Recents in Beach

header ads

Filosofi Sapu Lidi Ibuku

Royyan Anak Keduaku Pegang Penebah Lidi

"Lidi dan Ibuku mungkin tidak bisa dipisahkan. Sejak saya masih kecil lidi akrab sekali dengan betis, paha dan punggungku. Ada filosofi dibalik sapu lidi pada kenakalanku,"


Anak kecil memang dunianya bermain. Kalau sudah main, pasti lupa waktu. Main itu asyik. Main itu nikmat. Pokoknya main. Tapi bukan dilarang agama ya, seperti judi atau ke lokasi prostitusi. Main perempuan alias gonta ganti pasang. Selain dosa, bonus didunia adalah penyakit kelamin dan Aids. Jangan pokoknya. 

Saya akan bercerita masa kecilku begitu bahagia sekali. Sebagai anak desa. Tumbuh diareal pertanian dan dekat perkebunan tebu milik pabrik gula Jatiroto. 

Dari cerita ibuku, sejak balita sudah aktif bergerak. Bahkan, saat dalam kandungannya. Diriku tak mau diam dan selalu bergerak hingga jelang persalinan. 

Ketika masih umur satu minggu, saya sudah bisa begerak kemana saat tidur. Bahkan, selemabar kain yang dibalutkan usai dimandikan bisa lepas. Pokoknya tak mau diem, merangkak dan berjalan dengan cepat. Kurang dari setahun sudah lancar berjalan. Tak bisa diam dan mau keluar rumah. 

Saking tak bisa diam, saat masih kecil. Satu lidi kerap menjadi alat ibuku untuk memukulku. Hehhee... saking sayangnya seorang ibu pada buah hatinya. Ya, namanya juga nakalnya anak kecil. 

Ibuku bercerita, dari satu lidi. Ternyata, semakin usiaku bertambah. Lidi digengaman tanganya mulai bertamah dari 1,2, 3 hingga jadi penebah. 

Saat ingat saat usia 7 tahun dan sudah masuk sekolah dasar. Saya merasa menjadi anak dewasa. Setiap pulang sekolah selalu janjian dengan teman sepermainan untuk jalan-jalan, naik sepeda dan mandi disungai. 

Saat itu, saya bersama teman-teman ketahuan mandi sungai tanpa didampingi orang dewasa. Ibu menjemputku dengan membawa sekitar 5 buah lidi dari kelapa buatanya. Mulai dari pinggir sungai hingga tiba dirumah, lidi dipukulkan ke betisku secara berulang. 

Saya sampai lupa mengingat untuk menghitungnya. Pokoknya seperti orang yang sedang menuntun hewan ternaknya lagi ngambek dan terpaksa dipecut. 

Ada tetangga melihat aksi ibuku terhadap anaknya dianggap nakal. Si tetangga malah memberikan nyanyian tabuhan musik. 

"Tak tak Dung, dung tak," ujar dia seingatku. 

"Ning nong ning gung, tokol yu," ujar tetanggku lainya. 

Kalau ingat itu, akupun pernah dendam pada tetangga yang mengolok atau membullyku. Karena, mereka juga turut serta dalam menjadi pendukung ibuku untuk memukuli berkali-kali. Suatu saat akan ku balas, jika nanti punya anak dan nakal sepertiku. 

Kemudian kelas 3 SD, saya memiliki rutinitas ngaji diniyah disebuah pondok tak jauh dari rumah. Saat itu, ada tugas hafalan bacaan sholat. Karena tidak hafal, saya ingin bolos dan main jauh ke kebun tebu sedang panen. Waktu itu, saya pulang usai adzan ashar. 

Setiba dirumah, ibuku sudah marah. Gara-gara tidak ngaji sore ke pondok. Lagi - lagi, sekitar 5 batang lidi mendarat ke betisku. Aku hanya pasrah dan berdiam diri. Saya berpikir, jika ngaji dan tidak hafal. Bukan hanya diminta berdiri oleh ustad. Telapak tanganku akan mendapat hadiah pukulan sebatang bambu mirip jorang pancing. 

