjakarta. 

Saat kelas 1 di SLTP 4 Lumajang, kawan-kawan laki-laki belum banyak memiliki dompet. Sementara untuk teman perempuan sudah ada yang punya meski dompetnya berisi pensil, pulpen, penghapus dan rautan. Kadang-kadang ada uang saku recehnya. 

Dompet merk Dagadu bukan lagi menggunakan resleting layaknya celana pendek seragam sekolah. Tipe dompet ini sangat cepat sekali populer. Hal ini disebabkan saat itu untuk rekreasi sekolah masih dengan tujuan ke Kota Gudeg itu. 

Salah satu Toko yang jualan Dompet Dagadu dari cerita seorang kawan harus pesan dulu. Kita harus menunggu antara 3 atau seminggu sesuai dengan pesanan. Bahkan, ada seorang kawan beda kelas menjadi re seller dari kakaknya. Dia hanya membawa contoh gambar dompet, tas dan kaos produk UKM wong Jogja.

Berjuang Punya Dompet

Saya teringat harga dompet Dagadu Rp. 7.500. Untuk bisa memiliki dompet yang lagi trending. Saya harus menyisihkan uang saku Rp. 100 setiap hari. Maklumlah, uang saku harian yang diberikan ibu rata-rata Rp. 250 dan Rp. 400 itpun pas ada jam olah raga berangkat habis shubuh dari rumah.

Oh ya, saya untuk sekolah SMP berangkat dengan naik sepeda onthel. Jarak tempuh dari rumah ke lokasi sekolah antara 30 - 40 menit dengan rata-rata kecepatan 5 kilomter perjam. Jadi jarak antar rumah dengan sekolah antara +/- 6 kilometer.

Untuk bisa memiliki dompet bermerk dan populer, saya harus menyisihkan uang saku sebulan. Itupun, saya mencari tambah dengan menjadi jasa antar jualkan padi memiliki tetangga ke pengepul. Alhamdulillah, upah yang saya terima antara Rp. 50 hingga Rp. 100.

Kenapa banyak tetangga menyuruku menjualkan padi hasil kerja menjadi buruh panen. Dikarenakan, saya punya sepeda dan bisa membaca timbangan. Belum genap sebulan sesuai target bisa mengumpulkan uang. Hal ini disebabkan, Bu De mendapat arisan dan saya diberi tips dari membantu meminjamkan tikar tetangga serta menggelarnya dihalaman. 

Terkumpul Uang Rp. 7.500,  ku pesan dompet Dagadu seharga Rp. 5.000. Belum sampai seminggu, dompet idaman sudah ditangan. Langsung saja aku isi, uang Rp. 2.500 tabungan dan Buku Telepon mini.

Sebulan memiliki dompet, ternyata ada aksesoris lain. Ada semacam tali diikatkan pada dompet dan dihubungkan ke ikatam celana untuk sabuk. Aksesoris ini bertujuan saat dompet jatuh dari saku belakang masih tersangkut dan mengantung pada celana. 

Ingat itu ingin tertawa,Hahaha....
Teringat Dompet Pas Jatuh. Kayak monyet sedang jalan di pasar.

Pernah ada pengalaman, seorang kawan yang dompetnya jatuh, tidak dirasakan dan jalan ke warung sekolah. Oleh sejumlah kawan lainya beda kelas diteriaki. Awas monyet lewat! . 

Karena tidak sadar diri, kawanku tetap pede. Ketika sadar saat hendak membayar untuk satu kue di warung sekolah. Wajahnya pucat pasi dan mengawasi wajah satu persatu kawan lainya, agat tidak diledekin. Malunya minta ampun, tahu sendirilah. Mau gaya malah kebanyakan gaya. Apalagi ketahuan teman perempuan, bisa turun pasaran Jum. 

Lumajang Diserbu Dagadu

Dari penelusuran saya, Dadagu Jogya adalah sebuah brand cideraata yang digagas oleh mahasiswa dan alumni arsitektur Universitas Gadjah Mada Jogyakarta. Mereka mendirikan Dagadu dikarenakan memiliki kepedulian kepariwisatan dan ekonomi kreatif bagi Kotanya Sultan Hamengkubowono di tahun 1994.

Dagadu cepat melesat sebagai merk cideramata mulai dari Dompet, Kaos, gelang tangan hingga apa saja yang menempel ditubuh. Pendiri menjual produknya di Kawasan Malioboro yang dikenal sebagai pusat pertemuan banyak orang, karena ada pasar dan tempat nongkrong klasik sejak zaman kerajaan.

Dagadu cepat menyerbu ke Lumajang diperkiraan tahun 1994 hingga tahun 2000. Saya melihat banyak sekali re seller atau Toko Pakaian menjual produk Dadagu. Tetapi ada juga sebagian toko menjual merk Kaos seperti Dadung dari Bandung. Saat itu, Lumajang jadi pasar produk pakaian luar daerah.

Di Era tahun 2010-an Lumajang dalam soal oleh-oleh khas untuk cidera mata mulai mengeliat. Ada kumpulan anak muda yang memproduksi Kaos yang cukup dikenal dimasa itu. Nama Produknya, Mr.Banana. Kemudian ada Kopis, Gedang dan lainya. Sayangnya kreatifitas dan daya beli masyarakat belum meningkat. Bahkan, ketika dunia pariwisata Lumajang booming dalam 3 tahun terakhir, juga bisa menangkat sektor oleh-oleh bentuk Kaos, Topi, Tas. Entah ada apa dengan dunia bisnis khas Lumajang. Hanya Kripik Pisang dan sejenisnya mampu eksis.

Bisnis Cindera mata Lumajang adalah wirausaha yang sangat membantu bagi pembangunan kota ini dalam sektor pendukung Ekonomi dan Pariwisata berbasi masyarakat. Karena, wirausaha cideramata ada kedekatan dan karakteristik khas sebuah kota yang usianya lebih dari 700 tahun di kaki Gunung Semeru.Bisa menampilkan ikon budaya, seni, potensi dan hiruk pikuk kehidupan masyarakatnya.

Semoga kedepan pemerintah daerah peduli dan Lumajang tidak lagi diserbu Dagadu, Dadung atau merk cideramata dari daerah lainya. Meski belum terwujud, penulis sangat memiliki keyakinan Lumajang Bisa dan Pasti Juara. 

Post a Comment

0 Comments