Recents in Beach

header ads

Profesi Dukun Tergerus Zaman

Ilustrasi Profesi Dukun

"Ditengah kemajuan pengetahuan teknologi informasi. Profesi Dukun mulai tergerus. Kini muncul berbagai macam jenis profesi baru"

Saya sebagai anak kedua. Kelahiranku tak ada cerita yang menarik dan menegangkan seperti kakakku. Maklumlah, mungkin ibuku sudah berpengalaman atas persalinan pertama. Tak ada banyak cerita aneh ataupun unik tentang kelahiranku didunia. Yang pasti berkesan. 

Oh ya,  saya akan menuliskan tentang 2 dukun perempuan yang sangat berjasa padaku. 

Pertama, Dukun beranak Mbok Kerti, asal Desa Blukon Kecamatan Kota Lumajang. Dia yang membantu persalinan ibu saat melahirkanku menghirup dunia. Perempuan tua yang dikenal pintar dalam mengurus wanita hamil hingga merawat bayi cuplak puser atau tali pasenta diperutku mengering.

Ibuku mulai mengalami perut mulas sejak Sore hingga malam. Kemudian kontraksi hebat pada hari kamis dini hari ditahun 1983. Bapak dengan sigap menyusul Mbok Kerti untuk membantu kelahiranku. Sekitar Jam 3 dini, tangisku pecah sebagai tanda lahir ke dunia ini. 

Saya anak lelaki kedua, bapak sangat senang. Memiliki dua jagoan. Tak tanggung namaku diambil dari bahasa arab memiliki arti yang sangat bagus. Bahrul Ulum arti bahasa Indonesia Lautan Ilmu disematkan padaku, dengan diselameti jenang abang. Tentunya dido'akan bacaan kitab suci Al-qur'an. 

Saat usiaku menginjak 3 bulan. Penuturan ibu, kondisi kesehatan tubuku tiba-tiba sakit-sakitan. Dua hari panas, sehari sembuh. Membuat keluarga besarku was-was akan kondisiku yang lahir sehat, berubah sakit-sakitan. Dibawa kedokter atau bidan desa tak mampu membawa kebaikan. Setiap hari menangis tanpa henti, bukan seperti bayi pada umumnya. 

Akhirnya, ibu dan buyut membawaku ke seorang dukun suwuk bayi. Dari ilmu penerawangannya harus berganti nama dan diselameti lagi. Nama dari Mbok Tiyo adalah Tu'i. Jika sudah diganti akan membawa perubahan pada kesehatan tubuhku yang sakit-sakitan. 

Buyut dan ibuku pulang ke rumah dan menyampaikan hasil bertemu dengan duku perempuan di desa. Akhirnya, dari musyawarah keluarga. Bapakku juga harus rela melepaskan nama baikku. Anak laki-laki keduanya yang diharapkan memiliki banyak ilmu seluas lautan, harus berganti nama untuk keselamatan buah hatinya. 

Akhirnya, saya menyandang nama Tu'i. Para anggota keluarga besar yang awalnya memanggilku Bahrul si Lautan. Hari setelah pergantian harus membiasakan nama Tu'i. 

"Hai Tu'i," ujar Pak De. 

"i Tu'i, " panggil Sepupuku

"Cong Tu'i," Kata Tetanggaku

Arti nama Tu'i juga tidak pernah ada atau ku dapat keterangan dari ibu dan almarhum bapak. Namun, dari penelusuran dan jejak pemberian nama jawa serta Al-qur'an tidak ditemukan. Tapi, saya memakai ilmu kait mengaitkan, jika Tu'i sama dengan Tohpati dengan makna bertaruh nyawa. Semoga benar, bila ada yang salah silakan berikan komentar dibawah.

Dukun itu Profesi

Oke, saya akan bahas siapa itu dukun. Dari berbagai sumber literasi yang saya baca. Dukun adalah orang pintar, terampil, ahli dan unik. Orang pintar berbagai hal dizaman dahulu pasti mendapat sebutan dukun.  Jika sudah tua dipanggil nyai, mbok dan mbah. 

Dukun dalam hal kemampuan bisa hadir sejak lahir karena bakat. Dukun bayi, secara tidak sengaja atau tidak bisa membantu persalinan waktu itu. Tanpa ada mengajari dengan lihai menangani perempuam hamil melahirkan keturunanya. Itupun dari pengalaman atau ilmu diserap dari cerita atau dongeng. 

Ada juga dukun, karena belajar pada seorang guru atau ahlinya. Jadi, sebelum dipanggil dukun atau menangani persalinan. Biasanya orang tersebut menjadi pembantu (assisten). Ada juga memang diajari karena masih ada hubungan keluarga, anak, ponakan, sepupu atau orang lain mau belajar. Hal ini juga terjadi pada dukun suwuk. 

