Recents in Beach

header ads

Rama-Fitri : Chat Instagram

Instagram : Media Sosial Digandrungi Anak Muda


Peristiwa di Gladak Perak. Ternyata membuat Rama tidak bisa melupakan pertemuan dengan si perempuan berkerudung ungu pemilik nama, Fitri. Wajahnya mengiasi dalam ingatannya. Senyumnya selalu terbawa dan membuat wajah Rama riang.

"Hai Ram, kamu kok kelihatan aneh," ujar Ardi pada rama saat perjalan pulang dari Gladak Perak diatas motor.

"Ah masak,"

"Iya, kayak orang kesambet jin,"

"Bukan kesambet, sudah masuk ke diriku," jawabku.

"Aneh, kemarin hanya diam saja dan sulit diajak ngobrol, sekarang malah senyam senyum seperi monyet kena timpuk,"

"Hehehehe..."

"Kamu kayak orang gila," jelas Ardi sambil menunjuk spion motor.

"Sudah nyetir aja, nanti aku ceritain," ujarnya.

BACA JUGA : Cinta Rama-Fitri Dipatukan Cobra

Aku benar-benar dibuat kagum dan dikepala hanya berisikan senyum si Fitri. Hidung mancung dengan bibir tipisnya selalu membayangi pikiranku. Apalagi ucapan lembutnya mampu melulukan lelaki siapa saja yang memperhartikan si dia. Iya dia, si Fitri. Si Kerudung Ungu.

"Ram ada cewek didepan, yuk kita goda," ajak Ardi.

"Ah ngapain,!

"Siapa tahu kamu bisa kecantol dan melupakan si Noni,"

"Gak ah males," jawabku tak mau menoleh untuk melihat 2 gadis, salah satunya rambu sebahu.

"Hai cewek," sapa Ardi pada perempuan bermotor matic warna pink.

Meskipun Ardi mengoda perempuan dijalanan di sekitar Kecamatan Candipuro. Aku tidak peduli, karena selalu terbayang wajah si Fitri. Rasa penasaran dan ingin menyapa lewat instagram jauh lebih membuatku semangat.

Selama perjalanan dari Gladak Perak hingga kerumah Ardi tak jauh dari Pasar Pasirian, wajah Si Fitri selalu membuntutiku. Berada di Lumajang untuk jauh dari rasa patah hati, membuatku lupa dan semakin kerasan saja di Kota Pisang ini.

Setiba dirumah Ardi, Aku langsung masuk kamar dan mengisi baterai ponsel yang drop alias kosong melompong. Keinginan untuk menyapa lewat Direct Messagger (DM) sudah tak tertahan seperti bedungan Gajah Mungkur yang sudah penuh. Saat ponsel sudah terisi 5 persen baterai, langsung ku hidupkan. Kubuka akun si Fitri yang sudah aku follow.

"Hai, aku Rama yang tadi ketemu di Gladak Perak," sapaku.

"Iya, ada apak," jawabnya.

"Sudah dirumahkah atau masih jalan-jalan?"

"Sudah dirumah, lagi dikamar,"

"Oh....!" jawabku lagi.

Kuambil bantal untuk sebagai penahan punggug saat duduk sambil selonjor di atas kasur milik Ardi. Jawaban dia di instagram dan mau ngobrol membuatku ada semangat untuk lebih mengenal.

"AKu tadi kaget pas kamu minta tolong minta pindahan motormu diparkir dekat warung,"

"Oh ya, tadi aku binggung dan baru kali ini main ke Gladak Perak ada razia polisi," jawabnya.

"Kamu asli mana sih?"

"Aku Candipuro aja,"

"Kalau Aku Surabaya, ke Lumajang ikut teman liburan," jawabku dengan jujur. Karena baru kali ini menjawab begitu polos. Biasa aku selalu menutup diri dan sering bermain-main agar tidak mudah dipaham serta dikenal saat mengajak kenalan cewek.

"Oalah, aslinya mana sih? tanya si Fitri.

"Aku Surabaya, mumpung liburan kuliah, ikut teman ke Lumajang pulang kampung," jawabku.

"Oalah, perkiraanku, kamu Lumajang sini aja,"

"Maaf, aku gak ganggu kamu khan chat lewat instagram?".

"Gak apa-apa, lagi santai kalau hari Minggu,"

"Oh ya salam kenal ya, aku Rama...tolong diingat ya, aku Rama, lengkapnya Ramadhan," ujarku panjang lebar.

"Ita, aku Fitri,"

"Ya sudah, ponselku lagi tak isi baterai, pas pulang dari Gladak Perak ingin sekali menyapamu lewat IG," jelasku.

"Oalah,"

"Ya udah, nanti aku chat lagi. Kalau gak ganggu sih?"

"Ya wes gpp, kalau gak sibuk,"

"Aslaikumsalam,"

"Walaikum salam," jawabnya.

Aku sangat senang sekali dengan ramah dia mau membalas chatku. Apalagi mau ngobrol panjang lebar. Tapi, bagiku yang aneh. Aku begitu mudah jujur pada si Fitri. Padahal baru kenal. Aku bahagia dan senang sekali.

