Recents in Beach

header ads

Melacak Ibu Kota Kerajaan Lamajang Kini

Pendopo Arya Wiraraja Lumajang, Sumber : Memotimurlumajang.id


Media massa dan media sosial sedang diramaikan dengan rencana perpindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta keluar dari Pulau Jawa. Presiden RI, Joko Widodo membahas rencana ini harus mengelar rapat kabinet para menterinya.

Isu atau rencana perpindahan ibu kota sering dibahas oleh para pemimpin bangsa ini. Mulai dari Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Megawati, SBY dan Jokowi. Apakah bisa terealisasi dalam 5 tahun dipemerintahan baru ini.

Sebenarnya, perpindahan ibu kota sudah biasa terjadi didunia. Bukan hanya di Indonesia, tai di negara belahan dunia lainya pernah terjadi, seperti di Inggris, Brazil, Australia dan lainya.

Dimasa Indonesia Kemerdekaan, pusat pemerintah pernah bergeser dari Jakarta ke Jogjakarta. Dikarenakan adanya agresi kolonial usai untuk merebut kembali bangsa ini.

Bahkan masa kerajaan Mataram Kuno, ada perpindahan kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Hal ini dilakukan oleh Mpu Sendok, dikarenakan di Jawa tengah kerap terjadi bencana alam letusan gunung merapi. Mataram dipindah ke kawasan kaki Gunung Kelud.

Jadi dulu ada perpindahan pusat kerajaan dikarenakan sebuah bencana.

Ibu Kota Lamajang

Di Lumajang dimasa kerajaan dibawah Singosari diutus juru atau adipati memimpin Lamajang ditahun 1255 Masehi. Nararya Kirana memimpin Lamajang sebagai Kerajaan Vasal dari Singgosari. Waktu itu, rajanya Sminingrat bisa dilihat di Prasasti Mula Malurung.

Dari keterangan Arkelolog Lumajang, Aries Purwantiny, dari jejak peninggalan sejarah kuno. Lamajang dimasa Nararya Kirana diperkirakan di daerah Candipuro. Tepatnya di Kawasan Candi Gedhong Putri, karena ditemukanya sebuah peradaban bangunan candi yang sangat luar biasa.

Kemudian, ada sebuah Lingga Yoni Altar Naga dengan pahatan batu terbaik dimasa itu. Hal ini bisa diketahui sebuah pengetahuan dalam membuat bangunan atau perabotan peribadahan untuk Sang Hyang Widi dengan aliran Hindu Siwa.

Lamajang dikenal sebagai lahan pertanian yang subur, diperkirakan ibu kota pertama ada di Candipuro dengan Gedhong putrinya. Namun, jejak sejarah tertulis dari prasasti seperti apa Lamajang zaman itu sangat sedikit untuk dikuak.

Jejak situs peradaban masa itu hancur dan hanya sisa sejak bebatuan dan bata berserakan. Diperkiarakan hancur dikarenakan bencana letusan gunung Semeru purba dan banjir bandang dikala itu.

Arnon Ibu Kota Lumajang

Jejak ibukota Kerajaan Lamajang kembali berdiri dengan megah. Bahkan oleh para Arkeolog dan Sejarawan, benteng di Dusun Biting Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono dinilai bangunan dengan peradaban tinggi menyesuakan alam sekitarnya.

Ibu Kota Kerajaan dengan benteng alam dari sungai dan dikeliling benteng buatan dari batu bata merah. Saat itu Lamajang dipimpin oleh Raja Arya Wiraraja dengan gelar Menak Koncar. Hal ini dari keterangan, Aries Purwantiny dari penjelasan Profesor yang tergabung dalam badan riset daerah Pemprov Jawa Timur.

Tanah Lamajang diserahkan ke Arya Wiraraja melalui Prasasti Kudadu berangka tahun 1294 Masehi. Jika Wiraraja berhasil membantu Raden Wijaya merebut kekuasaan dari Singosari yang dipimpin oleh Jayakatwang.


Arya Wiraraja kemudian memimpin tanah Lamajang ditahun 1295 Masehi. Kawasan nan subur dipimpin dengan bijaksana dan membangun kerajaan memiliki nilai peradaban tinggi. Jejak itu bisa dilihat di Situ Biting dengan benteng seluas 145 hektar dikeliling 3 sungai alam dan 1 sungai buatan diselahan selatan.

Sayangnya, Wirraaja harus mangkat ditahun 1311 Masehi dikarenkana sakit. Nambi sang putra Mahkota sedang menjalani pekerjaan sebagai Mahapatih di Majapahit harus pulang. Sayangnya, hasutan Ramapatih, membuat Kerajaan Lamajang dan Majapahit yang bersaudara harus terlibat perang besar dan panjang.

