Recents in Beach

header ads

Petani Busan Diserbu Modernitas Lumpur





Sebuah desa disebelah timur sungai. Hiduplah seorang petani. Busan panggilanya. Dia memiliki 1 hektar tanah dan sawah.

Rumahnya berdinding anyaman bambu dan beratap ilalang. Hidup bersama istri dan dua buah hatinya. Untuk menghidupi keluarganya dari hasil bercocok tanam.

3 hari lalu dia sudah membajak sawahnya dan menanami padi, jagung dan umbi-umbian. Selain bertani, Busan juga bekerja sambil sebagai buruh tanam dan tebang diperkebunan milik juragan Samoed.

Hidup sederhana disebuah pedesaan, bukan sebuah hinaan. Busan selalu berkumpul dengan para tetangga untuk berbincang berbagai hal tentang pertanian. Mengenai pembangian air dan saling membantu saat musim tanam serta panen.

Desa Timur Sungai sangat tenang dan warganya guyub rukun. Saling berbagi dan menjaga toleransi. Hidup berkecukupan bagi warga dari lumbungnya.

Kemajuan teknologi membuat orang pintar datang ke Desa Timur Sungai. Bercerita peradaban pertanian di negeri sebrang. Jika pertanian di Negeri Paman Sam dan Sang Ratu jauh lebih maju.

Awalnya memberikan bantuan tanpa bunga, alias gratis mengatasnamakan program pemerintah. Tanaman di Desa Timur Sungai semakin cepat panen. Modernisasi telah mengubah kultur pertanian dan gaya hidup. 

Sejumlah informasi dari buku bertebaran mengenai kemajuan pertanian negeri Sebrang. Permintaan hasil pertanian meningkat dari negeri sebrang, tapi bibit dan obat-obatan sulit didapat. Jikapun ada mahal. 

Warga Desa Timur Sungai tergantung akan cost produksi dari kemajuan teknologi pertanian. Akibat ketergantung mereka akan membeli walaupun harganya naik. Ketergantung pada pola modern, menyebabkan hasil pertanian tak seimbang dengan modal awal. 

Modernitas telah mencengkram dan makin dibutuhkan. Semakin panjang rantai kebutuhan bibit dan obat-obat pertanian untuk bisa langsung ke petani. Kemudian, permainan pada tengkulak, pengepul dan pedagang hasil pertanian, semakin mendekap makin rendahnya nilai jualnya.

Busan tak lagi kuasa menahan kapitalisme dalam pertanian. Apalagi, sudah semakin langkanya buruh garap pertanian. Mereka memilih bekerja pabrik dan berdagang keliling. Akibatnya, nilai ubah buruh meningkat, semakin membebani cost produksi.

Memiliki lahan pertanian dibawah 1 hektar tak lagi memakmurkan. Profesi petani semakin tak diminati, apalagi kalah dengan citra orang berdasi dibanding memakai capil. Busan bersama tetangganya, semakin terjebak dalam sebuah lumbung dalam penetrasi pasar membawa modernitas dunia pertanian. 

Apalagi, Busan sering menjumpai tetangganya menjual lahan pertanian, demi menjadikan anak mereka sebagai aparatur negara. Mereka menganggap sebuah investasi jangka panjang dan menaikan harkat serta martabat keturunan. 

Menjual lahan pertanian demi sebuah kelas, gengsi dan kursi. Agar dipandang orang terpandang. Profesi tani seakan dianggap kelas rendahan, bukan lagi nigrat. Kini Desa Timur Sungai, tak ubahnya pertanian tanpa roh. Hidup dengan lumpur laksana medan tempur dan dikuasi para borjuis sepur. Gerbong para kaki-kaki kapitalis bergaya lumpur.

Post a Comment

0 Comments