Dukun bayi memang ditahun 90-an kebawah menjadi primadona. Itupun sebelum ada sekolah perawat dan bidan. Pasalnya, pengetahuan masyarakat tentang ilmu medis, kedokteran atau kesehatan pada umum masih kurang. 

Ditahun 2000-an, posisi dukun bayi tergeser sejak ada bidan masuk desa. Peran dukun mulai berkurang, sejak ada Posyandu. Bidan desa dengan program pemerintah melakukan pengawasan ketat pada ibu hamil, lantaran banyak penelitian. Proses persalinan memakai jasa dukun bisa menyebabkan angka kematian dan kesehatan pada ibu serta balitanya. 

Peran dukun bayi hanya menjadi pendamping atau assisten bidan untuk merawat bayi saat lahir. Bahkan, adanya sebuah keyakinan atau kepercayaan masyarakat, seorang dukun menangani persalinan dengan diawasi bidan. 

Ditengah kemajuan dunia kesehatan dan pemahaman masyarakat. Peran dukun bayi sudah tak lagi didengar. Sehingga, tak banyak orang desa khsusus untuk berprofesi dukun. Pasalnya, sudah ada profesi lebih berilmu yakni bidan. 

Namaku Bermutasi

Namaku kemudian berubah lagi saat masuk sekolah taman kanak-kanak (TK), diganti Hariyanto. Nama itu tercantum daftar resmi. Namun, di keseharian Tu'i Hariyanto. Ada yang memanggil Tu'i dan Hari. Untuk Tu'i panggilan akrab di sebagian keluarga. Sedangkan panggilan Hari pada teman sekolah TK dan wali murid. 

Ibuku sempat was-was jika ganti nama panggilan bisa berdampak pada kesehatanku. Tapi, hanya sakit gigi yang sering kumat-kumatan. Hal ini disebakan gigi geraham kanan tidak tumbuh sempurna alias berlubang. Nama Hari langsung melekat hingga sekolah SD. 

Lagi-lagi namaku berubah saat lulusan SD, ijazahku diganti nama Harry Purwanto oleh kakaku Budi Purwanto. Semua itu tentu atas persetujuan bapak dan ibu, serta guru dan kepala sekolah SD waktu itu. 

Masuk SMP, nama baruku dipatenkan. Saat itu, saya urus sendiri dibantu kakakku untuk menyiapkan berkas-berkasnya. Seingatkan kantor catatan sipil ada di Jl. Juanda selatan Mapolsek Kota Lumajang (sekarang). Nama Hariyanto dan Harry Purwanto tidak melalui dukun, tetapi hasil analisa dan pengalaman dari orang terdekatku. Oh ya, mari kita daftarkan anak kita untuk memiliki akte sebagai pengakuan dimata hukum negara. Akte adalah salah satu pengakuan resmi, kita adalah warga negara Indonesia.

Profesi Dukun Tergerus

Kemajuan teknologi informasi saat ini, memang mengerus profesi dukun.  Kenapa bisa, tugas persalinan sudah diganti bidan. Dukun suwuk atau penerawangan juga dikalahkan teknologi dinamakan Mbak Google. Tinggal ketik apa yang mau dicari akan muncul segalaya. Sumbernyapun dari berbagai pandangan dan tinjaun ke ilmuan.

Namun profesi dukun tetap saja dicari oleh orang dikala akal sehat tak mampu menembusnya. Ada orang ingin sukses dalam pekerjaan, bukan mencari konsultan tetapi datang ke dukun atau orang pintar yang bisa memprediksi dan membantu usahanya. 

Ingin lolos Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), yang masih percaya kekuatan hal gaib akan minta bantuan ke dukun. Awas lo, bisa musyrik dan sirik. Dalam Islam, tidak ada yang berkehendak kecuali Allah SWT. Kun Fayakun. Jika terjadi, terjadilah atas ijin Allah. Tidak ada kekuatan paling besar Dari-Nya. 

Profesi Dukun bisa jadi hal menyesatkan dan disalahgunakan oleh orang untuk penipuan. Tak salah, ada dukun masuk penjara, karena tindakan asusila. Akhirnya, disebut dukun cabul. Apalagi di pesta demokrasi, bisa disebut dukun politik.

Seperti diuraikan diatas, zaman dahulu orang yang pintar, terampil atau ahli dibidang tertentu disebut dukun. Namun, ada pergeseran makna dukun diera keterbukaan. Bahkan, profesi orang ahli sudah banyak sebutanya. Membantu persalinan bidan, soal bangunan arsitek, ahli hukum bisa pengacara, jaksa dan hakim. Dan masih banyak lagi sebutan orang pintar mengantikan label Dukun. 

Tapi jangan sampai memiliki semboyan, Cinta Ditolak, Dukun Bertindak. Berserah diri pada Allah SWT, jauh lebih hebat dan bermartabat bukan. Jangan ke Dukun malah sesat, melarat dan sekarat. Sekian cerita soal dukun, biar kita tidak pikun kebudayaan

Post a Comment

0 Comments