Recents in Beach

header ads

Film Sexy Killers Ajak Nalar Kritis Millenial

Screen Shoot Film "Sexy Killers" di Akun Youtube Watchdog Image


Film Sexy Killers jadi trending di media sosial dan kalangan anak muda millenial. Entah kenapa, tiba-tiba anak muda tertarik dengan film dokumenter. Padahalnya, anak muda Indonesia identik dengan pecinta film percintaan.

Kita tahu, saat film AADC ditahun 2001 langsung booming. Pasalnya, para kawula muda dikala itu tampak ngantri diberbagai bioskop. Khususnya anak-anak diperkotaan, kalau di pedesaan atau kabupaten/kota kecil menunggu serialnya melalui layar kaca. Bisa setahun dan dua tahun.

Baru-baru ini diawal tahun 2019, Film Dilan 1991 juga booming. Membuat anak muda berbondong-bondong datang ke cineplex untuk menonton. Kisah percintaan anak muda yang masih berstatus pelajar antara Dilan dan Millea.

Namun, diakhir masa kampanye Pemilu 2019, tepatnya 13 April lalu. Sebelum diunggah di akun youtube resmi Watchdoc Image, sudah digelar nonton bareng diberbagai kota di Indonesia. Film tentang kebutuhan enegeri listrik berbahan baku tambang batu bara di Kalimantan yang dikuasai para taipan negeri ini. 

Kemudian, dari pendirian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) juga ada sisi pro-kontra serta dampak buruk bagi masyarakat sekitar. Bahkan, kerusakan bukan hanya didaratan, tetapi juga dilaut dengan terumbu karang di utara pulau Jawa rusak.

Sexy Killers dari judulnya memang menarik untuk dilihat. Entah kenapa diberi nama para pembunuh seksi dalam arti bahasa Indonesia. Bagi penonton disuguhi bukan seorang aktris seksi yang menjadi seorang pembunuh. Meskipun di sekuel awalnnya menunjukan pasangan suami istri yang tengah bulan madu.

Eh, ternyata bukan film tentang percintaan. Tetapi mengenai bagaimana energi listrik yang kita nikmati setiap hari berasal dari batu bara. Proses penambangan yang berdampak pada sosial masyarakat dan kesehatan. Kerugian bagi warga negara dari sebuah revolusi industri energi.

Apalagi, di Film itu dipaparkan siapa pemilik usaha dan saham dari para penambang serta perusahaan PLTU. Disana menyangkut pautkan para aktor politik yang bertarung di Pemilu 2019. Mata semakin terbelalak. 

Namun, para anak muda dibikin terbelalak. Anak muda yang diidentikan tidak peduli dengan kondisi politik negeri ini. Dibuat menarik, bahkan dalam 3 hari diunggah di Akun Youtube Watchdog Imange mencapai 5 juta. Meskipun tak menjadi trending di Youtube, tak seperti punya Atta Halilintar, Ria Ricis, Raffi Ahmad, Baim Paula, DUnia Manji, ataupun content creator lainya. Ada apakah ini.

Dibalik Sexy Killers

Film Dokumenter merupakan film yang mendokumentasikan kenyataan atau kehidupan aslinya. Karya sinema Dokumenter memiliki nilai lebih dibanding film-film lainya, karena memotret kehidupan manusia dengan berbagai sudut pandang tanpa rekayasa aktor ataupun artisnya.

Si Kreator di Watchdog Image, Dandhy Dwi Laksono adalah seorang wartawan lahir di Kabupaten Lumajang. Saya mengenalnya saat dia hendak berangkat keliling dalam expedisi Indonesia Biru bersama seorang rekannya, Suparta akrab dipangggil Ucok. Dengan mengendarai sepeda motor untuk merekam jejak manusia di Nusantara itu.

Tahun 2015, Dandhy bersama Ucok sedang mengambil gambar tentang kehidupan masyarakat suku tengger di Ranu Pani. Tentang bagaimana kehidupan suku tengger keselarasan dengan alam. Sambil pulang kampung, Dandhy bertemu dengan wartawan Lumajang.

Kepulangan ke Lumajang, Dandhy bercerita tentang perkembangan dunia media massa ditengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu dia menjelaskan terkait misi dan visi keliling nusantara bersama rekannya seorang Fotografer dan Videografer.

LINK VIDEO : SEXY KILLERS

Dandhy dikenal seorang wartawan yang memiliki dedikasi dalam profesinya. Bahkan, sikap idealismenhya mengantarkan liputran kritis menjadi warna sendiri di tempat kerjanya. 

Di Watchdog Dandhy tidak hanya merekam tentang ketimpangan sosial, tetapi juga bagaimana komunitas manusia bisa bertahan ditengah globalisasi modernitas. Seperti Bumi Ciptagelar, Suku Baduy, Sedulur Sikep, Kampung Tarung, Nelayan Ikan Paus Halmahera mampu direkam dan referensi bagi warga Indonesia tetang budaya lama tetap bertahan di kemajuan dunia 4.0.

Pembuatan Sexy Killers didukung oleh rekan-rekan wartawan, videografer dan aktivis peduli lingkungan.Sehingga, Filmnya mampu memberikan banyak informasi bagi penonton. Melalui riset panjang dan didukung data banyak mampu menghadirkan dibalik kekuasaan negara ada kekuatan politik penompang untuk industri energi.

Ajak Nalar Kritis

Menonton film besutan jurnalis senior asal kaki Gunung Semeru banyak dampak yang luar biasa. Karena bisa memberikan nalar kritis anak muda yang diidentikan bermain dengan smartphone tak peduli dengan politik serta ekonomi global dari sebuah kebijakan menguntungkan para konglomerat. Rakyat hanya dijadikan konsumen dan dampak dari sebuah revolusi industri dalam sebuah kapital besar untuk meraup pundi-pundi rupiah.

Soe Hok Gie untuk mengajak nalar kritis rekan-rekanya di tahun 60-an untuk membaca dan nonton film. Sehingga, dalam memberian pemahaman terhadap kebijakan negara mampu dicerna dan dikritik membangun bangsa yang besar.

Membaca buku semakin menambah banyak khasanah ilmu pengetahuan dari berbagai sudut pandang. Melalui film bisa didapat pesan dibalik sebuah karya sinematografi sebuah kritis. Dimana banyak sekali perangan ekonomi dan kebijakan negera atas warganya.

Meskipun oleh para politis, Film ini dianggap ada udang dibalik batu. Namun, melihat sosok integritas dari Dandhy Dwi Laksono seorang yang berkomitmen dalam berkarya. Sangat sulit untuk menebak atau pra duga tak bersalah. Karena, apa yang dihaasilkan baik dalam bentuk tulisan dan karya lainya sebagai buah pikiran besar bagi bangsa Indonesia.

Film Sexy Killers sebuah oase kecil dalam sebuah oligarki politik negeri ini. Dibalik sebuah kekuasaan seorang pemegang kendali bangsa yang besar, ada sebuah kompromistis dalam sebuah kebijakan diberbagai bidang industri energi, Dandhy bukan mengajak benci pada taipan atau perusahan tambang dibaliknya. Tetapi sebagai masyarakat harus bisa membuat energi ramah lingkunga, seperti di Bali dicontohkan ada teknologi energi tenaga matahari (surya,red).

Film ini menghadirkan anak muda harus kritis dalam bermasyarakat atas banyaknya perubahan dari sebuah kebijakan pemerintah (penguasa,red). Dibalik perubahan jelas ada baik buruknya, mengurangi buruk dari sebuah kebijakan jauh lebih baik untuk kebaikan semuanya. 

Post a Comment

0 Comments