Recents in Beach

header ads

Di Negeriku, Nyawa Tak Semahal Pemilu



Konstelasi politik Pemilu 2019 memakan waktu yang sangat lama, mulai dari masa kampanye 6 bulan, tahapan oleh KPU, pencoblosan dan rekapitulasi dari tingkat TPS ke PPS, PPK hingga ke KPU. Persaingan antara calon presiden dan wakil presiden oleh tim sukses bersama pendukungnya semakin membuat hiruk pikuk situasi politik negeri ini.

Akibatnya, adanya dua kandidat pasangan Capres/Cawapres membuat warga Indonesia terbelah menjadi dua kelompok. Polarisasi politik dukungan mengental. Apalagi, isu yang diangkat oleh kedua kubu bertolak belakang hingga saling serang di media massa hingga media sosial.

Politik Biner tidak bisa dielakan dari polarisasi dukungan pada kandidat capres. Antara suka tidak suka, kawan lawan, baik dan buruk, hingga dosa dan pahala menjadi komoditas jualan dari meraih kekuasaan.

Di calon legislatif mulai dari tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota tidak kalah ramai ditingkat graas root. Dimana para pendukung dan simpatisan caleg adu gagasan dan tawaran politik pada konstituen.

Bumbu persaingan antar Caleg hingga terbawa pada isu politik capres. Sehingga makin merumitkan perpolitikan negeri ini, dari pada jualan gagasan ide perbaikan sendi kehidupan bangsa, malah mengarah pragrmatisme dan transaksi materi.

Adanya polarisasi dukungan mengakibatkan, penyelengara Pemilu tidak lagi bisa tenang. Kritik mengenai adanya kotak suara dari kertas "Kardus" dan tercoblosan kotak suara semakin memapar ketidak optimisan atau dis kepercayaan pada penyelengara.

Masyarakat terpapar isu berisi pesan untuk awas mengawasi dari tindakan kecurangan pelaksanaan pesta Demokrasi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) bersama Bawaslu terus meningkatkan kinerjanya ditingkat bawah dibantu aparat keamanan lokal, TNI dan POlri.

Proses pencoblosan di TPS, juga memakan engergi para Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Mulai dari persiapan mendirikan tenda TPS, menunggu dan menjaga surat suara hingga proses pencoblosan serta rekapitulasi. Dari pagi ke pagi melakukan kerjanya mulai dari penghitungan prolehan suara Capre/Cawapres, DPD, Caleg RI, Provinsi hingga Kabupaten/Kota.

Pemilu 5 tahunan yang melelahkan, hingga memakan korban jiwa bagi penyelengara dan petugas keamanan untuk Pemilu Aman dan Sukses.

Korban Pemilu

Pelaksanaan Pemilu selalu saja memamakan korban, dari data dihimpun dari media massa. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, melansir ada 86 petugas yang mengalami musibah. 54 orang meninggal dunia dan 32 orang sakit dari penyelenggaraan proses pemungutan hingga rekapitulasi.

Para penyelenggara meninggal dunia dan sakit disebabkan kelelahan serta mengalami kecelakaan untuk mengawal lancarnya Pemilu 2019 ini. Data ini saat proses penghitungan hingga ditingkat PPK, belum ke KPU.

Sementara dilansir dari Karopenmas Divisi Humas Polri, ada 15 onggota meninggal dunia saat melakukan pengamanan. Penyebabnya adalah kelelah, riwayat penyakit dan kecelakaan lalu lintas.

Anggota Polri jauh lebih beruntung, karena Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan kenaikan pangkat luar biasa dan santunan pada keluarganya.

Ini berbeda dengan penyelenggara Pemilu ditingkat TPS, belum ada sebuah kebijakan dari KPU maupun pihak terkait untuk memberikan penghargaan. Mereka menjadi tumbal dari mekanisme atau kebijakan negara menjalankan pesta Demokrasi mencari pemimpin dan wakil rakyat.

