Recents in Beach

header ads

Dejavu di Hari Ayah

Atas: Bapak, Aku dan Kakak
Bawah : Ibu


Hari Ayah. Aku baru tahu. Saat seorang teman memposting hari jadi laki-laki memiliki anak di media sosial.

Sudah 15 tahun. Bapak berpulang. Waktu itu, aku masuk kuliah semester satu. Beban begitu berat, karena menempuh pendidikan tanpa seorang kepala keluarga. Beruntungnya, aku bekerja sebagai desain grafis.

Ibu penjual kerupuk di pasar desa tentangga harus menghidupi sendiri. Bapak seorang perantau di bumi Ronggolawe sebagai penjual kue terangbulan mini saat musim tanam dimulai. Cukuplah untuk kebutuhan makan, biaya bertani dua petak dan lainnya.

Bapakku bernama Sudar. Dia lahir dari seorang petani totok asal Bulaktal, Desa Yosowilangun Kidul Kecamatan Yosowilanggun. Orang tuanya ingin sekali memiliki anak berpendidikan.  Bapak disekolahkan ke kecamatan meski ditempuh jalan kaki. Kemudian dilanjutkan mondok ke Bangil - Pasuruan dan Leces - Probolinggo.

Saat menjadi guru tugas di Langgar Nyai Halik, Desa Dawuhan Wetan Kecamatan Jatiroto (dulu,red). Bapak bertemu dengan ibu sebagai santriwati. Oleh Nyai Halik, bapak dijodohkan dengan ibuku.

Dari perjodohkan itulah, Bapak harus tinggal dirumah mertuanya di Banyuputih Kidul. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dia bertani dan berdagang.

Bapak sosok terbuka dalam banyak hal. Ibuku seorang pemain voli tidak pernah dilarang berkegiatan meski sudah memiliki dua orang anak. Saya ingat betul, bagaimana bapak mengantar ibu untuk laga uji coba dan pertandingan resmi pakai motor.

Memiliki latar belakang pendidikan pesantren, tak membuatnya kolot dalam memberikan kebebasan anak sekolah. Bapak seorang santri kompromis meskipun dulu aktivis Ansor. Berada ditengah keluarga mertua dalam pandangan politik Nasionalis tak membuatnya rendah diri.

Pengetahuan yang luas, Bapak sangat pandai bergaul. Sikap luwes dalam berbagi ilmu didapat melalui kitab di pesantren tak membuatnya kaku. Semua ditakar, dikaji dan dipahami dengan kekinian ditengah masyarakat.

"Semua orang tahu mana salah dan benar, tetapi manusia dinilai dari tindakannya. Hati tidak bisa dibohongi," ungkapnya.

Bapak bukan sosok manusia yang mudah terpengaruh oleh lingkungan. Sikap tenang dan selalu waspada ditunjukan dengan rendah hati. Dia selalu mengutamakan pendidikan anaknya dibanding kebutuhan dirinya sendiri.

Dia pernah tak membeli baju dilebaran saat hasil panen gagal. Meski mengenakan baju dan sarung lama, tak membuatnya harus berdiam diri. Sikap apa adanya mudah diterima oleh keluarga dan sahabatnya.

"Orang berilmu tidak pernah kagetan. Karena memiliki sudut pandang banyak hal, gak sempit," jelasnya.

Oh ya, bapak bukan sosok keras dan pemarah. Saya ingat, dia marah dan nyaris memukulku dengan kursi kecil dari kayu. Waktu itu, bapak membelikanku motor dari hasil panen kebun cabe. Waktu itu, saya membawa motor untuk bertandang kerumah seorang kawan di desa tetangga. Saking asyiknya ngobrol, jam sudah menunjukkan jam 11 malam.

Usut punya usut, sikap marah bapak dikarenakan rasa khawatir luar biasa. Ibuku terus mengerutu mengenai aku belum pulang hingga tengah malam. Bapak diminta mencariku dan tidak menemukan keberadaan. Karena takut ada apa-apa itulah dan kekhawatiran luar biasa membuat naik darah.

Setiba dirumah bersama motor. Bapak sudah diteras. Dia meminta aku masuk dan menuntun motor. Ibu yang belum tidur langsung memarahiku. Kemudian bapak dengan nada keras membentakku dan mengangkat kursi kayu. Bulu kuduku merinding. Baru kali ini, aku tahu seorang bapak marah.

Sejak itu, aku mulai berpikir ulang untuk bawa motor pulang malam. Sejak itu, aku putuskan keluar rumah naik sepeda onthel untuk main.

Bapak, banyak sekali wejanganmu ku ingat. Pesanmu soal ilmu, hubungan antar manusia dan keluarga terus ku pegang teguh. Meskipun dirimu hanya sebentar menemaniku di dunia ini. Namun, banyak sekali manfaat bagiku. Saya selalu mendo'akanmu dan menjaga ibu. Alfateha.

Post a Comment

0 Comments