Recents in Beach

header ads

Cinta Rama-Fitri Dipatukan Cobra

Logo Tim Cobra Polres Lumajang


Namaku Ramadhan. Orang disekitarku memanggil Rama. Aku dari Surabaya datang ke Lumajang ikut teman kuliah yang sedang liburan. Sudah 2 minggu tinggal di Desa kaki Gunung Semeru di Kecamatan Pasirian. Ini pengalaman pertamaku hidup di Kota yang dikenal dengan aksi kriminalitas.

Ardi, teman kuliaku sering bercerita tentang kehidupan anak muda Lumajang. Sering nongkrong, naik motor dan menghabiskan waktu puasa dengan nunggu buka puasa di Jalan Lintas Selatan. Kadang menggelar adu balap motor dengan sedikit taruhan.

Setiap sore, aku oleh Ardi diajak jalan-jalan dari ke tepi bibir pantai selatan di pantai Bambang, Dampar hingga ke Gunung Wayang dekat Pos pantau Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro.

Aku ingat, lebaran kurang Seminggu. Ardi mengajakku usai sahur ke Gladak Perak kawasan Piket Nol. Dia bercerita tentang teman SMANya sedang akan mengadakan adu cepat dengan motor anak Pronojiwo.

"Ram, mau ikut gak nonton temanku balapan," ujarnya.

"Balapan apa,"

"Balap motor di candi,"

"Oke lah," jawabku.

Kamipun berangkat sebelum subuh ke arah Barat Pasirian menerebos gelapanya pagi dikala mentari di ufuk timur merangkak naik. Kabut dan embun pagi masih terasa dingin, meski jaket tebal diatas motor melahap jalanan.

Aku kaget, karena menunju ke Gladak Perak diperbukitan piket nol sanga banyak tikungan dan kondisi jalanan tidak rata.

"Kok ada ya, balapan motor digunung," pikirku.

Pertanyaaan didalam otakku tersimpan. Bagiku untuk apa bertanya tentang hal-hal yang tak ada hubungan tujuan. Apalagi datang untuk menonton teman Ardi balapan.

Kamipun bertemu dengan sekelompok anak muda yang suda tak asing dengan Ardi. Mereka langsung menanyakan kabar sahabatku ini.

"Hai Ar, pulang kok gak kabar-kabar," tanya teman ardi.

"Kenalkan, ini Rama temanku di SUrabaya," jawab ardi mengenalkanku pada teman-temannya.

Satu persatu teman Ardi menyalamiku dengan hangat. Mereka juga menawarkan untuk duduk yang pas untuk ngobrol. Ternyata, mereka masih menunggu motor dan joki motor yang akan balapan di pagi buta itu.

"Lha, itu Dio dan motornya datang, tinggal tunggu Si Jambul dari Supit," ungkap teman Ardi.

Ternyata, Gladak Perak yang dibangun oleh Kolonial Belanda sebagai jalur penghubung Lumajang-Malang semakin rame dengan anak muda. Baik dari kalangan SMP,SMA,Kuliah dan pengangguran. Tapi ada juga yang sudah bawa anak.

Tiba-tiba dari arah Selatan jembatan muncul kelompok motor dari Jambul dengan kawan-kawan. Ternyata, jalur balapan diatas Gladak Perak dan akan dikomandoi bersama. Dio dan Jambul mulai melakukan pemanasan, dengan jalur Lumajang-Malang masih belum disterilkan.

Aba-aba untuk balapan dimulai, semua kendaraan dihentikan untuk memberikan ruang even liar sebagai anak muda. Ketika balapan hendak dimulai, tiba-tiba ada raungan mobil polisi dari 2 jalur baik dari Candipuro dan Pronojiwo. Semua kabur.

Aku betapa kagetnya, baru kali ini melihat balapan liar secara langsung sudah ada razia. Pasalnya, untuk aksi pembalap jalanan hanya bisa ditonton lewat You Tube. "Mati aku, apes nonton balapan saiki," ujarku dalam hati.

