Recents in Beach

header ads

Orbituari : H. Yusuf Sanim Pencetak Atlet Juara Berpulang

Foto : Almarhum H.Yusuf



Langit Lumajang dalam 2 hari terakhir selalu mendung dan hujan gerimis. Apakah ini pertanda atau isyarat kabar duka. Kini, Lumajang telah kehilangan sosok Patriot Olahraga Taekwondo yang menghasilkan mendali di berbagai kejuaraan.

Ia adalah H. Mochammad Yusuf yang mengabdikan hidupnya untuk memajukan olah raga Taekwondo asal negeri K-Pop Korea di kaki Gunung Semeru. Puluhan tahun, dia mampu membentuk dan melahirkan atlet berprestasi membanggakan bagi Lumajang dan Bangsa Indonesia.

Dari olah pikir dan tubuhnya menjadikan atlet Lumajang disegani di tingkat Jawa Timur dan Nasional. Sudah ratusan mendali emas, perak dan perunggu dibawa ke Kota Pisang dari even kejuaraan Nasional dan Internasional.

20 hari lagi, sekitar 158 atlet Lumajang akan berangkat ke PORPROV 2019 di Kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban dan Bojonegoro. Dari ratusan atlet itu, ada para anak-anak didik  Sanim (Saboeumnim/pelatih,red) H.Yusuf untuk  meraih prestasi dan mendali sebagai atlet unggulan Lumajang.

Kabar duka datang bak petir di Siang Bolong. Sanim Yusuf berpulang karena serangan jantung. Jujur saja,  sangat mengagetkan para insan pelaku dan pembina olah raga Lumajang. Pria bertubuh besar dan memiliki suara keras nan tegasnya sudah tidak bersama lagi dalam memajukan olahraga Lumajang.

Saya akan bercerita tentang perkenalan dengan Abah Yusuf sebagai jurnalis dari sudut pandang sendiri. Di tahun 2009, saya mengenal beliau menjabat sebagai Ketua KONI saat liputan tentang perkembangan olahraga di Lumajang di kantornya bekas SMPN 1 Jl. Alun-alun Barat.

Dia tidak hanya bercerita bagaimana pembinaan olahraga, tetapi tentang jati diri orang Lumajang sebenarnya melalui sejarah yang disampaikan tutur tinular (sejarah.red). Jika Kota Pisang ini adalah dihuni orang-orang petarung hebat dan disegani sejak jamannya Majapahit hingga Kolonial, bukan tipe pantang menyerah dan pasrah pada nasib orang lain.

Abah Yusuf dikenal lantang dalam meneriakan aspirasi soal dana pembinaan untuk olahraga dan reward atlet masih tidak cukup alias tidak sama dengan daerah lainya. Karena profesi atlet dianggap pekerjaan sambilan dan hobi. Apalagi minimnya prasarana pendukung bagi cabor dari pemerintah lebih mengedepankan pada jumlah penonton dan yang dibina oleh aparat pemerintah.

"Mas, olahraga adalah kebanggaan bangsa kita. Kalau bukan dari olahraga, bendera merah putih dan lagu kebangsaan tidak bisa dinyanyikan resmi di negara orang, hanya atlet indonesia berprestasi," ujar H.Yusuf.

Dia juga bercerita melakui olahraga bisa menjadikan Lumajang dikenal dan wisata alamnya dikunjungi. Apalagi, alam yang ada di Lumajang sangat bagus dalam melatig fisik dan mental atlet.

"Lumajang ini dikaruniai alam yang luar biasa," jelasnya dulu diawal tahun 2010.

Sanim Yusuf bukan hanya bergelut di Lumajang dalam memajukan olah raga. Sejak tidak menjadi ketua KONI Lumajang. Dia dipercaya sebagai pengurus Taekwondo Indonsia (TI) -Jawa Timur. Gak tanggung-tanggung, sebagai ketua harian TI yang mengurusi memajukan olahraga tendangan kaki itu di wilayah 38 Kabupaten Kota.

Saya pernah datang langsung pada Kejurda taekwondo, Abah Yusuf sosok yang paling disegani dan dihormati. Karena melalui pemikiran membesarkan Taekwondo di Jatim banyak program besar yang dirintis. Mulai dari seringnya ada kejuaraan Taekwondo di Jatim hingga di Nasional. Bahkan dia berani berjanji, jika Lumajang akan aktif ikut disetiap kejuaraan mulai tingkat usia hingga dewasa.

Jangan ditanya pada atlet Taekwondo dan wali atlet. Mulai sejak dini, atlet abah Yusuf akan ikut dan hadir untuk meraih prestasi. "Buat apa latihan terus, harus turun bertarunglah," ungkapnya waktu silam.

Meskipun abah Yusuf lantang berteriak untuk dana bantuan pembinaan Pemerintah pada cabang olahraga masih dinilai kecil dan Prasarana kurang. Hal itu semata demi meningkatkan kualitas atlet dan pembinaan. Namun, di TI Lumajang bagi para atlet dan wali atlet tidak diajarkan manja, semua dipantau dengan seksama olehnya. Komitmen yang luar biasa, hanya urusan latihan mulai pemanasan hingga uji tanding, diawasai.

Pernah suatu kali, Saya mendapati Sanim Yusuf sedang ikut rapat di KONI. Dia sebenarnya harus hadir untuk melatih anal didiknya. Tetapi dia memantau dengan melakukan video call, kegiatan latihan di Padepokan yang didirikannya.

"Membina atlet itu, bukan hanya diomong, tapi dilakukan secara terus menerus, untung ada Video Call," ungkapnya.

Kesunguhan dalam membina dan menghasil atlet Taekwondo Lumajang berkualitas. Abah Yusuf juga tak sepi dari cibiran atas sikap dan prinsipnya untuk menjadikan Lumajang berjaya. Bukan karena jabatan, sebenarnya Abah Yusuf sangat sibuk bekerja di Koperasi dan bertani. Namun, dia tidak mau berpikir negatif dan terus maju pantang mundur.

"Orang itu tidak dinilai dari omongannya, tapi hasilnya. Sudah berapa atlet Lumajang mewakili Jawa Timur dan Nasional, saya bangga," terangnya.

Saya bangga bisa mengenal dan akrab dengan beliau selama liputan olah raga. Sejak saya menjadi pengurus KONI sebagai Ketua Bidang Humas dan Media, dalam memajukan olahraga memang dibutuhkan sosok seperti Abah Yusuf yang memiliki prinsip dan komitmen kuat.

Mengutip kata bijak George Washongton, Presiden Pertaam Amerika, Kedisiplinan, harga diri, dan kepedulian merupakan awal dari keberhasilan. Lumajang kehilangan sosok patriot olahraga yang mampu melahirkan atlet peraih mendali. Selamat jalan abah. Sanimku. Semoga amal dan ibadahmu diterima disisi-Nya. 

Post a Comment

0 Comments