Menginjak SMP, tugasku semakin berat saat dirumah. Kakaku sudah harus ke kota besar untuk bekerja dan kuliah. Tangggung jawabku sebagai seorang anak, semakin berat. Tugasku bukan hanya menyapu halaman, tetapi juga dalam rumah. 

Pernah suatu hari, bangun agak siang dan belum menyelesaikan menyapu halaman. Ibuku pulang dari pasar. Ketika sedang menikmati indahnya mimpi dipagi hari, sebuah penebah (lidi diikat) mendarat di betis dan pahaku. Spontan terbangun dan lari ke kamar mandi.

"Gak sekolah tah, ayooo," ujar ibu sambil mengayunkan ikatan lidi.

"Ampuuunnnn," teriaku sambil berlari ke kamar mandi.

"Gak nyapu, malah tidur. Apa gak mau sekolah," gerutu ibu melihat anak keduanya sedikit bandel itu.

Saat SMA,  lidi penebah dan penyapu halaman sudah berganti bukan lagi dari pohon kelapa. Ibu membuat dari pohon aren. Saya ingat saat itu, ibu sedang diminta tolong oleh orang untuk membuatkan kue. Ibuku terpaksa harus menginap 3 hari. 

Waktu itu hari minggu. Biasalah, sebagai anak muda. Sabtu Malam Minggu main ke kota Lumajang sambil nonton film Midnight di Bioskop. Pulangnya sudah pagi dan langsung tidur. Ternyata, saya lupa untuk menyapu dan bangun kesiangan. Tiba-tiba dalam mimpiku, saya dikejar maling dan kena pukul. 

"Ayoooooo," teriak ibuku dengan penebah dari lidi Aren.

"Wadawwww," teriaku lebih keras.

"Kok Tidur saja, Halaman belum disapu, bikin malu ke tetangga," ujar ibuku sambil menyabetkan lidi.

"Ampunn," teriaku sambil menahan ngantu dan langsung mengambil alat sapu.

Ketika sudah merantau, bekerja dan kuliah. Lidi sudah jarang mendarat ke betis dan pahaku. Sudah tidak ada lagi bekas dan memerah dikala tidak bangun pagi atau pulang terlambat kerumah. Entah kenapa, saat liburan panjang kuliah dan bekerja. Saya dengan teman kampung bereunian dan ngobrol sampai pagi.

Saya pulang sekitar pukul 2 pagi dan langsung tidur. Tanpa diduga, penebah dengan lidi mendarat lagi dibetis dan pahaku. Ibuku masih dengan perkataan dan nada yang sama saat memukulku.

"Wadaw, Kayak Bos dan  tidak mau bantu-bantu," ujar ibuku usai melayangkan penebah pada  punggungku.

"Astafirullah, dipukul lagi," ujarku sambil mengerang kesakitan.

"Biar, Sudah besar kok gak mau peduli," jelas ibuku sambil melayangkan penebah.

"Ampuuun," teriaku lagi.

Lidi dan Ibuku seakan menjadi sahabat karib. sekitar 24 tahun lidi sangat akrab dengan tubuhku. Entahlah, saya tidak pernah bertanya kenapa memukulku dengan lidi atas ulahku yang dianggap salah atau keliru. Lidi sekaan menjadi saudara kandung dikala, tindakanku dianggap sudah diluar batas wajar oleh pemahaman ibu.

Sempat terpikir olehku, apakah lidi juga sebagai alat pembersih layaknya sapu halaman atas sampah-sampah daun kering. Sehingga, untuk menghilangkan kenakalan, kemalasan dan keburukan tindak lakuku dengan filosofi Lidi.

Dari berbagai sumber, Sapu Lidi memilii Filosifi persatuan. Jika lidi tercerai berai tidak dalam satu ikatan akan sulit menjadi alat pembersih. Karena, tidak ada persatuan yang mengikat pada puluhan lidi. Seperti Indonesia, dengan aneka ragam budaya, Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan perlu ada alat pemersatu sebagai dasar negara yakni Pancasila. Terikat dalam Bhineka Tunggal Ika.


Post a Comment

0 Comments