Recents in Beach

header ads

Orbituari : Pak Sus Sang Birokrat Gila Bola Berpulang

Foto Almarhum Pak Susiyanto Semasa Hidup (Sumber : Facebook)


Sang Birokrat Gila Bola itu Berpulang. Kini Lumajang kehilangan terhadap sosok pejuang olah raga yang mendedikasikan hidupnya ditengah sebagai pengabdi di pemerintahan untuk bola sepak. H. Susiyanto yang saya panggil Pak Sus. Dari dia saya belajar tentang sebuah dedikasi dalam mengabdikan diri untuk sebuah hobi dibalut dalam kewajiban sebagai utusan negara.

Susiyanto adalah warga Kraksan - Probolinggo. Dia lahir dari keluarga biasa yang menganggap penting pendidikan. Sebagai anak pertama dari keluarga petani dan pedagang pas-pasan. Dia rela sekolah dari sebuah desa di selatan Kecamatan Kraksan demi mengubah hidupnya.

Hingga akhirnya dia menjadi Pegawai Negeri Sipil dengan gaji pas-pasan. Meski tidak cukup untuk membiaya dirinya sendiri, tapi tak lupa menyisakan membantu orang tua dan sekolah adik-adiknya. Hingga akhirnya menikah dengan seorang perempuan yang masih kerabatnya dari Lumajang.

Beberapa tahun mengabdi di Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan mempunyai anak perempuan terus membantu sang ibu dan adik-adiknya. Hingga suatu ketika, ada peristiwa yang membuat Pak Sus harus pindah ke Lumajang dan tinggal dirumah besar sang istri di Desa Kaliwungu Kecamatan Tempeh.

Birokrat Gibol

Hidup sederhana dan mengabdi di Pemerintah Lumajang harus ditempuh dari Tempeh ke pusat Kota. Di Lumajanglah dimulai bergaul dengan para pecinta sepak bola. Saking cinta pada olahraga sepak, setiap sore dihabiskan untuk menonton bola di Stadion Karya Jaya (Nama Stadion Semeru dulu) maupun turnamen sepak bola.

Pak Sus semakin mencintai bola sebagai bagian pengabdian lain pada bangsa ini, selain di pemeritahan saat menjabat di Satpol PP hingga sebagai Camat di Ranuyoso. Meskipun menjabat sebagai camat di wilayah paling utara Lumajang, tak membuat dirinya harus meninggalkan sepak bola sebagai salah satu pengabdianya. Padahal saa itu, oleh Hamidah Fauzi (Istri dari Bupati Achmad Fauzi) mendapat perintah khusus untuk menjadikan Pagar Ramah Lingkungan (Paraling) tetap asri dan hijau.

"Pesan Bu Fauzi hanya paraling harus bagus, karena Ranuyoso wajah Lumajang," cerita Almarhum Pak Sus pada penulis.

Dia pernah ditegur oleh Hamidah Fauzi lantaran Paraling tidak rapi dan ditubuhi hama kuning yang bisa mematikan pagar tumbuhan "Maribang (sebutan orang madura)". Melalui pendekatan yang baik dengan para perangkat desa, kades dan tokoh masyarakat, dilakukan kerja bakti.Jejak sisa kejayaan Paraling Ranuyoso bisa dilihat meski sudah tak jadi program penting Lumajang.

Didunia sepak bola Pak Sus pernah menjadi salah satu pejabat Pemkab yang ditugasi mengkoordinir camat-camat dalam mendukung Klub Persatuan Sepakbola Indonesia Lumajang (PSIL). Diantaranya dalam membolisasi massa dan urunan telur ayam untuk gizi para pemain.

"Waktu itu para zamat diminta pak Fauzi urunan telur agar pemain PSIL prima, zaman perserikatan," cerita dia.

Di pengurusan PSIL Pak Sus adalah sekretaris yang cekatan. Bahkan organisasi PSIL berganti ke Assosiasi PSSI Lumajang diawal-awal menjadi Exco. Padahal saat itu menjadi Camat Sukodono. Tapi hobi sepak bola dan membina itu, membuat dia selalu hadir disetiap pertandingan PSIL di Stadion Semeru. Bukan sendirian tetapi mengajak anak buahnya dengan dibelikan tiket.

PSIL saat bertandang ke markas lawan dan kerap dicurangi wasit. Pak Sus tak segan berguman dan kesal sendiri. Dia pernah memaki wasit, karena saking kesalnya. "Aku pernah ngamuk, tak dungakno ketabrak bus. Iling iku aku langsung Istighfar mas," cerita dia.

