Recents in Beach

header ads

Rivalitas Persebaya, Arema dan Pilpres

Arema Vs Persebaya di Final Piala Presiden 2019.

Final Piala Presiden 2019 mempertemukan dua tim terbaik asal Jawa Timur, Arema FC Vs Persebaya. Banyak kalangan yang menilai duel tim ini sebagai laga penuh gengsi dan bersejarah. Perseteruan kedua tim ini, dimulai dari bentrok antara Arek Malang dan Arek Suroboyo di sebuah konser musik, kantata Takwa di Tambaksari.

Dari perseteruan kalangan Arek merambah ke dunia sepak bola untuk menunjukan identitas sebagai manusia Jawa Timur. Entahlah, selama itu untuk meraih prestasi dan kreatifitas sangat baik bagi bangsa ini. Namun, persaingan kedua tim yang didukung dua arek ini, membuat kristaliasi dan Jawa Timur terpecah belah dalam urusan sepak bola.

Panasnya perebutan kekuasan di Pemilihan Persiden dan bertemunya duel tim klasik Jawa Timur tidak jauh beda untuk bisa meraih prestise di Indonesia. Satunya didunia politik dan satunya di sepak bola.

Sangat menarik untuk menulis, hiruk pikut sepak bola dan arena politik di negeri Indonesia. Karena, sepak bola dalam sejarahnya, bagian dari alat perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia oleh para Founding Father. Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Syahrir menjadikan sepak bola untuk pengalangan dukungan melawan kolonial meraih kemerdekaan. Soeratin lah yang mampu menyatukan para pribumi dengan klub sepak bola untuk menunjukan Indonesia bisa.

Perjalanan Persebaya dan Arema

Untuk ke partai final Piala Presiden 2019, bagi Arema dan Persebaya tidak mudah dengan penuh perjuangan. Meskipun keduanya dibabak penyisihan sangat berbeda perjalananya.

Arema lolos dari babak penyisihan sebagai Runner Up terbaik ketiga. Karena sekali kalah dari Persela, Menang dari Persita dan Barito Putra. Singo Edan hanya mampu mengkoleksi 6 poin.

Dibabak perempat final, Arema bertemu dengan tim kuat Bhayangkara FC dan main dikandang lawan. Hamka Hamzah mampu memutar balikan prediksi banyak pihak. Ketika dipenyisihan grup tidak menunjukan permainan agresif, tapi menjelma sebagai kekuatan baru. Tim Bhayangkara dibekuk dengan skor telak 4-1.

Lolos Semifinal, Arema ditantang Kalteng Putra yang merupakan tim promosi dari liga 2 ke Liga 1. Tim asal Palangkaraya diperkuat barisan pemain Liga 1 dari racikan Gomes Olivera. Dari dua laga sistem Home and Away, Arema mampu menjebolkan 3 gol ke tim berjuluk Laskar Isen Mulang. Arema datang ke Final.

Persebaya di Piala Presiden dengan rekrutan 3 pemain Asing, dibabak penyisihan menjadi kekuatan baru dan bertaji. Ada Balde, Jalolivo serta pengaturan serangan Lizio mampu membuat segi permainan Bajol Ijo atraktif.

Dibabak penyisihan, mereka mampu meraih poin 7 dari 2 kali kemenangan atas Persib dan Peserui. Hanya bermain imbang skor  kacamata melawan PS Tira - Persikabo.

Dibabak 8 besar, Persebaya harus mengulangi revans dengan PS Tira dari hasil drawing.Bermain dihadapan ribuan pendukungnya, PS Tira dibuat tidak berkutik dengan skor akhir 3-1 untuk tim kebanggaan Arek Surabaya. Dilaga itu ada momen Bonek melempar ribuan bonek untuk membantu anak-anak penderita kanker.

Semifinal, Persebaya harus menghadapi Madura United usai mengandaikan Persela Lamongan dihadapan pendukungnya. Melawan tim berjuluk Laskar Sape Kerap bukan hal mudah, karena tim ini diisi pemain hebat untuk liga I 2019. Ada nama Andik, Bento, Zah Rahan dan David Laly.

Laga perdana main di GBT, Persebaya dibuat kerepotan oleh anak asuh Dejan Antonic. Untuk bisa menang, harus berusah payah dan gol lahir dari Jalilov dimenit 65. Gol tunggal oleh banyak pihak belum bisa mengamankan posisi Bajol Ijo saat away ke Madura di leg ke 2.

