Recents in Beach

header ads

Dilan di Warkop Literasi

 
Buku Di Warkop "Tjangkir Cafe"


Indonesia sangat kaya sumber daya manusia dan alam yang luar biasa. Banyak sekali bukti tingginya peradaban nusantara. Mulai dari aksara dan bangunan dengan mengadopsi hubungan manusia dengan alam dan penciptanya.

Buktinya, ada ratusan suku, bahasa dan adat istiadat jadi satu terangkai dulu disebut nusantara. Banyak penulis dari negeri sebrang menyebut Indonesia adalah surga.

Entah berapa tulisan sudah termuat menjadi buku dan tulisan ilmiah dari para peneliti atau wisatawan mendapat decak kagum pembacanya. Akibatnya, banyak sekali orang asing ingin plesiran di Nusantara untuk mengetahui dan memahami keragaman yang terbingkai dalam dasar negara "Pancasila".

Entah mengapa, dikala pujian membanjir dengan keragaman dan keunikan negeri Indonesia. Tidak menjadi pelajaran berharga dan malah terbuai dengan pujian.

Budaya literasi yang masih rendah menjadikan bangsa Indonesia dalam berbagai survey selalu menjadi urut terbawah kedua. Entah, apakah ini sudah membudaya atau malas.

Sudah banyak peneliti dan penulis tentang bangsa Indonesia disegani oleh dunia. Kita hanya jadi penonton, bertepuk tangan dan memberikan ucapan terima kasih, anda telah menulis kami.

Budaya lisan dan mendengar seakan menjadi habitus orang Indonesia. Siapa yang mau meremehkan, kita jago berpantun. Orang melayu jagonya. Untuk nembang, orang jawa. Mendongengpun sangat mampu dan cerita rakyat berserakan dengan nilai budi luhur luar biasa.

Warkop Literasi

Saya berkunjung ke sebuah warkop "Tjangkir Cafe" dan kaget. Ada tumpukan buku tertata rapi berisikan novel bagus. Mataku makin terbelalak saat ada sebuah karya tulis bentuk buku karya, Dr. Soesilo Toer adik sang begawan tulisan Tetera logi Bumi dan Manusia, Pramoedya Ananta Toer yang beberapa buku karyanya pernah dilarang beredar oleh rezim orba.

Bagiku, adanya rak buku disebuah warung kopi sebuah terobosan baru ditengah kemajuan teknologi informasi. Dikalah semua informasi sudah ditangan yakni di Smartphone yang kita miliki. Namun, ada saja anak muda yang masih peduli mengajak sekitarnya dalam budaya membaca.

Dari cerita Shavik pemilik Tjangkir Cofe, ada seorang temannya yang hobi naik vespa tertarik menaruh bukunya. Keinginanya hanya ingin menularkan budaya membaca buku sambil mampir minum kopi. Dia bernama Hefni Trinanda pemilik akun Instagram, Buku Kakilima.

Meski aku tak mengenal secara langsung, dengan koleksi bahan bacaan novel miliknya. Dia seorang yang memiliki pengetahuan yang luar biasa dan cita-cita terpendam. Ibaratnya, emas yang masih terpendam di Lumajang. Dia bergerak dalam kesunyian untuk memberikan roh literasi bagi kotanya.

Buku yang dipajang ternyata, sering banyak dibaca. Dari beberapa kali, saya datang tatanan buku dirak sederhana selalu berubah. Pengakuan sang pemilik Warkop, para pelangganya sering membaca baik laki-laki dan perempuan.

Si Herfin sudah berpesan pada Shavik, jika bukunya dibaca akan berubah secara alamiah tatanya. Karena para peminat akan menaruh seadanya dan tidak tertata para pembaca buku fanatik.

Inilah adalah sebuah oase ditengah hutan rimba Lumajang dikala sepi budaya literasi membaca. Karena dengan membaca entah itu novel, fiksi atau buku ke ilmuan pada umumnya. Si pembaca sudah memiliki bekal dalam hidupnya. Ibarat dalam beragama, mendapat hidayah.

Lumajang Butuh Literasi

Di Alun-alun Barat bekas SMPN 1 Lumajang berdiri sebuah peerpustakaan terbesar di kotaku. Saban hari sering disambangi para kaum literasi. Namun, kegiatan literasi di kota Pisang masih dilakukan sekitar 2 Komunitas yakni, FLP dan Gatra dalam beberapa tahun ini.

Pemerintah perlu terus mendukung kerja sosial para 2 komunitas ini, agar bisa menular pada komunitas lainya. Karena, dari survey dari beberapa lembaga, Indonesia selalu mendapat peringkat kedua dari bawah dari beberapa negara. Ini butuh kerja keras, karena literasi bukan hanya membaca tetapi juga menulis.

Semoga di Lumajang tidak ada kejadian seperti daerah lainya, mengenai razia buku dianggap kiri atau berbau komunis. Pasalnya, ilmu pengetahuan selalu memberikan hal baru, bukan kebenaran absolut. Hal ini butuh perhatian dan pendampingan pada kelompok masyarakat yang memang menyediankan tempat literasi.

Negara sangat berperan dalam menunjukan warga negaranya memiliki budaya intelektual yakni literasi. Sehingga, pengetahuan bisa ter-transformasi secara berkelanjutan. Apalagi sudah banyak karya tulis dalam bentuk buku di filmkan. Seperti Dilan, 9 Menara, Mengejar Matahari dan sebagainya.

Semoga Lumajang kelak dikenal sebagai kota Literasi diusia sudah ratusan tahun. Salam Literasi buat kalian.

Post a Comment

0 Comments