Recents in Beach

header ads

Kibaran Bendera NU Demi Gerus Suara Santri

Sandiaga Uno Kibarkan Bendera NU Saat Kampanye di Lumajang ( foto : beredar dimedsos)


Berkibarnya bendera Nahdlatul Ulama (NU) di arena Kampanye terbuka Capres/Cawapres 02 di Stadion Semeru mengagetkan, Kamis (4/4/2019) lalu. Apalagi, bendera kebesaran ormas keagamaan terbesar di Indonesia dkibarkan oleh Sandiaga Uno dalam kampanye dilapagan sepak bola kebanggan masyarakat Lumajang.

Entah, kenapa Sandi begitu semangatnya memegang dan megibarkan bendera NU di atas panggung orasinya. Kaget dan terbelalak, bagi para warga nahdliyin yang hadir.

NU memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926. Terutama terlibat dalam praktik-pratik politik praktis. Meskipun di Pemilu 1955 menjadi pemenang ketiga dibawah PNI dan Masyumi. Dibawahnya, Partai Komunis Indonesia (PKI) diperingkat ke 4.

Entah siapa oknum pembawa bendera NU mendekat ke Panggung Kampanye Capres 02. Sehingga membuat Sandi tertarik untuk mendekat dan mengibarkan diatas panggung. Sehingga, memunculkan polemik sendiri.

NU sendiri sudah memunculkan kadernya sendiri, KH. Ma'aruf Amin. Sehingga, Presiden Jokowi sebagai petahana memilih sebagai pasangan untuk Pemilu 2019. Bahkan, para kalangan Kyai dan Ulama NU merapatkan barisan mendukung paslon presiden dan wakil presiden 01 dengan berbagai nama kelompok atau komunitas. Meskipun NU sendiri tidak menyatakan secara resmi sikap dukungan politik lima tahunan itu.

Entahlah, NU memang seperti wanita cantik atau pagerann tampan yang banyak pengikut dan fansnya. Sehingga, membuat insan politik atau partai politik tertarik untuk meminta bantuan dukungan di pesta demokrasi melalui pilihan langsung oleh rakyat Republik ini.

ANSOR Meradang

Munculnya bendera NU dan dikibarkan oleh Sandiaga Uno membuat Ketua ANSOR Lumajang, Fahrurozi angkat bicara. Dia mengesankan adanya bendera NU dan dikibarkan di arena Kampanye hanya sebuah sensasi.

Dilansir diberbagai media massa, Fahrur seakan menegaskan, NU bersama kyai, ulama, santri dan jama'hkan solid mendukung capres 01. Ia juga mengibaratkan tentang dukungan, bukan lagi dengan mendorong mobil mogok. Jika sudah jadi akan ditinggalkan oleh sopir dan mobil yang didorongnya.

Ini menjelaskan, jika NU memang benar-benar menempatkan possesioning dalam Pemilu 2019.Fahrur menuding oknum kader NU yang membawa bendera adalah ikhtiyar perorangan dan bukan rumah besarnya.

Foto Sandi memegang bendera NU di arena kampanye bertebaran dimedia sosial atau messager. Bahkan para penyebarnya ditenggarai pendukung Sandi untuk mengabarkan NU juga mendukung 02. Diberbagai grup medsos dan message yang diikuti penulis mulai bertebaran dan diberi keterangan bermacam-macam.

NU di Lumajang memang memiliki basis massa yang luar biasa. Forum jam'ahnya juga sering dan rutin dilaksanakan seperti pengajian, tahlilan, sholawatan, albanjari dan forum dilakukan organisasi NU dalam konsolidasi internal.

Mengerus Santri NU

Sandi mengibarkan bendera NU diatas panggung arena kampanye adalah tindakan yang cerdas. Dia adalah politisi ulung untuk bisa mengajak dan meraup suara kalangan santri tradisional kultural. Apalagi Lumajang, adalah basis dari kalangan santri dan bisa menentukan kemenangan.

Dalam dunia politik, klaim dan konspirasi bagian dari komunikasi politik. Sandi mampu memberikan pesan dalam komunikasi massa dalam arena kampanye. Apalagi diera kemajuan teknologi komuniksai seperti media sosial dan sejenisnya.

Citra sandi memegang bendera NU seakan mengisyaratkan untuk bisa meraih simpati warga nahdliyin yang hadir diarena kampanye terbukanya. Entah, hadirnya bendera NU di kampanye kemarin adalah bagian dari konstruksi sosial politik Sandi di Lumajang khususnya dan  Indonesia umumnya.

Fanatisme Sekterian Agama memang sangat mudah meraup simpatisan dan dukungan. Apalagi dengan menggunakan citra simbol organisasi atau lambang sejenisnya. Sehingga, para jama'ah atau simpatisan kelompok tertentu yang memiliki pendidikan politik rendah bisa terpapar.

Jelasnya, bendera NU dikibarkan oleh Sandi alat paling efektif untuk menyasarkan pemaham politik kalangan santri Nahdliyin. Langkah itu, merupakan strategi politik yang pas. Namun, apakah tim dan pendukung paslon 01 diam saja, pastikan akan bergerak. Seperti tulisan diatas, ketua Ansor Lumajang angkat bicara.

Lumajang adalah basis massa NU. Merupakan medan pertempuran politik yang empuk meraup suara kalangan santri serta pengikutnya. Apalagi, di Pilkada kemarin paslon Cak Thoriq dan Bunda Indah dengan dukungan kalangan tokoh NU dan Muhammadiyah mampu menjadi pemenangnya.

Mungkin, strategi itu akan digunakan oleh Bunda Indah berkaca dalam kemenangan di Pilkada 2018 lalu. Cak Thoriq merupakan kader NU dan PKB mungkin terbelalak atau biasa saja dalam sebuah permainan politik. Namun, Bunda Indah mampu menterjemahkan dan memainkan strategi dengan cantik khas seorang perempuan. Sosok lembut gemulai tetapi sekokoh Semeru.

Prabowo - Sandi untuk bisa menang di Kabupaten Lumajang memang harus mengerus suara dari kalangan Santri (NU) dan Abangan (Nasionalis PDIP). Karena dikonstelasi politik sangat dinamis di Pemilu 2019, parpol pendukung 01 dan 02 akan bersaing untuk meraup suara lebih banyak dan menguasai legislatif serta Pilpres.

Kita tunggu saja, apakah Prabowo-Sandi bisa menang di Lumajang dari Jokowi-Amin. Pemilu sudah tinggal 12 hari lagi. Mari kita gunakan suara kita untuk datang ke TPS pada 17 April mendatang.

Post a Comment

0 Comments