Recents in Beach

header ads

Golongan Putih Vs Golongan Perut




Dinamika Perpolitikan di Indonesia terus saja berulang. Setelah Indonesia merdeka ditahun 1945 dari intervensi negara penjajah  kolonial yang mengatur hajat hidup bangsa pribumi.Iklim demokrasi negeri ini terus mengalami perubahan ditengah kemajuan teknologi komunikasi.

Setelah merdeka, dunia politik semakin dinamis dan terus mengalami perubahan dengan tuntutan mewujudkan sebagai negara besar. Di Pemilu tahun 1955, merupakan pesta demokrasi multi partai sebanyak 172 konstestan.

Zaman itu, banyak sekali diwarnai politik identitas. Semua orang, kelompok bisa mendirikan partai dari berbagai sudut pandangan ideologi masing-masing. Sejarah paling mengesankan dalam negara menganut sistem Demokrasi dengan partai paling banyak ikut Pemilu di dunia, kala itu.

Memasuki Orde baru 1971, politik negeri ini berubah dengan sedikit partai dengan 7 kontestan. Partai penguasa waktu itu adalah Golkar dengan disokong kekuatan ABRI.

Adanya kekuatan tunggal, membuat iklim politik di negeri ini semakin dinamis. Sehingga seorang Aktivis muda Arief Budiman membuat gerakan golongan putih melawan politik dominan. Meski istilah golput dicetuskan oleh Imam Waluyo. Mengajak mencoblos surat suara pada bagian putih, bukan pada gambar parpol perserta pemilu saat datang ke tempat pemungutan suara.

Gerakan Golput makin lantang saat di deklarasikan di Balai Budaya Jakarta oleh Arief Budiman bersama kawan-kawan aktivis 66. Gerakan ekspresi perbedaan pendapat terhadap penguasa untuk membangun negeri. Akibat gerakan ini, membuat pemerintah disokong ABRI membuat telinga memerah. Menteri Luar Negeri waktu itu, Adam Malik menyebut golput adalah golongan setan.

Gerakan Golput semakin nyaring di Pemilu 1997, pesertanya PPP, Golkar dan PDI. Saat itu aktivis Demokrasi bersama Megawati menyaringkan suaranya, dikarenakan ada campur tangan pemerintah dalam konflik di partau berlambang Banteng itu.

Gerakan ini mendapat antusiasme dari kalangan aktivis muda dan mahasiswa untuk menyampaikan pendapat dalam menentukan bangsa oleh penguasa Orde Baru. Aksi ini mendapat respon yang luar biasa dan membuat gaduh hingga berujung pada jatuhnya Orde Baru oleh kaum Reformis 1998.

Pemilu dan Golput

Gerakan Golput disetiap Pemilu 5 tahunan selalu mewarnai politik Indonesia, sejak Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi. Gerakan ini dilakukan oleh para kelompok aktivis yang aspirasinya tidak bisa tersampaikan dalam Pemilu.

Akibat dari Golput, tingkat kehadiran masyarakat ke TPS semakin banyak. Dimungkinkan salah paham dalam memaknai dan memahami Golput sendiri. Jika dulu, Golput adalah gerakan datang ke TPS, tetapi tidak memiliki parpol. tetapi kini golput dimaknai tidak hadir ke TPS.

Adanya fenomena Golput. Nyarwi Ahmad membedakan 5 jenis golput yang dilakukan masyarakat dalam perpolitikan Indonesia. Karena, motif seseorang memilih jalan golongan putih disebabkan banyak faktor. Diantaranya :

Golput Teknis, mereka menggunakan hak suaranya tetapi keliru saat mencoblos. Tidak terdaftar sebagai pemilih. Atau sedang sakit dan keperluan lain, sehingga tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

Golput Pemilih Hantu, bisa disebut sebagai ghost voter. Merekaterdaftar pemilih tetap (DPT) tetapi sudah meninggal atau menjadi terdaftar ganda di daerah lain. KTPnya kebanyaknya, untung ada E-KTP.

Golput Ideologis, mereka tidak mencoblos dikarenakan tidak percaya pada sistem ketatanegara atau pemilu. gerakan ini biasanya terbuka dan memilih diam. Di satu TPS sepi pemilih karena ditempati sati komunitas. Sulit dilacak, jika mereka tersebar di berbagai tempat.

Golput Pragmatis, mereka termasuk pemilih  yang merasa Pemilu tidak memberikan keuntungan pribadi. Karena Pemilu tidak memberikann perubahan. Saat ada Pemilu, memilih untuk berlibur atau mengurusi bisnisnya.

Golput Politis, mereka tetap percaya dengan sistem pemilu. Namun, tidak menggunakan hak pilihnya, dikarenakan parpol atau kandidat capres, caleg dan DPD tidak mewadahi kepentingan politik mereka.