Madura United menjamu Persebaya dilaga kedua. Sejak menit awal melakukan tekanan dari kedua sayap dan lini tengah. Namun, kokohnya lini pertahanan Persebaya, membuat anak asuh Dejan Atonic frustasi. Babak kedua, pertandingan mulai terbuka dan adu serang. Hingga akhirnya, skor akhir 2-3 untuk kemenangan tim tamu. Persebaya ke Final menantang Arema yang lolos duluan.

Mengulik Kekuatan PSBY dan ARFC

Arema dan Persebaya mempunyai permainan cepat dan atraktif. Diisi pemain berkualitas dan cerdas dalam menghadapi setiap situasi dalam pertandingan. Keduanya sama-sama memiliki pemain terbaik disetiap lininya.

Di Liga 1 2018, pertemuan keduanya sama-sama menang di kandang. Mereka bermain kesetan dan gila disaat ditonton pendukungnya yang dikenal memiliki rivalitas luar biasa baik di dalam dan luar stadion. Itulah pertemuan kedua tim, disaat persebaya harus di banned oleh PSSI sejak tahun 2010 silam.

Mari kita bahas kekuatan lini perlini dari skuad Arema dan Persebaya. Karena keduanya mengandalkan permainan sayap dan menusuk dari tengah.

Arema memiliki pemain depan yang sangat cepat. Ada Ricky Kayame, Dendik Setiawan. Meraka kedua sangat produktif dalam mencetak gol.

Lini tengah ada, Makan Konate, Hanif Syabandi, Dendi Santoso dan Hendro Siswanto. Makan menjadi pengaturan serangan ditopang oleh Hanif. Hendro dan Dendi menjadi penyeimbang serangan dari sayap.

Lini belakang ada, Alfarizi, Hamka Hamzah, Artur Cunha dan Alfin Tualasamony. Hamka dan Artur merupakan jangkar kuat dan sulit ditempur. Apalagi Hamka mampu menjadi striker dikala, lini depan sedang tumpul. Alfarizi dan Alfin pemain belakang yang membantu serangan dan overlap. Lawan bakalan kelimpungan.

Untuk pemain penganti, Arema juga banyak stok disetiap lininya. Dua pemain asing Pavel dan Robert Lima belum menunjukan kualitasnya, tapi bisa menjadi pembeda.

Untuk Persebaya, untuk lini depan ada si menara tugu pahlaan, Balde. Selalu unggul dalam perebutan bola atas. Mampu menjadi tembok pemantul bagi, secon striker Osvaldo dan Jalilov dengan mengandalkan kecepatan dan penempatan bola.

Jalilov mampu menjadi striker tersubur dengan torehan 5 golnya. Ini peluang untuk menambah di laga final nanti. Mat Jali julukan orang Surabaya, sangat berharap dari kakinya lahir gol demi gol.

Gelandang serang Lizio dengan skil dan teknik tinggi. Mampu mengatur serangan dan memanjakan umpan ke striker depan. Misbakun dan Hidayat menjadi penopang Lizio. Keduanya bisa menjadi penghadang saat lawan menyerang dan itu sukses dilakoninya.

Dilini belakang, ada quartet bagus yakni Syarifuddin, Dutra, Hansamu dan Novan. Mereka bermain sangat padu. Membantu serangan dikala pemain depan dan tengah dijaga lawan. Dutra dan Hansamu mampu menunjukan tukang gedor jala lawan saat melawan Madura United. 

Dibangku cadangan, masih ada pemain dengan kualitas bagus, seperti Oktafianus, Abdu Rizal, Rendi, Alwi Salamat dan Ruben Sanadi masih cidera. Jajang Nurjaman mampu meracik tim ini dengan baik meskipun postur tidak terlalu tinggi. Tiki Taka khas Surabaya dikenal dengan Coming From Behind, warisan almarhum Rusdy Bahlawan.

Arema dan Persebaya memiliki pemain hebat. Tapi di Final nanti, mental keduanya akan di uji. Mereka akan memanfaatkan mencetak gol banyak saat main dikandang sendiri. Dari infor yang beredar, Persebaya akan menjamu Arema dulu di GBT dan Kemudian, Persebaya dijamu Arema di Kanjuruhan. Arema pernah juara Piala Presiden 2017, apakah meraih kedua kalinya. Atau Persebaya yang memboyongnya ke Surabaya.

