Recents in Beach

header ads

Mudik Bukan Sekedar Pulang Kampung

Penulis pernah merasakan Mudik saat Merantau di Surabaya


Lebaran sebentar lagi. Mudik telah tiba. Banyak manusia di Indonesia, khususnya di pulau Jawa melakukan ritual rutin tahunan. Pulang kampung untuk mengingat kembali dimana kita lahir, berkumpul bersama keluarga, tetangga, teman dan banyak hal.

Mudik bukan sebuah proses perjalanan jarak jauh atau hijrah. Tapi sebuah budaya masyarakat muslim di Jawa yang merayakan hari kemenangan setelah puasa sebulan lebih bersama orang terdekat. Mengenang masa kecil, muda, remaja dan dewasa. Itu bagi yang hidup tetap atau sementara jauh tanah kelahiran.

Dari dulu hingga sekarang, Mudik adalah sebuah fenemenologi yang tak habis dimakan zaman. Kesibukan pemudik bukan hanya jelang lebaran, tetapi sudah jauh hari. Mulai dari persiapan dengan menabung untuk pulang kampung beserta oleh-oleh. Bahkan, para perantau baru sudah berpikir saat juah dari tanah kelahiran dipikirkan, apakah bisa mudik!. 

Banyak cara dilakukan para pemudik untuk bisa sampai ke kampung halaman. Bahkan, ada cerita dari seorang pemudik membawa teman diperantauan luar jawa untuk menyaksikan langsung ritual Mudik. Kebanyakan terkesan dan memahami perjalanan spiritual manusia untuk kembali ke fitrah sebagai orang kampung atau kota pinggiran. 

Mudik mungkin seperti rindu. Seperti di Film Dilan, "Rindu itu berat biar aku saja". Itulah sepenggal kutipan, kenapa Mudik itu bagi para pelakunya begitu dinanti dan dihadapai meski jarak antara perantauan dan kampung ribuan kilometer. 

Ada rindu terhadap orang dicintai seperti Ibu, Bapak, Kakak, Adik, keponakan, tetangga, keluarga besar dan banyak kenangan lainya. Rindu dulu tumbuh bersama dipisahkan jarak, hanya melalui ritual mudik bisa bertemu ditengah kesibukan bersama keluargga  dan pekerjaan diperantaun. Rindu itu Mudik.

Ada yang bilang Mudik itu, mengulangan kesenangan dan kenangan. Ya, mengenang dengan orang tua dan saudara. Rindu bercengkrama bersama, makanan dan suasana rumah membesarkan kita dalam jalinan hubungan manusia dalam balutan keluarga.Bahkan, saat bersama rindu masakan lama seperti sayur kelor, pecek terong, ikan asing dibakar, serta makanan desa dengan hasil mencari di pekaranan dan sawah. Semua ingin diulang meski sebentar saat lebaran. Waktu Mudik. Meski hanya bisa menatap wajah sang mantan, dikala CLBK menerpa seperti angin. Bertiup dan berlalu.

Motivasi untuk mudik memang lebih berlipat. Meskipun saat diperantauan tidak banyak rejeki, tetapi banyak hal dilakukan oleh sebagian pelakunya. Tak jarang memilih berhutang atau menjual harta berharga untuk bisa pulang kampung. 

Mudik mampu mengembalikan semangat dan motivasi hidup. Sehingga para perantau yang mudik akan berlibat ganda untuk sukses. Motivasi untuk sukses bisa lahir. Dikala bertemu dengan orangtua dan saudara menjadi tempat curhat yang ampuh untuk mengembali jiwa petarung kehidupan. Ada sisi spiritualis dalam me-restat ulang pola pikir pencundang menjadi pemenang.

Mudik bukan hanya memunculkan motivasi, tetapi juga bisa melahirkan seorang berkepribadian. Karena kesukseskan seorang pemudk diperantauan bukan hanya harta benda, tetapi cerita dibalik kesuksesan dan kegagalan dari orang terdekat dan tetangga.Belum tentu sebuah gaya hidup diperantauan sangat cocok dikampung halaman. Bisa-bisa maunya gengsi malah sensi sendiri dengan gaya perantauan dibawa ke kampung halaman. Apalagi yang jarang mudik, bisa salah tingkah. Ingat brow, sekarang sudah zamannya kemajuan era teknologi yang serba 4.0 menuju 5.0.

Ritual mudik memang akan menjadikan banyak orang saat dikampung menjadi mereka seutuhanya. Kembali menjalankan budaya yang membesarkannya dan berisi petuah petuah lama. Kesuksesan dan kegagalan manusia dalam kembali fitra dipengaruhi banyak hal. Karena Allah SWT sang pencipta sudah mengariskan masing-masing takdir. Apakah manusia itu bisa ikhlas dan sabar dalam menghadapi sukses dan kegagalan. Mudik bukan sebuah perjalanan dari kota A ke B ataupun dari Kampung C ke D. 

Mudik bukan untuk memamerkan pencapaian ditanah perantauan. Namun sikap kesederhanaan yang mampu ditunjukan pada orang terdekat kita. Mudik kita, tidak akan ditanya oleh orang tua, seberapa banyak hartamu dan teman-teman suksesmu. Tapi, pada lebih menanyakan kabar kesehatan, istri dan anakmu. Bapak dan Ibu kita, hanya ingin berkumpul dan menikmati kembali masa-sama kebersamaan dalam perjuangan menghadapi hidup. 

Hari ini, mungkin kita bisa melihat dilingkungan terdekat. Sudah banyak manusia yang sudah lupa mudik atau jalan pulang. Ini akibat terlalu cinta pada dunia seperti pangkat dan jabatan, hingga lupa esensi dari Mudik disetiap lebaran. Meskipun berulang kali senja mengingatkan kita untuk kembali pulang berkumpul bersama keluarga. 

Senja bukan keindahan, tetapi kembali mengingatkan kita. Semoga Mudik kali ini, kita benar-benar menjadi Mudik Lahir dan Batin. Minnal Aidin Walfaidin, Mohon Maaf Lahir dan Batin 1440 Hijriyah. Harry Purwanto Sekeluarga. Salam sayang untuk pembaca setia. Hati-hati diperjalan mudik, ingat orang tua kita menunggu kehangatan dan senyum ikhlas. Amin.

Post a Comment

0 Comments