Ternyata banyak sekali menyebabkan seseorang atau kelompok melakukan gerakan politik golongan putih atau Golput. Meskipun Golput sendiri awalnya, datang ke TPS tetapi tidak memilih partai politik.

Golongan Perut

Nah, kalau Golput satu ini adalah Golongan Politik Perut atau populer dengan Money Politic atau Politik Uang. Gerakan politik ini semakin disukai oleh para politisi untuk meraup suara dikantong pemilihannya. 

Bukan hanya di Pilkada tetapi di pemilihan umum untuk calon legislatif juga semakin menjamur.Seperti hantu. Ada tetapi wujudkan tidak ada. Sulit sekali menangkap pelaku alias pengedar uang untuk politik, karena masyarakat seakan kecanduan untuk mendapatkan balas jasa dari hak suaranya.

Politik perut ini adalah bentuk lain dari suap. Bahanya sangat besar sekali, karena berdampak rusaknya tatatan Pemilu dalam menghasilkan pemimpin atau wakil rakyat. Sehingga, ada pepatah, Kacang lupa pada kulitnya.

Pemilu atau Pilkada dijadikan ajang transaksi politik untuk meraup suara lebih dari rakyat. Akibatnya, rakyat menjadi apatis. Si pemili suara tidak mau tahu apa keluhan pemilihnya. Dikarenakan sudah membeli suara seharga yang sudah diinginkan pemilih atau pembeli. Sehingga muncul makerlar suara di Pilkada dan Pemilu.

Sejak kapan Politik perut muncul, dari penelusuran . Ternyata sudah ada sejak masa zaman kolonial. Masa penjajah menguasai bangsa ini sebelum bernama Indonesia. Hal ini dari data penelitian ilmuan Belanda tahun 1817, Warner Mutinghe. Fenomena ini saat pemilihan kepala desa di sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Saat itu, kepala desa di Jawa selalu turun temurun. Dikarenakan perang Dipenogoro tahun 1825-1830. Kolonial belanda mengeluar peraturan dasar dikenal instilah Indiscje Stattregering, bahwa desa mempunyai kewenangan penuh dalam memilih kepala desa.

Hal ini dikarenkan banyak sekali kepala desa yang mendukung Pageran Dipenogoro dalam melawan Kolonial. Sehingga, bangsa kolonial ingin sekali kepala desa berada dibawah ketiak dan manut atas kebijakan besarnya.

Kemudian belanda melakukan perubahan dengan membentuk Wedana atau camat.Hal ini untuk mengintervensi desa untuk melakukan pemilihan kepala desa. Akibatnya, kolonial melakukan intervensi melalui wedana dengan menjadikan kepala desa para kaki tanganya.

Untuk meloloskan orang kolonial sebagai kepala desa. Banyak rakyat ditipu dengan diberi hadiah atau imbalan dalam bentuk uang atau barang. Oleh karena itu, politik uang mulai berkembang di Indonesia dan merusak tatanan budaya yang sudah sejak dulu dimiliki leluhur bangsa ini.

Politik uang adalah politik kotor masa kolonial. Sehingga, adanya money politik adalah sebuah tindakan para penjajah. Apakah kita mau berada dizaman penjajah. 

Politik uang sangat jelas merendahkan martabat sebagai bangsa yang merdeka. Jika Politik semacam itu, seakan kita masih hidup di masa penjajahan. Apakah calon yang dipilih akan memperjuangan hak pemilih atau malah dikarenakan membeli suara berbuat menindas demi kepentingan sendiri dan kelompoknya.

Melalui politik uang, akan melahirkan pemimpin atau wakil rakyat korup. Apalagi bagi parpol adalah jurus mematikan bagi kader politik. Sehingga, sikap pragmatisme menjadikan kader yang berjuang besarkan partai, kalah dengan kader baru datang dengan membawa duit menjadi pemimpin.

Sudah adanya gambaran, banyak caleg yang terlibat kasus suap atau atur-atur proyek seperti di DPRD Kota Malang dan DPRD Jawa Timur. Seharusnya menjadi pelajaran dan pegagang dalam politik dengan sistem demokrasi. Jangalah memilih kucing dalam karung.

Politik uang juga berimbas pada transformasi masyarakat. Banyak perubahan tidak bisa dilakukan dari suara bawah. Wakil rakyat yang terpilih oleh uang, akan mementingkan balik modal. Dikarenakan rakyat untuk menentukan pilihan harus diberi uang. Siapa yang diuntungkan dan dirugikan dari money politik, tidak ada diuntungkan. Tapi dirugikan.

Marilah kita gunakan hak suara kita sesuai dengan hati nurasi, kenali calon presiden, wakil rakyat dan perwakilan daerahmu. Jangan sampai menyesal kemudian hari selama 5 tahun. Menyesali pilihan, adalah bukan sikap negara besar dan merdeka. Selamat memilih di 17 April 2019 besok.

Post a Comment

0 Comments