Recents in Beach

header ads

Stop..! Rasisme di Sepak Bola Lumajang



Dunia sepak bola Nasional sedang menghadapi persoalan yang rumit dan komplek. Adanya dugaan kasus match fixing yang menyeret sejumlah petinggi federasi sepak bola Indonesia. Selain itu, ditahun 2018 silam, kasus terbunuhnya supporter Persija saat hendak memberikan dukungan ke stadion rival.

Ada kejadian menarik dan perlu menjadi perhatian insan sepak bola di Lumajang. Ketika, dunia sepak bola sedang memerangi Rasis dalam bentuk apapun. Di Lumajang tiba-tiba muncul chants Rasis "Di bunuh" dipertandingan pra PORPROV di Stadion Semeru yang merupakan ajang bergengsing atlet sepak bola antar Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Pertandingan bola yang tidak mempertemukan klub, tetapi ajang pembuktian sebuah pengurus bola di Kabupaten/Kota bisa melahirkan sepak bola handal untuk meraih pretasi.


Chants Rasis mulai didengungkan oleh elemen supporter di Indonesia sejak kekerasan di dunia sepak bola sudah mengarah permusuhan dan meninggalnya supporter. Dilansir dari Bolasport.com dan Tribunnews.com (29/9/2019), mengangkat berita tentang gerakan Aksi Hapus Chant "Dibunuh Saja" di media sosial.

Bahkan, sejumlah pentolan supporter seperti,Bonek, Bobotoh, Snex mendukung penghapusan Chants yang dibahas diatas. PSSI selaku federasi sepak bola tertinggi di Indonesia mengamini soal larang keras Chants mengandung rasis. Mereka meminta wasit untuk menghentikan pertandingan dan mengkaji untuk memberikan sanksi pada supporter serta klub.

Chants Rasis "dibunuh saja" dinilai oleh kalangan pakar hukum, ahli hukum, pemerhati hukum dan mahasiswa hukum, sudah masuk dalam tindak pidana kekerasan atau ancaman kekerasan. Hal itu termaktub dan tertuang pasal 175 KUHP dan atau pasal 336 KUHP serta Pasal 335 KUHP. 

Kapan dan dimana chants rasis muncul di Stadion Semeru, ketika ada laga Pra PORPROV antara Tim Kabupaten Lumajang menghadapi Kabupaten Banyuwangi. Tribun timur stadion semeru oleh pihak panpel digratiskan untuk kalangan pelajar. Diharapankan ada tontonan dan nantinya sepak bola semakin diminati.

Sayangnya, ada kelompok oknum supporter yang menyanyikan lagu rasis "dibunuh". Sayup-sayup lagu terdengar membuat panpel kaget, pertandingan sepak bola bukan antar klub, malah dibuat ajang mempertontonkan lagu Rasis. Apalagi, ada aksi tindakan tidak terpuji, yakni Vandalisme. Sebuah aksi perusakan sarana publik khusus olah raga.

Aksi Rasis dan Vandalisme merupakan aksi teror bisa dikatakan menganggu kepentingan publik, khususnya olah raga dan wabil khusus dunia sepak bola. Tribun Stadion Timur dibangun untuk mengairhkan sepak bola, malah dipakai sarana aksi yang sudah mengarah kriminalitas.

Sepertinya, sudah waktunya insan sepak bola Lumajang khususnya untuk memperhatikan hal kecil dikota ini soal Vandalisme dan Chants Rasis. Aksi ini bukan semakin membangun dan menjadikan olah raga prestasi, tetapi sudah pada perusakan citra Kabupaten Lumajang yang kita cintai. Gerakan itu harus dilakukan oleh kelompok supporter, anggota klub PSSI dan yang pasti PSSI Lumajang bersama KONI.

Penulis yang sangat mencintai olah raga, khususnya sepak bola. Apalagi, Penulis sebagai pengurus PSSI dan KONI tak bisa berdiam diri untuk menyuarakan mengajak masyarakat Lumajang lawan aksi Vandalisme dan Chant Rasis.

Post a Comment

0 Comments