Tiba-tiba ada motor matic ditumpangi 2 cewek berkerudung. Mereka meminta tolong padaku untuk memarkirkan motornya dekat warung.

"Mas minta tolong ya, parkirkan motorku," ujar perempuan berkerung ungu dengan mata sipit.

Tidak tahu kenapa, Aku yang begitu dingin pada sosok perempuan, setelah patah hati 2 tahun silam. Mata, kaki dan tanganku bergerak untuk menolong.

"Makasih ya mas," ujarnya.

"Sama-sama," dalam hatiku dengan mengulurkan tangan dan terasa kelembutan sosok kaum hawa Lumajang.

Banyak dilakukan oleh gerombolan anak muda untuk terhindar dari Razia. Apalagi, Razia ini dilakukan oleh Tim Cobra yang dikenal sangat tegas dan tidak ampun terhadap tindak tanduk kejahatan. Kalau ada motor tidak lengkap surat-suratnya bisa diangkut pakai Truk berlogo Ular Cobra yang menjulurkan lidahnya.

"Siapa yang punya motor matic merah ini," tanya polisi.

"Saya pak," jawab perempuan itu.

"siapa namamu dan Surat-surat mana," jelas polisi dengan kacamata hitam.

"Fitri pak, ini suratnya,"

Aku hanya bisa memandangi dari jarak 3 meter, si Fitri dengan polisi untuk mengecek setiap kendaraan. Ardi tidak bersamaku, karena sedang betugas steril jalan untuk balapan. 

"Ini motor siapa," ujar polisi menunjuk motor Ardi.

"Maaf ini itu motor temanku," jawabku.

"Mana orangnya,"

"Temanku ada diujung sana pak, tunggu aja," 

"Oke, saya awasi, nanti kabari dan tunjukan surat-suratnya," jelas anggota Tim Cobra.

Banyak orang yang kaget dengan adanya operasi. Apakah ada hubungan dengan balapan liar, aksi kejahatan dan operasi motor bodong. Semua yang ada di sekitar Gladak Perak hanya menduga-duga.

Tanpa disengaja, mataku saling pandang dengan Si Perempuan Berkedung pemilik nama Fitri. Dia terseyum dengan lipstik merah tipis laksana bunga mawar merekah. Meski dia sedang ngobrol dengan temannya, matanya seakan menuju padaku.

"Hai, kenapa matamu menatapku dan boleh kah ku mengenalmu sebelum ku ke Surabaya," dalam hatiku.

Lagi-lagi entah kenapa, kakiku bergerak dan menuju ke tempat si Fitri ngobrol. Walaupun degup jantung berdetak kencang tak karuan.

"Oh ya, nama saja Ramadhan, boleh kenalan khan," sapaku.

"Boleh," jawabnya.

"Oh ya, tadi polisi seakan mau menilangku saat menanyakan motor temanku," jawabku.

"Punyaku aman, surat-surat ada," Jawab Fitri dengan mata tajamnya menuju mataku hingga hati ini.

Kamipun terlibat obrolan mengenai kedatangan ke Gladak Perak dan Operasi Tim Cobra. Dari Fitri dan temanya si Anita, aku mendapatkan banyak informasi tentang Gladak Perak dan Lumajang. Beruntungnya aku, bisa mendapatkan akun instagramnya dan saling follow.

Bertemu si Fitri seakan mengembalikan jiwaku yang terluka karena cinta di Surabaya. Ada kesejukan dari mata dan senyum gadis Kaki Gunung Semeru dibalut dalam kerudung ungu. Cara berbicara yang sopan, lembut dan penuh perhatian. Dia masih kuliah dan mondok di Kampus tak jauh dari sisa peninggalan Kerajaan Lamajang.

Cintaku Tumbuh di Kaki Gunung Semeru.

*Cerpen Ramadhan Menyambut Idul Fitri

Post a Comment

0 Comments