Recents in Beach

header ads

Perang Tagar di Surat Suara Tercoblos

Tagar Terpopuler Saat Isu Video Surat Suara Tercoblos di Twiiter


Situasi politik Pemilu 2019 mendekati hari pencoblosan makin dinamis. Isu-isu soal pemilihan Capres/Cawapres terus dimainkan oleh pendukung pasangan paslon untuk bisa berkuasa 5 tahun kedepan.

Publik digegerkan dengan hasil pemilihan sementara di luar negeri yang digelar KPU. Bahkan, hasilnya dalam bentuk presentase langsung disebarkan oleh para buzzer, pendukung dan simpatisan salah salah satu calon.

Kemudian, ada sebuah video yang menampilan gambar beberapa orang melakukan pencoblosan disebuah ruangan diantara tumpukan karungan plastik. Dari informasi yang beredar diperuntukan untuk salah satu calon presiden dan wakil presiden serta salah satu caleg partai politik.

Lokasi pencoblosan di negeri Jiran Malaysia. Sehingga, info itu tersebar melalui media sosial dan menjadi bahan berita media massa.

Media Online dan Televisi terdepan mengabarkan mengenai peristiwa itu. Bahkan, sejumlah narasumber dimintai keterangan dan pernyataan resmi soal hebohnya video tersebut. Bahkan saat tulisan ini dibuat, KPU dan Bawaslu masih akan melakukan pengecekan ke negeri Jiran Malaysia.

Perang Tagar

Di media sosial Twitter ada perang  tagar yang melejit populer yakni #UASPilih Prabowo, #01MainCurang disusul #HOAXSelangor. Tagar makin nyaring di Twitter dikarenakan video yang menyajikan Ustad Abdul Somad memberikan dukungan langsung ke Prabowo Subianto sebagai Capres. 

Kemudian ada tagar #01MainCurang ini dibuat sebagai reaksi adanya video yang terjadi di Malaysia. Sebuha tayangan beberapa orang melakukan coblosan terhadap surat suara. Dimana surat suara yang dicoblos adalah 01 dan salah satu caleg parpol.

Tagar ini secepat kilat melejit menyusul tagar pertama yang penulis bahas. Namun, muncul tagar #HOAXSelangor sebagai rekasi terhadap tagar kedua yang penulis bahas.

Di medsos twitter antara tagar kedua dan ketiga dibahas penulis sebagai bentuk pertarungan atas video di Malaysia yang heboh dibahas oleh Media Massa.

Dari pantauan penulis, sangat menarik diikuti. Karena para netizen melakukan kecaman terhadap aksi video Malaysia itu. Ada semacam perang di media sosial dalam menyampaikan pandangan antar pendukung capres/cawapres. Iklim demokrasi dimedsos terus nyaring semakin dekat dengan hari pencoblosan.

Dalam situasi politik Indonesia, masyarakat terbelah menjadi dua pendukung. Entah capres/cawapres nomer urut 01 dan o2. Inilah yang dinamakan situasi biner. Menukil pendapat Guru Besar ITB, Yasa Amir Pilliang, cara pikir biner adalah kawan-lawan, Friend-Unfriend, Like-Dislike,Leave-Join, On-Off, Follow-Unfollow. Kondisi ini disebabkan dukungan media sosial yang akrab dengan masyarakat Indonesia.

Akibatnya, perang tagar semakin nyaring di Twiiter dibanding medsos lainya. Karena, karakter pengguna medsos sangat berbeda, baik dalam ilmu dan pengalaman didunia politik. Dunia abu-abu, karena hitam dan putih sulit lagi dibedakan.

Apalagi, informasi antar kelompok pendukung selalu memegang kebenaran sendiri untuk memenangkan capres/cawapresnya. Sehingga, chec and ricek para pengguna medsos sulit dilakukan. Apalagi para Buzzer terus melakukan teori Jarum Hipodermik, menyuntikan informasi untuk mempengaruhi kalayak.

Awas Rusak Logika

Perang tagar di media sosial atas isu politik tanpa chek and ricek tentang kebenarannya bisa mengacaukan logika. Apalagi, saat media massa (Pers) melakukan verifikasi, verifikasi dan terus verifikasi. Tetapi para netizen sudah termakan info awal tanpa mengecek kebenaran.

Pola pikir biner antar pendukung capres/cawapres juga membawa rusaknya logika masyarakat yang awam politik. Padahal isu-isu politik dipakai oleh para aktor politisi demi meraih dukungan. Sehingga, apa yang disajikan dimakan begitu saja oleh pendukung dan simpatisan fanatik.

Bedanya pengetahun tentang politik, semakin membawa logika masyarakat terjebak dalam posisi Biner. Pers sebagai pilar ke-empat Demokrasi harus benar-benar hadir. Apalagi untuk pers di tingkat Nasional yang memiliki akses terhadap para  aktor politik di Jakarta.

Perilaku netizen pengguna media sosial sering menelan mentah-mentah informasi. Tanpa melakukan cek mendalam untuk mendapatkan kebenaran. Hal inilah menjadi makanan empuk para politisi atau pembuat informasi bohong, dikala pers sedang melakukan cek and ricek sebagai pertanggung jawaban milik publik.

Hendaknya politik meraih kekuasaan 5 tahunan dijadikan pendidikan bagi masyarakat. Bukan sebagai ajang menunjukan nafsu berkuasa dengan dalih sebagai pendukung atau kelompok paling pantas memimpin bangsa ini.

Sebagai masyarakat, kita harus banyak membaca dan mengecek tentang informasi yang hadir ditengah kita. Mencari sumber dan mengikuti perkembanganya agar tidak sesat dalam berpolitik menentukan pemimpin bangsa ini.

Pers memang tak bisa lepas sebagai pilar terakhir Demokrasi untuk hadir terus dalam  menetralisir permainan politik kotor. Sehingga, peradaban buruk bangsa tentang politik tidak sampai merusak tatan masyarakat. Politik bukan menjadi alat permusuhan, tetapi kebersamaan membangun bangsa dan negera Indonesia. Semoga pemilu 2019 menjadi Indonesia disegani didunia  memakmurkan rakyat. Sesuai dengan sila ke 5, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. 

Post a Comment

0 Comments