Recents in Beach

header ads

Cobra Dalam Sejarah Klasik Lumajang

Logo Tim Cobra Polres Lumajang


Lumajang oleh masyarakat tetangga dan luar kota dikenal sebagai sarang mafia atau penjahat. Aksi kriminalitas jalanan dengan perampasan motor dikenal dengan sebutan begal kerap menghiasi media massa. Akibatnya, Kota Pisang ini dijuluki Kota Begal. Hal ini didasari kerap terjadi perampasan motor dijalanan disertai kekerasan dijalanan.

Ketakutan dan ketidaknyamanan beraktifitas bagi masyarakat Lumajang sendiri maupun orang luar kota terganggu untuk melintas di jalanan. Rasa aman menjadi was-was hingga dikecam ketakutan. Korbanpun berjatuhan dan ada memakan korban jiwa oleh para pelaku begal. Sungguh sebuah citra buruk bagi daerah masyarakat hidup sebagai petani.

Hadirnya Kapolres Lumajang, AKBP Arsal Sahban membawa angin segar perubahan untuk kondisi keamanan. Melalui sepak terjangnya bersama tim Cobra untuk menekan aksi kriminalitas seperti Begal dan Maling Sapi mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap polri sebagai pembasmi kejahatan. Tim Cobra mampu menjadi skuad super hero dan dicintai.

Puluhan pelaku kejahatan ditangkap dan dihadiahi timah panas oleh Tim Cobra bila tidak mau menyerah saat digrebek. Puluhan penjahat diperiksa dan dijebloskan ke tahanan. Sebagian motor masyarakat yang pernah dicuri bisa ditemukan dan dikembalikan pada korbannya oleh polisi.

Media sosial sebagai media komunikasi masyarakat menjadi ajang dukungan terhadap tim Cobra. Keamanan Lumajang berangsur-angsur normal dan aktifitas masyarakat tidak lagi dibayangi ketakutan. Tim Cobra bersama Arsal Sahban terus mendapat do'a dan dukungan dari masyarakat.

Cobra di Sejarah Semeru

Tim Cobra yang dicetuskan oleh Kapolres Lumajang, AKBP Arsal Sahban bila diruntut dalam sejarah panjang masyarakat kaki Gunung Semeru ada kaitanya. Pasalnya, Gunung Tertinggi di pulau Jawa ini yang berada di sebelah barat Kota Pisang memilihi sejarah luar biasa.

Disaring dari berbagai sumber, Gunung Semeru dimasa pra sejarah dan masa klasik oleh orang kuno dijadikan tempat pemujaan arwah nenek moyang. Bagi masyarakat Hindu kuno, Semeru diyakini sebagai puncak tertinggi Gunung Himalaya yang berada di utara India yang dipindah ke tanah jawa untuk menghindari bumi dari bencana. Semeru diyakini tempat bersemayamnya Dewa Siwa. Gunung Semeru yang aktif diyakini sebagai wujud Siwa sang Dewa perusak dalam mitologi Hindu Kuno.

Letusan dari Semeru dari zaman ke zaman mampu memberikan keberkahan melalu material-material vulkani terhadap lahan pertanian. Sehingga jawawut atau padi mampu tumbuh subur di kaki Gunung dengan puncaknya dikenal Jonggring Saloko.

Akibatnya, di kaki Gunung Semeru banyak ditemukan alat pemujaan desa Siwa dalam bentuk Altar Naga Lingga Yoni. Seperti di Candi Gedhong Putri di Desa Sumberejo Kecamatan Candipuro ditemukan Artefak Kuno Lingga Yoni Altar Naga dengan pahatan halus dengan ornamen Naga atau ular Cobra.

Lingga Yoni Altar Naga juga ditemukan di kaki Gunung Semeru dan digunakan oleh masyarakat yang masih menyakini. Namun, dengan perkembangan pengetahuan dan pemahaman spritualisme mulai ditinggal dari kepercayaan ke agama. Temuan pemujaan dewa siwa  ada di Makam Desa Krai Kecamatan Yosowilanggun, Di Persawahan Desa Boreng Kecamatan Kota Lumajang serta sejumlah alus di desa-desa Kecamatan Senduro.

Lingga Yoni dipercaya oleh masyarakat klasik Lumajang sebagai pemujaan dewa Siwa untuk dijauhkan dari keanggara murkaan makluk dari bakta sang perusak. Karena letusan gunung, penyakit serta kejahatan berasal dari bakta dari dewa siwa yang memiliki hati dan watak jahat.

Menurut Poerwadarminta Naga berdasarkan etimologisnya dari bahasa Sansekerta yang artinya Ular. Sedangkan dalam bahasa Indonesia naga berarti ular besar (Nina santoso Pribadi, 1989:150).Naga atau Ular mengandung banyak makna dan tafsiran, antara lain Naga adalah lambang kekuasaan, kesaktian, pelindung dan kesejahteraan bumi, penjaga air suci Amerta serta simbol kesuburan.

Berdasarkan Mitologi Pola hias Naga yang bermahkota dihubungkan dengan kekuasaan kerajaan (pemerintahan) antara lain : Dalam kehidupan manusia banyak disebutkan mitologi mengenai peranan Naga. Naga bermahkota dihubungkan dengan unsur pemerintahan (Kerajaan), menurut Fergusson tahun 1971 menyebutkan Naga berhubungan dengan unsur kerajaan pertama kali didapatkan pada naskah Mahabharata yang menceritakan Arjuna dengan Ulupi putri Raja Naga dari Himalaya dan perkawinan Arjuna dengan Chitragada putri Raja ular bernama Chitravahana dari Manipur (Nina Santoso Pribadi, 1989:151).

Cobra Basmi Penjahat

Naga atau Cobra adalah sebuah watak jahat yang mampu ditaklukan oleh Dewa Siwa dalam sejarah mitologi Hindu. Sehingga, Cobra menjadi alat atau senjata dewa siwa dalam sebuah penyucian diri manusia dari tutur dan ucapan yang buruk. Sehingga Cobra sering dijadikan sebuah alat pemujaan bagi manusia untuk terhindar dari balak musibah atau kejahatan yang dilakukan mahluk halus seperti Setan dan Iblis.

Jika diruntut sejarah Cobra masa silam dan kini, ada keterkaitan yang sangat mendalam diera kuno dan modern. Jika dulu Cobra disimbolkan sebuah kekuatan untuk bisa menahan manusia dari perbuatan atau perkataan dapat menyakitkan.

Kini Cobra adalah tim dari anggota Polri yang benar-benar menjadi pelindung masyarakat dari kejahatan. Ular Cobra yang melilit dileher Dewa Siwa dalam sebuah sejarah Mitologi Hindu bisa menjadi hubungan antar manusia kuno dan kini. Tim Cobra Polres Lumajang mendapat do'a dan dukungan untuk memberantas kejahatan yang sudah beradaptasi dari zaman ke zaman.

Post a Comment

0 Comments