Bola dan Politik

Laga Arema Vs Persebaya bukan hanya rivalitas dua tim. Tetapi para pendukung keduanya yakni, Aremania dan Bonek tidak hanya didunia maya, tetapi di dunia nyata. Kedua kubu supporter sering terlibat friksi panas.

Dari penelusuran penulis, persaingan kedua Arek ini diawali dari Konser Kantata Takwa di Tambaksari tahun 1990. Saat itu, kumpulan anak muda asal Malang berada paling depan panggung dan berteriak Arema. Arek Suroboyo tak ingin pementasan musik dikuasai Arek Malang. Mereka mencoba menguasai dan terlibat bentrok. Bahkan, bentrok ini sampai di depan stasiun Gubeng.

Surabaya dan Malang memang dikenal sebagai pemudanya gandrung musik ditahun 90-an kebawah. Tak jarang sering bentrok saat ada konser maupun festival. Ternyata gesekan ini dibawa ke arena sepak bola, saat Persema melawan Persebaya maupun Persebaya melawan Arema.

Kenapa perseteruan dua Arek ini makin meruncing, ada pihak ketiga yang memberi ruang. Itulah adalah Media Massa besar kala itu. Bahkan, Radio lokal antara Surabaya dan Malang, sering menjadi corong untuk membangun militansi ke daerah. Pernyataan para pelaku bola di media massa, seakan menjadi api persaingan antara Arek Suroboyo dan Malang.

Perseteruan antara duo Arek mendukung tim Arema FC dan Persebaya mampu membelah dukungan sepak bola Jawa Timur. Sehingga, banyak para insan sepak bola yang tidak suka dengan Arema FC menjadi Bonek dan Sebaliknya. Seakan menjadikan kedua kesebelaan ini sebagai unjuk identitas anak muda.

Rivalitas Arema FC dan Persebaya bersama pendukungnya yang berjalan dari tahun ke tahun selalu menghadirkan cerita dilapangan hijau. Berbeda ditahun 2019, panasnya persaingan pemilihan Presiden tak beda jauh dengan Bonek dengan Aremania.

Di media sosial, antar pendukung Capres 01 dan 02 saling mencibir dan nyinyir. Jika dilihat dari postingan komentar, antara Cebong dan Kampret saling adung argumen tanpa ada penengahnya. Semua saling serang komentar, data dan informasi tentang capres/cawapresnya.

Apalagi, persaingan pendukung Jokowi dan Prabowo sudah sejak pilpres 2014 silam. Kini keduanya head to head kembali. Hanya pasanganya saja berbeda, Jokow mengandeng KH. Ma'ruf Amin dan Prabowo mengandeng Sandiaga Uno. 

Meskipun tidak terlibat friksi dilapangan seperti Bonek dan Arema. Namun, banyak kalangan mengkhawatirkan adanya degradasi kebangsaan terhadap NKRI dibawah Pancasila. Semoga dukung mendukung di Pilpres tidak seperti diunia sepak bola. 

Untungnya di Indonesia, sepak bola bukan menjadi alat untuk merai kekuasaan. Di Italy ada Belusconi dengan AC Milan. Di Spanyol ada Barcelona untuk memperjuangkan kemerdekaan Catalonia yang kebanyakan warganya keturunan Perancis.

Persaingan politik dalam sepak bola di Skotlandia antara, Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers untuk sekterian keagamaan. Namun, tetap menjaga keutuhan bernegara. 

Semoga dipanasnya jelang Pemilu 2019, para politisi tidak menggunakan fanatisme pendukung Arema dan Persebaya sebagai kendaraan. Sepak bola sebuah permainan olah raga untuk prestasi, bukan untuk kekuasaan negara. Mari kita tetap menjaga Pemilu tetap damai. Final Piala Presiden sebaga ajang wujudkan rekonsiliasi antara Bonek dan Arema yang sudah menaun dalam persaingan identitas di Jawa Timur.

Sepak bola bukan soal urusan menang kalah. Tetapi lebih mengarah menjungi kemanusiaan. Karena tidak ada yang membenarkan sepak bola menjadi ajang permusuhan sesama anak negeri. Jayalah sepak bola Indonesia menuju Piala Dunia.

Post a Comment

0 Comments