Recents in Beach

header ads

Tradisi Ketupat Dilupakan Kalangan Millenial



Lebaran ke 7 sebentar lagi. Dikampungku di Desa Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto yang didominasi masyarakat berbahasa madura dikenal dengan sebutan "Telasan Pettuk". Ada tradisi syukuran atau selametan dengan membuatan kupatan dan lontong. 

Tradisi turun temurun ini sudah berlangsung lama. Entah dimulai kapan, aku sendiri tidak tahu. Namun, dari keterangan kakek dan nenekku sebagai bentuk rasa syukur telah diberi rejeki hasil panen oleh Allah SWT. 

Kupatan sendiri terbuat dari janur kuning yang dianyam dengan tangan kosong. Kemudian, kupat diisi beras yang sudah direndam air semalam suntuk. Usai diisi beras kupat hasil olah tangan, kemudian direbus dengan air pada wadah "Sablukan". 

Sekitar satu jam direbus dan dikukus. Kemudian didinginkan dengan cara digantung pada bambu seperti menjemur baju didalam dapur atau dikenal "Pawon". Kupat berisi beras bisa dinikmati opor atau sayur ayam dengan bumbu merah. Nikmatnya luar biasa.

Membuat Kupat Tradisi

Membuat kupat dengan menganyam menggunakan tangan sebuah keahlian dan ketrampilan diturun temurunkan oleh mbah-mbah ke anak dan cucunya. Saya akan bercerita tentang awal membuat anyaman kupat dari janur. 

Saya teringat saat sekolah diniyah di Pondok Pesantren Bustanul Ulum yang diasuhi oleh KH. Toyyib, tak jauh dari rumah setiap sore. Waktu itu, Ustadku membawa daun kelapa bukan sudah disebut janur. Beliau meminta para santri untuk membuat anyaman kupat.

Saya yang masih berumur 8 tahun bersama teman-teman kaget. Karena belum pernah diajari dan hanya menjadi penonton saat Bapak Ibu membuatnya. Ustad meminta kami membuat dengan cara memberi contoh. 

Kami selaku santri sangat kikuk dan jemari tangan masih kaku. Pasalnya, menganyam bukan pekerjaan mudah dan butuh latihan serius. Saat itu, diminta membuat dan bila mampu bisa pulang dulu. Hal ini tentu membuat, kami sebagai santri kelimpungan. Ustad dengan telaten mengajari, tapi dasar saya tidak mudah membuat. Ternyata menyebabkan, janur yang sudah menguning kerap robek. 

Saya ingat hal itu, harus pulang paling belakangan. Lantaran tidak mudah membuat kupat dengan waktu ngaji hanya 2 jam mulai jam 14.00 WIB - 16.00 WIB. Akhirnya, saya harus pulang menjelang magrib untuk bisa membuat anyaman kupat. Itupun dibantu kakak santri di sekolah diniyah. 

Gara-gara kejadian itu, saya meminta bapak untuk mengajari. Hal itu saya ceritakan usai pulang ngaji diniyah, karena sore menjelang petang harus berangkat ngaji ke langgar Kyai Kamsu. Pulang ngaji, saya harus diprivat, khawatir esok harinya ditagih membuat kembali. Beruntungnya, ketelatenan Bapak, saya bisa membuat kupat jenis Duduk dalam kata madura "Tojuk". 

Benar saja, esok harinya. Usai ngaji kitab, kita para santari minta membuat kupat sebelum liburan bulan puasa. Alhamdulillah, dengan cekatan bisa menyelesaikan membuat anyaman kupat. Akhirnya bisa pulang dulu, dibanding teman-teman. 

Kupat Ditinggal Millenial

Didapur belakang, ada tumpukan kupat yang sudah siap diisi beras. Saya bertanya,   siapa yang membuat. 

"Ya belilah, ngapain capek2 buat," ujarnya. 

"Lha, khan bisa buat," 

"Janurnya mahal, siapa yang mau buat,"

"Khan aku,"

"Gak usah, lama dan gak telaten," jelasnya. 

Kenapa sekarang kupat dijual belikan dalam bentuk jadi. Dikarenakan, sudah tidak ada lagi banyak orang yang bisa naik pohon kelapa ambil janur. Adapun yang nekat naik janur, saat memotongnya bisa menyebabkan pohon kelapa tidak mampu tumbuh dengan baik.

Selain langka para pengambil janur, pohon kelapa yang ditanam juga semakin sedikit. Karena, sudah tidak banyak orang kampung menanam kelapa disawah dan tegalan. Apalagi, sejak sebagian orang beralih menanam pohon sengon lebih ekonomis. Sengon juga menyebabkan pohon kelapa tidak tumbuh dan berbuah kelapa dengan baik. Janur kualitas baik juga tidak bisa dihasilkan. 

Hal yang menyebabkan kupat bukan sebuah ketrampilan. Banyak orang tua era millenial tidak mau mewariskan keahlian menganyam. Akibatnya dari kemalasan membuatnya. 

Bisnis anyaman kupat jelang lebaran 7 menjamur diberbagai pasar tradisional. Apalagi masyarakat perkotaan lebih suka membeli kupat yang sudah matang dan siap disantap dengan sayuran bersantan dari ayam dan daging.

Apakah  tradisi kupatan akan punah dikala anak muda dikalangan millenial sudah enggan menganyam atau melestarikan diera serban cepat ini. Apalagi dikala para orang tua millenial tidak lagi mau mewarisi pohon kepala untuk anak cucunya. Kupatan akan musnah dan menjadi barang langka. Ketupat adalah ciri khas akulturasi budaya jawa islam yang perlu dilestarikan sebagai peradaban besar bangsa Indonesia. 

Post a Comment

0 Comments