Kematian Nambi 1316 Masehi, membuat rakyat Lumajang marah dan timbulah sejumlah perlawanan dari para loyalis WIraraja dan Nambi. Hingga akhirnya, Ibu kota Lamajang dikenal dengan Brang Wetan, dipindah ke Banyuwangi dipimpin oleh Bre Wirabhumi.

Perang terus terjadi ditanah Lamajang akibat tindakan fitnah terhadap orang bijaksana. Majapahitpun menyebut wong Lumajang sebagai Kaum Pemberontak. Cap dan Merk ini sebagai bentuk kekalahan besar dalam taktik perang panjang atau geriliya.

Lamajang hanya dijadikan tempat pertanian dan ladang untuk memasok logistik ke para pejuang yang melawan ketertindasan.

Lumajang Masa Mataram

Lamajang perlawanan orang Lumajang memang sulit ditaklukan membuat kerajaan Majapahit dan Demak mengalami kerugian besar. Saat Mataram Islam dipimpin oleh Sultan Agung dan ingin Jawa menjadi satu. Dikirimlan Tumeng Sura Tani dan Alap-alap.

Perang besar bergejolak di kawasan benteng Arnon atau Renong. Kehebatan dari Tumenggung Alap-alap mampu meruntuhkan Menak Koncar dari keturunan Arya Wiraraja. Akhirnya Lumajang takluk dan pasokan logistik ke wilayah Blambangan berkurang, perangpun berangsur-angsur reda.

Lamajang dipimpin oleh Bangsawan Mataram dari keturnan Untung Suropati yang merupakan Adipati Pasuruan yakni, Kertanegara sebagai pemimpin Lamajang. Berkuasa di kawasan Kutorenon yang dulu dikenal kawasan Arnon atau Arnong. Lapangan Desa Kutorenon diperkirakan alun-alun kota kuno.

Serangan Kumpeni VOC Belanda ke Lamajang membuat Adipati Kertanegara Takluk. Akhirnya VOC menguasa Lamajang nan subur kemudian melakukan exploitasi sumber pertanian dengan tanam paksa Kopi, Gula, Tembakau, Kakao, Cengkeh dan Padi.

Produk pertanian yang dikenal bagus dan layak dijual di eropa Lamajang dikenal oleh para saudagar. Akhirnya, pedagang cina dan arab berdatangan untuk mengadu nasib. Lumajang yang merupakan dataran rendah kerap mengalami banjir. Kompeni merubah tata kota Lamajang dari Arnon ke Selatan.

Alun-alun Warisan VOC

Lamajang yang dikenal sebagai tanah nan subur, VOC terus menancapkan bisnis pertanian dan perdaganganya dibawah Afdeling Probolinggo. Dikarenakan sering banjir, ibu kota Lumajang dipindah ke selatan berada di timur sungai Kaliasem.

Ibu kota Lumajang dengan alun-alun memakai konsep Mataram. Pusat ibu kota Lamajang Masa Belanda dengan Konsep Macapatan ada 4 Penjuru, Pemerintahan, Perekonomian, Peribadatan dan hukum. Ini pun bisa dilihat hingga kini.

Perpindahan ibu kota dari masa kerajaan, kolonial, kemerdekaan dan modernitas bukan lagi hal baru. Karena, jika dulu dikarenakan faktor bencana alam, juga bisa dikarenakan kepadatan penduduk dan ekonomi atau pemerataan pembangunan bagi rakyatnya.

Dari pemaparan tulisan diatas, ternyata perpindahan ibu kota atau pemetintah bisa dikarenakan bencana alam, perang dan ekonomi. Disaat Indonesia ingin pindah ibu kota jelas sudah menjadi pemikiran pemimpin bangsa sejak merdeka dan kini. Hal ini dikarenakan bangsa yang dulu dikenal Nusantara dihuni berbagai suku, ras, agama dan antar golongan butuh pemerataan pembangunan. Tidak hanya tersentralistik pada Jakarta.

Ketimpangan pembanguan diluar Jawa memang dirasakan, sehingga pemikiran dari Presiden Jokowi sebagai langkah untuk menjadi Negara dan Bangsa yang besar. Negara butuh percepatan dan kebijakan dalam satu kali loncatan, dunia digengam. Ingat, Majapahit mampu menjadi negara besar dikala itu. Bukan hanya kuat didarat sebagai agraris, tapi juga dilautan sebagai negara maratim.

Mengenai adanya pemindahan ibu kota, sudah tidak lagi diperdebatkan lagi. Tinggal menunggu waktu saja dan segera dilakukan. Jangan ditunda lagi, sudah banyak negara asing mengincar Indonesia menanamkan usahanya. Kita harus bisa menjadi bangsa yang besar, bukan karena ibu kotanya. Tetapi pemikiran dan peradabannya. 

Post a Comment

0 Comments