Recents in Beach

header ads

Menulis Gak Semudah Cocotmu

Buku Bacaan di Salah satu Warkop di Lumajang


Menulis adalah hal mudah. Tapi sulit. Baik bagi pemula yang belum terbiasa. Apalagi menulis panjang dan bercerita tentang banyak hal. Selancar ngomong.

Menulis itu tak segampang ngomong. Menulis itu butuh ide dan kreatifitas dalam banyak hal. Sehingga, bisa mengalir seperti air sungai. Mengalir hingga ke samudra. Layaknya udara bisa mengisi ruang.

Menulis bukan hal mudah bagi siapa saja. Termasuk saya. Ketika ada ide, tetapi banyak pikiran atau pekerjaan. Menulis itu berat. Bukan rindu saja. Seperti Dilan pada Milea. Biarkan saja mereka yang berat soal rindu. Menulis itu berat jika tak dikerjakan.

Ada keinginan menulis, tetapi tidak ada ide sama sekali. Gak bakalan bisa menulis dengan baik dan selancar mulut kita bercerita atau bekeluh kesah. Menulis itu, butuh kenyamanan dalam diri, baik pikiran, otak dan tubuh. Butuh membaca untuk bisa mengeluarkan namanya Ide.

Ornamen Pajangan di Warkop Lumajang

Menulis tidak segampang orang ngomong. Sepertu para ibu-ibu arisan ngobrolin tetangga atau temannya. Bisa muncrat atau berbusa saat berbicara hal-hal gak penting.

"Menulis itu gampang," kata seorang penulis

"Menulis itu muda," kata guru kita.

"Menulis itu simpel." kata Jurnalis.

"Menulis itu kayak status," kata pengguna medsos.

"Menulis gak semudah cocotmu," kata pelajar dan mahasiswa.

Menulis itu kerja intelektual. Sok Akademis. Aplagi Praktisi. Menulis itu kerja otakuntuk menggerakan jemari dengan 6 panca indera manusia. Bukan, asal menulis. Akhirnya tak jelas jeluntrungannya. Akhirnya terhenti dan bingung pilih kanan, kiri, maju atau mundur. Alurnya bimbang, seperti air dalam kubangan.

Seperti tulisan ini. Ketika dibaca. Semua bingung. Layaknya orang sedang curhat. Pokoknya menulis apa yang dipikirkan. Tanpa kerangka dan tema. Pokoknya nulis. Agar tetap jadi penulis. 

Tulisan ini, mengebu-ngebu tanpa alasan dan sebab. Pokoknya menulis dan terus mengetik diatas keyboard laptop mini. Memaksa menulis itu, seperti tulisan ini. Mengalir, meluncur, menerjang dan memaksa terus merangkai kata yang muncul di dalam otak dan pikiran. 

Akhiranya, banyak kalimat bermunculan kata Yang. Yang itu. Yang ini. Dan Yang mana lagi untuk ditulis.

Memaksa menulis disebuah warung kopi, Berteman dengan alunan musik penjualnya. Mulai dari Dangdut, Reagge, Pop hingga Rock. 

Pekerja Warkop sibuk

Hingga akhirnya, saat menulis ini. Si Pemilik warung mendatangi penulis. Mungkin penasaran yang ditulis.

"Lagi apa mas?"

"Lagi Nulis,"

"Saya ingin tahu,"

"Lihato aku nulis," jawabku sambil melihat layar laptop.

Pemilik warung kopi hanya terdiam dan melihat tarian kata dalam rangkai dalam otak penulis. Penulis hanya melanjutkan merangkai apa yang dirasakan dan dilihat. Sesekali, otaknya binggung dan terhenti jarinya menyetuh barisan key board.

Penulis tersenyum sambil tersipu malu. Hanya tawa kecil untuk menutup kebingungan apa yang ditulis. Sesekali berhenti untuk merangkai kalimat dalam rumus SPOK. Subyek, Predikat, Obyek dan Keterangan.

Tulisan di Warkop


Meskipun banyak tulisan didinding warung kopi tengah kota Lumajang "Tjangkir Coffe". Tapi, itu hanya rangkai kata. Dipanjang laksana lukisan tak lebih dari 10 kata. Dirangkap menjadi kalimat bijak. Seperti tulisan ini, meliuk liuk laksana anak muda mencari identitas diri. Para jomblo mencari pasangan.

Di ruang tengah warkop, ada kipas mengabarkan tentang tiupan angin. Dalam kondisi lusuh, berselimut debu. Dia menangis dan menjerit dikala hujan turun masih saja dihidupkan oleh pemiliknya.

"Kasihan si kipas," ujarku.

"Kasihan kok pada benda," bisik ditelingaku.

Kipas Warkop Menyala Meski Hujan


Menulis itu, pokoknya merangkai kata menjadi kalimat. Menyambung kata kerja , sifat, benda dan keterangan. Pokoknya nyambung dan terangkai. Untuk ditebak hingga akhir. Agar cocotmu tak mudah berbicar kemudahan.

Lihatlah peta Indonesia di dinding Warkop. Ada rangkaian pulau menyambung tidak serupa. Kecil dan besar. Menjadi rangkaian Nusantara dan menyatakan merdeka untuk NKRI Harga mati.

Seandainya, para pendukug capres dan cawapres tahu. Perbedaan pulau bernamakan Indonesia. Mereka akan tahu arti persatuan. Pulau itu tak ingin dianggap paling luas, paling hebat dan paling bermanfaat bagi manusianya. Semua pulau menunjukan ke-elokan sebagai bangsa maritim nan besar.

Goresan Peta Indonesia di Tembok Warkop

Didalamnya banyak cerita kerajaan hebat mulai dari Samudra Pasai, Majapahit, Mataram, Sriwijaya, Demak dan Jogyakarta sebagai kerajaan terakhir dinegeri in.  Raja atau Sulatnya menjadi Gubernur. Istimewa bukan. Jejak dan diakui hingga kini. Kalau bukan Indonesia. Ada Negara Republik mengakui Raja sebagai penguasa lokal.

Negeri ini memang beraneka ragam budaya, suku, bahasa dan agama. Terbalut dalam Pancasila. Jayalah Indonesia. jayalah penulis negeri Khatulistiwa.

Sekian tulisan mengalir seperti air dari gunung ke daratan dan lautan. Berdeburan laksana ombak dan setenang samudra. 

Post a Comment

0 Comments