Tiba-tiba Ardi masuk kamar dan menyapaku dengan muka senyum. Dia bercerita tentang kejadian razia dari polisi dengan logo Cobra hitam. Saat itu, diperkirakan tidak ada razia untuk menggelar balapan motor di Piket Nol. Sehingga teman-temanya memberanikan untuk balapan. Karena sebelumnya ada razia di Jalan Lintas Selatan dan banyak motor diangkut oleh Tim Cobra.

"Cobra lagi, cobra lagi,"

"ada apa dengan Cobra," tanyaku pada Ardi.

"Sejak ada Tim Cobra segala aktifitas kejahatan dan kegiatan yang mengarah gangguan kamtibmas ditindak,"

"Sejak kapan tim cobra ada di Lumajang," tanyaku lagi.

"Sejak Kapolresnya baru, namanya Arsal Sahban."

"Gimana orangnya dan sepak terjangnya,"

"Cerita anak-anak, orangnya masih muda, tegas dan sering turun ke lapangan untuk menangani beberapa kejadian,"

"Khan enak, Lumajang aman,"

"Ya enak, tapi khan pasti ada pro kontra, kamu tahu sendirikan," jelas Ardi sambil duduk dikursi belajarnya dulu pas SMA.

"Khan enak, Lumajang aman, apalagi dikenal KOta Begal,"

"Iya sih, untung tadi gak ada anak-anak yang balapan yang ditangkap, hanya motor untuk balapan diamankan dan diurus di Lumajang," cerita Ardi.

Aku menghargai dan memahami cerita dari Ardi. Meskipun dikepala ini berisi tentang di Fitri. AKu ingin sekali bertemu dan ngobrol lama untuk saling mengenal satu sama lainya. Meskipun  aku harus kembali ke Surabaya di H-2 lebaran.

Ardi kemudian menagih janji padaku untuk bercerita saat di Gladak Perak.

"Ayo kamu cerita, tadi janji soal disana,"

"Gini Ar, tadi aku ketemu cewek cantik dan ramah," ujarku.

"Terus-terus."

"Aku kagum dan kepikiran terus dijalan tadi, maaf ya,"

"Oalah, makanya tadi saat tak ajak goda cewek gak mau, dasar,"

"Maaf ya Ar, pucuk dicinta ulampun tiba,"

"Waduh mulai wes jadi penyair dan tukang pantun, kumat lagi kamu,"

"Maaf ar, sumpah aku kagum,"

"Kamu itu kena cinta pandangan pertama, ampun deh,"

"Bantu aku Ar, nanti aku sering kesini nemenin kamu pulang,"

"Dasar play kota jadi kampungan," sergah Ardi sambil mendorong kepalaku.

Ardi kemudian meninggalkanku di kamar dan entah pergi kemana. Selama di Lumajang, Ardi sering membantu bapaknya ke sawah untuk mengecek tanaman padi dan kebuh kelapa.

---------------

Habis Buka puasa. Hari Minggu ingatku. Aku mencoba menyapa Si Fitri lewat DM Instagramnya. Tapi sebelum chat, Aku melihat foto-foto yang diunggah. Kelihatanya Fitri suka sekali jalan-jalan ke tempat wisata dan foto bersama kawan-kawanya.

"Assalamualaikum Fit,"

"Walaikumsalam,"

"Ganggu gak Fit,"

"Sebentar lagi aku mau sholat magrib dulu, ada apa,"

"Ya udah kalau sudah sholat, aku chat lagi deh,"

"Ok," jawabnya singkat.

Sekitar 10 menit. Aku menunggu Fitri selesai sholat. AKu duduk dikursi belajar dikamar Ardi. dari tata ruangan, Ardi kelihatan masih jomblo. Jarang sekali dia bercerita soal perempuan. Ardi lebih suka jadi pendengar yang baik.

"Assalamualaikum, sudah sholatnya Fit,"

"Walaikum Salam, maaf lama ya. Tadi jama'ah sama bapak, ibu dan adik,"

"Maaf ya fit, kamu aku ganggu lagi. Di Lumajang aku baru punya teman satu, kalau nanti nambah yang kamu,"

"Ah masak,"

"Sumpah deh,"

"Bohong kamu,"

"Astafirullah, aku disini nginep dirumah teman ikut lebaran, mungkin H-2 lebaran sudah balik ke Surabaya,"

"Kok cepet banget,"

"Iya, pokoknya sebelum aku balik, aku ingin ketemu kamu?"

"Ngapai ketemu aku,"

"Ya kenalanlah Fit, bantuin aku dong,"

"Ya udah, kalau mau ketemuan nanti aku ajak teman,"

"Gak apa-apa,"

Aku begitu senangnya. Fitri mau diajak ketemuan. Saya yakin, kalau niat baik pasti Allah akan mengijinkannya.

*Cerpen Ramadhan Menyambut Idul Fitri
*Ayo ikuti terus cerita selanjutnya

Post a Comment

0 Comments