Pemilu 2014 silam, juga ada puluhan korban jiwa yang sama di Pesta Pemilu. Hal ini belum menjadi perhatian dalam memberikan rasa nyaman bagi penyelenggara dan petugas keamanan.

Di Kabupaten Lumajang ada 2 Pelindung Masyarakat (Linmas) meninggal dunia saat pelaksanaan Pemilu. Mereka M sholihin (46) anggota linmas TPS 24 Desa Pulo Kecamatan Tempeh. Ia sempat merasakan pusing saat rekapitulasi pemungutan suara berlangsung sekitar pukul 15.00 wib. Kemudian Almarhum sempat dibawa ke puskesmas Gesang akan tetapi dipuskesmas beliau menghembuskan nafas yang terakhir. 


Anggota Linmas ke 2 Sukri (60) bertugas di TPS 13, Dusun Krajan Desa Kaliuling Kecamatan Tempursari. pada tanggal 16 april saat sedang mengawal pendistribusian kotak suara dari PPS ke TPS. Korban mengeluh sakit sesampai di TPS dan kembali lagi ke balai desa dan minta untuk diganti karena merasa sudah tidak kuat jaga. 

Selama dirumah kesehatannya terus memburuk dan pada tanggal 18 april 2019 beliau menghembuskan nafas terakhir di puskesmas Pronojiwo. Selamat jalan pejuang demokrasi. Sudah cukup, Pemilu menjadi bencana bagi penyelenggara dan petugas keamanan. Semoga kalian diterima disisi Allah SWT.

Pemilu Sebuah Bencana

Pemilu berulang kali pelaksanaan selalu membawa korban jiwa. Kejadian ini seakan menjadi siklus rutin 5 tahunan. Sehingga perlu sebuah regulasi aturan yang jelas, agar pelaksanaan Pemilu untuk memilih pemimpin bangsa, tidak harus menjadikan rakyatnya sebagai tumbal Demokrasi.

Alih-alih pembenaran, mereka disebuat Pahlawan Demokrasi. Sebuah cap atau merk untuk menutupi kebobrokan pelaksanaan pesta demokrasi 5 tahunan. Nyawa di Pemilu seakan lebih murah dibandikan mencari Pemimpin. 

Pemilu bisa disebut sebagai bencana non alam, sebagai rangkaian peristiwa bukan karena alam yang menyebabkan korban jiwa. Hal ini disebabkan bagian dari kegagalan proses pelaksanaan. Sehingga manusia yang menyelenggarakan menjadi korban.

Sistem Pemilu harus banyak perubahan untuk mengurangi terjadinya korban jiwa. Sehingga lebih memanusiakan manusia seutuhnya.. Pemilu buah dari Demokrasi untuk perang gagasan. BUkan lagi Perang antara manusia dengan saling tika dan menembak. Pemilu jangan lagi jadi penyumbang kematian manusia di Dunia.

Meminjam pernyataan Tan Malaka, Kalau Sistem itu tidak bisa diperiksa kebenarannya dan tak bisa dikritik, maka matilah ilmu pasti itu. Sistem pemilu harus sudah berubah, lihatkan negeri tetangga yang sudah menggunakan teknologi seperti Singapura. Apalagi di India melalui teknologi ciptaanya sendi mampu menjalankan Pemilu dengan baik dan benar.

Pemilu 5 tahun kedepan harus bisa menakan angka kematian warga Indonesia yang menjadi penyelenggara dan petugas keamanan. Sehingga Pesta Demokrasi di Indonesia tidak mencari pemipin diatas tetesan air mata ibu pertiwi.

Jangan ada lagi kesedihan. Di Negeriku, Nyawa Tak Semahal Pemilu. Sistem Pemilu harus berubah, bukan Kotak Suara dari Kertas saja. Ingat satu suara menentukan Indonesia. Ingat, Satu Nyawa sangat berharga bukan. 

Post a Comment

0 Comments