Recents in Beach

header ads

Pesan Filosofi Mbecak Arsal Sahban Bagi Polri

AKBP Arsal Sahban Mbecak


Becak adalah moda transportasi yang pernah populer di Lumajang. Saat saya sekolah menengah pertama di kota Pisang ditahun 90-an, banyak sekali teman-teman diantar abang tukang becak. Bahkan, tak jarang teman dari luar kota seperti Pasirian, Tempeh, Candipuro, Senduro saat dari terminal Pasar Baru naik becak untuk menuju sekolah.

Becak moda transportasi yang begitu populer di Jogyakarta dan itu bisa dilihat di Malioboro dan sekitar keraton Hamengkubowono baik keraton Kidul dan Utara. Di zaman orde baru, becak adalah transportasi yang sangat dibutuhkan, bisa dilihat di pasar-pasar dan terminal angkutan umum.

Abang tukang becak menjadi idola, disaat moda transporatasi pribadi seperti motor dan mobil dinilai sebagai barang mewah dan mahal. Sehingga, becak adalah angkutan umum yang murah meriah. Bagi abang tukang becak selain mengaiz rejeki mendapat bonus olahraga untuk kesehatan.

Sudah 2 kali, Kapolres Lumajang, AKBP Arsal Sahban melepas anggota polri yang purna tugas dengan menjadi abang becak. Dia menjadi pengemuda alias mancal sendiri dengan penumpang anak buahnya yang senior sudah purnah tugas dalam pengabdian puluhan tahun di tubuh Polri.

Entah, ide dari mana pria kelahiran asal Makasar menjadi becak sebagai moda transportasi untuk dijadikan simbol mengantar anggota polri ke tengah masyarakat. Jelas bukan asal pilihan sederhana bagi seorang perwira polisi dengan melati 2 dipundaknya dan bergelar doktor dibidang ilmu hukum bisnis lulusan Universitas Padjajaran Bandung itu.

Sindhuta seorang penulis dan sastrawan Indonesia menilai Mbecak atau mengayuh becak memiliki filosif mendalam sebuah kehidupan. Abang tukang becak menilai pekerjaanya sebagai "Waton Urip" yang memiliki arti rejeki yang mengalir tidak putus-putus. Bukan juga diartikan asal hidup tanpa memberontak terhadap kehidupan didunia. 

Tukang Becak, pendapat Sindhunata mengajarkan untuk kita bisa mennerima apa yang diberikan oleh kehidupan. Tapi bukan pasrah menerima, tetapi terus hidup ditengah kerasnya roda kehidupan mengayuh becak tanpa henti. Melalui Mbecak, rejeki akan terus mengalir meski tidak besar dan bertahan hidup ditengah masyarakat.

Arsal Sahban seakan memberikan pesan tersirat dalam kerjanya untuk menghargai seniornya yang betugas lebih dahulu sebagai anggota polri memasuki masa purna tugas. Tidak berdinas ditubuh Korps Bhayangkara tidak menghentikan pengabdian terhadap masyarakat dan tak menutup pintu rejekinya.

Meskipun Tukang Becak dilabeling oleh sebagian masyarakat sebagai pekerja kelas bawah rentan kemiskinan. Namun, kita bisa melihat para abang becak terus melawan kerasnya pada kehidupan. Mereka bukan melihat jenis pekerjaan, tetapi tentang dari becak bisa menghidupi keluarganya. Bahkan, banyak dari mereka menginginkan sang buah hatinya bisa sekolah dan memperbaiki kehidupan. Kini sudah banyak anak abang becak yang kuliah mampu meraih prestasi akademis luar biasa.

Seorang Mahasiswi, Herawati (23) di Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih nilai kelulusan Cumlaude di jurusan Kimia Fakulutas MIPA. Saat wisuda sang ayah, Sawiri (66) asal Banteng mengatar putri dengan mengayuh becak ke kampusnya.

Bagi anggota Polri yang sudah purnah tugas, selamat datang ditengah masyarakat. Mari kita jadikan Lumajang aman dan nyaman sebagai pusat tujuan orang luar untuk berkunjung. 

Post a Comment

0 Comments