Kesibukan menjadi Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat (DPM) hingga menjadi Assisten Tata Praja Sekda, sedikit mengurangi aktif di dunia sepak bola. Penataan PNS untuk meningkat kinerja serta kaderisasi dalam jabatan juga dipikirkan. Dalam setahun terakhire, Pak Sus memilih fokus di Pemerintahan. Sering duduk dibelakang meja, menghadiri dan memimpin rapat penting tentang kebijakan Lumajang kedepannya.

Pecinta Kuliner

Pak Sus ini adalah seorang pecinta kuliner sejati. Saat mendampingi PSIL bermain tandang keluar kota. Dia selalu mencari makanan khas disebuah kota yang disinggahi PSIL berlaga. Dalam mendukung PSIL tidak pernah sendirian melainkan mengajak para anak buah dan mantan anak buahnya.

Kebuntuan komunikasi pada insan sepakbola dengan pemerintah dalam soal dana bantuan. Pak Sus menjadi salah satu penghubung dan pembicara, karena tahu betul kendala yang dihadapi PSIL untuk bisa berbicara dikompetisi Nasional. Sehingga hubungan insan sepak bola Lumajang dengan Pemkab selalu harmonis, kuncinya komunikasi.

"Kabeh lek omongke pasti bisa, tugasnya pemerintah melayani." ungkap dia sejak itu.

Penulis ingat, saat itu diajak satu mobil dari Tuban menuju Lumajang oleh Pak Sus. Ternyata, teman-temanya diajak Away Day adalah PNS yang unik dan lucu-lucu. Meski seorang pimpinan, Pak Sus menyetir sendiri. Namun para kernet dan teman-temanya (merupakan bawahan) selalu bercerita tanpa henti. Bukan hanya membahas bola, tetapi tentang mengatasi persoalan dalam pelayanan masyarakat tetapi disertai guyonan khas Lumajangan.

"Kalau Pak Sus gak suka dengarkan musik di mobil, tetapi suka nanggap anak buahnya seperti ludruk," ujar mantan anak buah pak Sus asal Ranuyoso dengan tertawa, waktu itu.

Pak Sus sosok orang tak pernah meminta jabatan pada pimpinan diatasnya. Dia memilih bekerja dengan baik dan melayani masyarakat secara maksimal. Menjadi camat Ranuyoso itu terjadi karena sang istri dipaksa oleh Hamidah Fauzi dan diminta hadir saat pelantikan.

Ketika menjadi Camat Sukodono, saat bekerja penuh kekeluargaan. Bahkan di kantor kecamatan, Pak Sus meminta stafnya membuat makan siang dan disantap bersama-sama. Begitu dekatnya dengan anak buahnya, Pak Sus tak pernah mendapat omongan jelek tentangnya.

Nyamannya menjabat Camat, Pak Sus kemudian dipindah menjadi Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat (DPM) oleh Bupati Sjahrazad Masdar. Diapun harus pindah lagi disaat rasa nyaman sebagai pelayanan di kecamatan bekas Kerajaan Lamajang itu. Disana dia mampu dan cepat menjalin komunikasi dalam menyelesaikan program pemerintah.

Pak Sus mengajarkan sebuah dedikasi hidup terhadap apa yang disukai dan diamanahkan. Dia selalu dengan jujur menyampaikan terhadap pimpinan bila pekerjaanya tidak mampu diselesaikan. Hal itu bila semua cara dilakukan dengan melihat dari semua sisi.

Penulis ingat, Pak Sus saat pensiun hanya ingin hidup sebagi petani. Dia ingin memiliki sebuah gerdu disawahnya dan menanam sayur-sayuran. Bahkan ingin menjadi kakek yang baik bagi cucu-cucunya. Sang cucu sering diajak nonton bola dan diantar sekolah sendiri dengan mobil dinasnya saat bekerja.

Kata Pak Sus, Bekerjalah dengan hati untuk keluarga dan Tuhan-Mu. Insyallah hidupmu dipenuhi keberkahan. Selamat Jalan Pak Sus. Penulis sangat bangga pernah bertemu, berkenalan, bercengkrama dan berinteraksi langsung tentang pelajaran kehidupan. (har)

Post a Comment

3 Comments

  1. Maaf sekedar menambahkan dl Bapak Susiyanto, SH juga pernah menjabat CAMAT SENDURO.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bapak Susiyanto orangnya baik banget, waktu menjabat camat senduro setiap pagi selalu mengajak staf nya untuk sarapan bareng. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosanya dan menerima semua amal kebaikannya. Aamiin. 😭😭

      Delete
  2. Bapak yg hebat.. Yg sabar dan semangat mendidik putrinya yg ABK (tunarungu)
    Bapak yg ramah dan peduli pada disabilitas,
    Selamat Jalan Pak Sus..
    Sabar ikhlas buat istri dan putri nya (mbk. Iis)
    Semangat. .!! 💪💪

    ReplyDelete