Recents in Beach

header ads

Tuman Ganti Nama di Dispendukcapil



Disebuah sekolah dasar di pinggiran Kota di Kaki Gunung Semeru. Ada sekelompok anak-anak yang sedang digandrungi permainan online pertempuran. Dari 5 orang anak yang tumbuh bersama sejak masih balita, hanya Sukri dari keluarga berada.



Dikampung itu, kakek Sukri terkenal terpandang, bahkan satu-satu orang yang memiliki televisi zaman dulu. Sehingga, banyak warga yang numpang untuk menonton televisi masih hitam putih.



Sukri ditengah kemajuan teknologi komunikasi, anak yang dibelikan ponsel pintar. Dia dikenal pandai dan dukungan orang tuanya sangat besar.



Sukri memiliki sahabat dekat bernama Satuman dan rumahnya bersebelahan. Bapak Satuman ikut bekerja pada keluarga besar Sukri.



Selain Satuman, teman Sukri ada Edy, Naryo dan Sujak. Mereka ada 5 sekawan dan sering main bersama. Ketika, dunia digital sudah maju, Sukrilah yang paling dulu paham dan mengerti. Ketika pulang sekolah, Sukri sering membawa ponsel pintarnya berisi game-game online.



"Ayo kesini rek, ada game perang-perangan terbaru," ajak Sukri.



"Game apa Suk," tanya Edy.



"Jangan tanya aja, nanti sama sukri dikasih tahu," jelas Naryo.



"Ikutan rek," sahut Satuman.



"Ikut Saja kamu Man," ledek Sujak anak paling jago berkelahi.



Sukri kemudian mengajari teman-teman bermain PUBG game online. Mereka bergantian belajar memakai ponsel pintar.



"Ayo kamu dulu Ed," ujar Sukri.



"Kalau selesai aku ya," jelas Naryo.



"Satuman belakangan aja ya," sahut Sujak sambil mengepalkan tangan ke Satuman.



"Wes..wes...wes, gantian, tapi hati-hati lok rek," ungkap Sukri.



5 Sekawan itu sangat semangat untuk belajar game online terbaru. Bahkan, mereka saling bercanda dan mengejek bila ada yang salah.



"Lha khan, pencetnya gak cepet, Tuman ini," ujar Naryo pada Edy.



"Kamu itu bisanya mengejek aja, Tuman koen," ujar Edy Ke Naryo.



"Satuman iku loh, gak iso blas, diam aja," jelas SUjak pada Naryo.



"Diam-diam sok ngerti, padahal goblok, tuman iku," ledek Naryo ke Satuman.



Mereka yang bermain ke rumah kakek Sukri sangat ramai dan mengundang perhatian orang. "Ojo Rame ae rek," sergah Kakek Sukri, Mbak Tukijan.



"Tuman mbah," koor edy, Naryo dan Sujak meledek Satuman.



"Sak Karepe we rek, koen ilokno aku opo wae," pasrah Satuman.





Satuman memang hanya bisa pasrah dan sabar menghadapi teman-temanya yang ribut dengan ponsel pintar milik Sukri. Satuman yang gak sempat kebagian meminjam ponsel akhirnya memilih pulang dahulu. Pasalnya, dia harus mencari rumput alias ngarit buat si Joni ( sapi kesayangannya).



Setiba dikandang untuk mengambil sabit (clurit untuk mencari rumput) dan wadah. Dia kepergok ibunya, Ning Satumi.



"Main sampai sore, lupa cari rumput, Tuman iki," ujar Ning Satumi sambil menjewer Satuman.



"Aduh Buuu..!, Jangan jewer kuping sakit lo," balas satuman sambil meringis.



"Wes buuuu, ganti aja namaku ben gak Tuman ae,"



"Kamu berani, namamu itu pemberian mbahmu,"



"Wes cukup, aku mbok jeweri nok Hpne Sukri Tuman yo viral jare, pokokke ganti," pinta Satuman sambil menangis.



"Piye toh, nyelameti Jenengmu iku entek Sapi loro le,"



"Kapok aku duwe jeneng Satuman,"



Satuman akhirnya ngamuk dan malas mencari rumput. Dia tetap pada pendiriannya untuk ganti nama dan minggat kerumah kakeknya. Ning Satumi, akhirnya luluh juga dan menganti nama Satuman. Sutarman seperti nama Kapolri dan harapanya si anak menjadi aparat kepolisian republik Indonesia.



Ning Satumi kemudian mengurus nama Satuman menjadi Sutarman ke Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Apalagi, usai pilkada untuk pengurusan akte kelahiran gratis dan selesai hanya sehari. Meskipun Antri Satumi dan Sutarman rela antri sejak pagi hingga sore. Sudahkah kalian punya Akte Kelahiran. 

Post a Comment

0 Comments